Dewan Pers

Dark/Light Mode

SDG Bond Jadi Solusi Pembiayaan SDGs Indonesia

Kamis, 16 Juni 2022 20:27 WIB
Diskusi SDG Bond. (Foto: Ist)
Diskusi SDG Bond. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) membutuhkan investasi keuangan yang sangat besar. Begitu juga dalam inovasi serta strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Indonesia bersiap untuk menerbitkan obligasi tematik, yaitu SDG Bond, kedua pada tahun 2022. Penerbitan ini dilandaskan kesuksesan Indonesia tahun lalu sebagai negara pertama di kawasan Asia Tenggara dan ketiga di dunia untuk menerbitkan SDG Bond di pasar global.

Pada tahun 2021, SDG Bond Indonesia berhasil mengumpulkan 500 juta Euro dan telah membiayai proyek-proyek strategis yang meningkatkan kualitas hidup banyak orang Indonesia pada sektor-sektor yang terkait dengan kesehatan, pendidikan, dan akses telekomunikasi.

Resident Coordinator PBB di Indonesia, Valerie Julliand mengatakan pem,anfaatan sumber pembiayaan inovatif adalah kunci untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan yang menghambat negara-negara berkembang untuk mencapai SDGs. Pembiayaannya diperkirakan sekitar 3,7 triliun dolar AS per tahun.

Berita Terkait : Dongkrak Motivasi, Pebulutangkis Cilik Diundang Nonton Indonesia Open

“Memanfaatkan instrumen pembiayaan yang inovatif dan berkelanjutan adalah salah satu jawaban atas tantangan pembiayaan yang besar. Keinginan pasar untuk instrumen keuangan berkelanjutan seperti obligasi sudah mapan, dengan pasar obligasi hijau, sosial, dan keberlanjutan melampaui 1 triliun dolar AS pada 2021 saja,” ujarnya.

Resident Representative UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura meminta, seluruh pemangku kepentingan untuk memanfaatkan momentum SDG Bond Indonesia 2021.

“Kisah sukses kita tidak boleh berhenti di sini. UNDP akan melanjutkannya dengan berfokus pada peningkatan dampak dari SDG Bond dan dengan melihat lebih dekat peran instrumental yang dapat dimainkan oleh SDG Bond dalam menarik investasi baru guna mempromosikan agenda keberlanjutan,” kata Shimomura.

Asisten Menteri bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal, Kementerian Keuangan, Suminto Sastrosuwito mengatakan, negara tidak mungkin hanya mengandalkan anggaran pemerintah untuk memperkecil kesenjangan ini. Sehingga diperlukan peran serta swasta.

Berita Terkait : Vaksin Perdana PMK Telah Tiba Di Indonesia

“Selama beberapa tahun terakhir, instrumen pembiayaan inovatif telah dikembangkan di pasar dalam rangka percepatan pencapaian SDGs, salah satunya adalah SDG Bond,” ujarnya.

Keberhasilan peluncuran SDG Bond Indonesia di pasar global tahun lalu, dikombinasikan dengan visibilitas global yang Indonesia dapatkan sebagai Presiden G20 tahun 2022, memberikan peluang strategis untuk mendorong negara lain mengembangkan skema pembiayaan inovatif untuk SDGs. Penerbitan SDG Bonds dan obligasi sejenis, seperti green bond dan sustainability bond sangat penting untuk mengikuti perkembangan tren pasar modal terkini.

Direktur Surat Utang Negara, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Deni Ridwan mencatat, investor semakin tertarik dengan proyek-proyek yang sejalan dengan SDGs.

“Satu catatan kunci dari investor update meeting yang kami selenggarakan sebelumnya adalah bahwa hampir semua investor memiliki minat dan berencana untuk meningkatkan kepemilikan surat (utang) berkenaan dengan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST),” ujarnya.

Berita Terkait : Puan: DPR Dorong Cuti Ibu Hamil Jadi 6 Bulan Demi Generasi Emas Indonesia

Pengukuran yang jelas sangat penting karena investor swasta juga tertarik untuk melacak dampak proyek SDG Bond. “Penerbit harus memastikan obligasi itu bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini tidak akan mudah, tetapi poin utamanya terletak pada transparansi dan pengungkapan informasi,” kata Yoshiyuki Arima, Lead Financial Officer, Capital Markets and Investments-Treasury, World Bank.

Belissa Rojas, Impact Measurement and Management Lead di UNDP, mengatakan bahwa transparansi sangat penting untuk meyakinkan investor bahwa investasi mereka ke dalam SDG Bond memberikan dampak yang nyata dan bertentangan dengan sekadar greenwashing.

Cheryl Tay, Manager of Sustainable Corporate Solutions (Asia Pacific), Sustainalytics dan Martin Prisé, Sustainable Bonds Analyst, Debt Capital Market Asia-Pasific, HSBC mencatat bahwa matriks dampak sekarang digunakan untuk mendukung pelaporan setiap proyek.

Scenaider Siahaan, Deputi Menteri Pendanaan Pembangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) mengatakan, transparansi adalah kunci keberhasilan pembiayaan SDGs.