Dewan Pers

Dark/Light Mode

Dukung Pemulihan Pariwisata Bali, IMA Gelar Diskusi Publik

Selasa, 15 Maret 2022 22:48 WIB
Diskusi publik dengan bertema Bali Kembali Ke Masa Depan: From Pandemic to Endemic in Hospitality Industry, Selasa (15/3). (Fot: Ist)
Diskusi publik dengan bertema Bali Kembali Ke Masa Depan: From Pandemic to Endemic in Hospitality Industry, Selasa (15/3). (Fot: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus Covid-19 terus melandai. Sejumlah aktivitas masyarakat pun mulai mengalami pelonggaran. Hal ini berdampak menggeliatnya kembali industri pariwisata di Indonesia, khususnya Bali.

Meski begitu, pemulihan industri pariwisata perlu didukung oleh berbagai pihak mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat. Seperti yang dilakukan Indonesia Marketing Association (IMA). Sebagai bentuk dukungan pemulihan pariwisata di Bali, IMA menggelar diskusi publik dengan bertema “Bali Kembali Ke Masa Depan: From Pandemic to Endemic in Hospitality Industry”, Selasa (15/3).

Suparno Djasmin, President IMA periode 2021-2023 mengatakan, peranan IMA dalam mendukung pemulihan sektor ekonomi pariwisata di Bali dengan berjalannya diskusi publik kali ini. “Bali dalam konteks marketing merupakan suatu brand. Kami di IMA ingin turut berperan dalam melestarikan brand Bali ini dengan pengetahuan, keahlian dan jaringan yang dimiliki para anggota IMA di momentum recovery Bali," kata Suparno.

“Kami pun yakin bahwa melalui kegiatan kegiatan diskusi publik yang kita lakukan hari ini, seluruh elemen masyarakat dan media akan semakin terekspos tentang kesiapan Bali untuk kembali menjadi tujuan utama destinasi bagi wisatawan mancanegara dan domestik,” sambungnya.

Berita Terkait : Ditutup Bamsoet, Ini Para Pemenang Kejuaraan Balap Mobil ISSOM Seri-1

Dijelaskan Suparno, sebelum pandemi Covid-19, sektor pariwisata berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 4,97 persen pada 2019 namun menurun menjadi 4,2 persen pada 2021. Dan pada 2019, pariwisata Bali mampu menyumbang devisa sebesar Rp 89 triliun atau sebesar 30 persen dari devisa pariwisata di Indonesia.

Akibat pandemi, turis mancanegara yang berkunjung ke Bali pun merosot tajam. Di mana pada 2019 ada 6,2 juta pengunjung menjadi 1 juta pada 2020, dan masih sangat rendah di 2021.

Sejak menurunnya kasus angka Covid-19, Bali siap menyambut kembali kegiatan pariwisata yang menjadi pemasok utama perekonomian mereka. Tidak hanya wisatawan domestik, pariwisata internasional juga kembali dibuka mengingat sudah ada beberapa kegiatan internasional yang akan berlangsung di Bali dan dihadiri oleh berbagai negara. Seperti, penyelenggaran Forum G-20.

"Pemberlakukan kebijakan tanpa karantina dan Visa on arrival (VoA) bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali juga menjadi bukti awal yang baik bagi pulihnya industri pariwisata," tegasnya.

Berita Terkait : Dukung Likupang Jadi Gerbang Wisata Global, PLN Kebut Pembangunan Infrastruktur Listrik

Kebijakan VoA tersebut berlaku sejak Maret ini dan berlaku untuk wisatawan dari 23 negara, yaitu: Australia, Amerika Serikat, Belanda, Brunei, Filipina, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kamboja, Kanada, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Myanmar, Prancis, Qatar, Selandia Baru, Singapura, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, dan Vietnam.

Pemerintah Provinsi Bali mendukung pariwisata Bali melalui kebijakan bebas karantina dan Visa on Arrival yang diterapkan untuk wisatawan mancanegara masuk ke Bali. Sebab, Bali sudah lebih dari siap menerima wisatawan.

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace berharap, agar kebijakan tersebut dapat dijalankan baik oleh para pelaku pariwisata. “Meski wisatawan sedikit, hotel-hotel juga harus menyiapkan kamar jika ada wisatawan yang positif. Kalau yang karantina di rumah sakit bagi yang berisiko tinggi. Yang tidak terlalu beresiko kita masukkan di hotel,” katanya.

Pemberian vaksinasi kepada masyarakat Bali yang sudah mencapai 70 persen juga ikut menjadi aspek pendukung berjalannya rencana ini. Pembukaan kembali Bali sebagai destinasi wisata juga bertepatan dengan berlangsungnya KTT G-20 yang dilaksanakan di Bali. “Ketiga fokus yang menjadi tema KTT G-20 yaitu green economy, digital economy, dan transformasi kesehatan sejalan dengan transformasi yang dijalankan Pemerintah Bali,” tuturnya.

Berita Terkait : Zulhas Nggak Jelas

Sementara Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno menyampaikan, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk kembali mempromosikan pariwisata Bali. “Kami memiliki tagline ‘It’s time for Bali’ untuk mendukung pariwisata Bali tidak hanya dari kuantitas tapi juga kualitas,” ujar Sandiaga yang juga menjadi pembicara dalam webinar ini.

Co-Founder IMA Hermawan Kartajaya menyampaikan apresiasi atas antusias yang ditunjukkan masyarakat dalam upaya pemulihan pariwisata di Indonesia, terkhusus Bali. “Siapa yang tidak rindu dengan Bali? Dengan semakin longgarnya peraturan kunjungan wisatawan, kita berharap Bali dapat menjadi lebih baik. Kita juga perlu untuk memperbarui konsep wisata yang sesuai dengan Generasi Z dengan teknologi serta mendukung penerapan Sustainable Development Goals (SDG) dalam pembangunan pariwisata sehingga kita dapat terus menikmati keindahan Bali,” katanya.

Hermawan menyebut, jika Bali dirindukan bukan karena destinasinya tapi juga karena warganya yang terbuka. "Pantai yang indah itu banyak, bukan hanya ada di Bali. Namun Bali mampu menarik minat wisatawan karena masyarakatnya yang terkenal open minded," cetusnya. [DRS]