Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kembangin Mobil Hybrid, Toyota Siapkan Investasi Rp 28,3 Triliun

Kamis, 27 Juni 2019 21:35 WIB
Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto berjabat tangan dengan Ministry of Economy, Trade, and Investment (METI) Jepang, Hiroshige Seko seusai melakukan penandatanganan framework document di Osaka, Jepang, Kamis (27/6). (Foto: Kemenperin)
Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto berjabat tangan dengan Ministry of Economy, Trade, and Investment (METI) Jepang, Hiroshige Seko seusai melakukan penandatanganan framework document di Osaka, Jepang, Kamis (27/6). (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Toyota siap menggelontorkan investasi sebesar Rp 28,3 triliun selama empat tahun ke depan untuk pengembangan mobil listrik hybrid di Indonesia.

Rencana Toyota tersebut diungkapkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai melakukan One on One Meeting dengan President Toyota Motor Corp Akio Toyoda di Jepang, Kamis (27/6).  

“Rencana investasi Toyota berikutnya terkait dengan kebijakan pemerintah yang baru, yaitu yang mendorong pengembangan electric vehicle,” ujarnya dalam keterangannya.

Berita Terkait : Jelang Musim Haji, Mandiri Syariah Siapkan Penukaran Riyal Sampai Rp 377,2 M

Soal mobil listrik akan tercantum dalam dua Peraturan Pemerintah (PP). Pertama, mengenai percepatan kendaraan berbasis elektrik, dan yang kedua adalah kegiatan terkait dengan PPnBM untuk industri berbasis elektrik, yang di dalamnya termasuk hybrid. “PPnBM itu akan menjadi nol kalau berbasis kepada elektrik dan emisinya paling rendah,” ungkapnya.  

Airlangga mengatakan, Kementerian Perindustrian bersama salah satu produsen otomotif Jepang, telah melakukan studi pengembangan dan penggunaan kendaraan listrik. Kegiatan ini juga melibatkan enam perguruan tinggi di Indonesia.  

“Dari hasil studi itu terlihat hybrid menjadi salah satu alternatif karena well to wheel, di mana dilihat juga ekosistem pembangkitan energi, mulai dari primary energy sampai kepada penggerak otomotif,” terangnya. Kemenperin sendiri sudah mendorong pengembangan teknologi kendaraan listrik di dalam negeri, termasuk mengenai pembuatan fuel cell.

Berita Terkait : KBN Dinilai Tak Ramah Investor

Airlangga menegaskan, pemerintah Indonesia akan segera mengeluarkan paket kebijakan baru untuk mendukung dunia usaha, dengan memberikan fasilitas insentif fiskal berupa tax holiday, tax allowance, serta super deduction tax untuk vokasi dan inovasi.

Ministry of Economy, Trade, and Investment (METI) Jepang, Hiroshige Seko mengatakan, salah satu kebijakan otomotif ke depan yang penting adalah pengembangan kendaraan berbasis baterai atau listrik. Sejauh ini, Jepang telah melakukan kebijakan yang paralel untuk basis elektrik (EV) dan hybrid.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia dan Jepang sepakat untuk terus meningkatkan kerja sama yang komprehensif dalam upaya pengembangan di sektor industri manufaktur. Langkah strategis ini dinilai akan mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kedua negara.  

Berita Terkait : Indonesia-Jepang Serius Bahas Investasi Energi Baru Terbarukan

Kolaborasi bilateral ini dituangkan melalui penandatanganan framework document antara Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dengan Ministry of Economy, Trade, and Investment (METI) Jepang, Hiroshige Seko di Osaka, Jepang, Kamis (27/6) waktu setempat. Sinergi ini merupakan implementasi dari proyek The New Manufacturing Industry Development Center (New MIDEC) di bawah kerangka kerja sama Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA).

  “Dengan adanya kerja sama New MIDEC ini bisa mengkompensasikan defisit perdagangan antara Indonesia dan Jepang dalam bentuk capacity building yang sifatnya dasar untuk sektor manufaktur. Misalnya, kapasitas untuk teknik pengelasan atau skill lainnya yang terkait di industri otomotif,” papar Menperin.  

Kegiatan New MIDEC meliputi enam sektor, yaitu industri otomotif, elektronik, tekstil, makanan minuman, kimia serta logam. Selain itu juga terdapat tujuh lintas sektor, yaitu metal working, mold & dies (tooling), welding, SME development, export and investment promotion, green industry (energy, waste, emission), serta industry 4.0 (digitalization, automation, policy reforms). [DIT]