Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Gandeng Petani, Pabrik Glenmore Kerek Produksi Gula Konsumsi

Selasa, 26 Juli 2022 12:16 WIB
Pabrik Gula PT Industri Gula Glenmore (PT IGG). (Foto: Istimewa)
Pabrik Gula PT Industri Gula Glenmore (PT IGG). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III berkomitmen meningkatkan pasokan Gula Kristal Putih (GKP) dalam negeri. PTPN Group melalui Pabrik Gula PT Industri Gula Glenmore (PT IGG) telah menjalankan proses penggilingan tebu, mulai 9 Juni 2022.

Per 21 Juli 2022, PT IGG telah menyerap lebih dari 199 ribu tebu hasil panen yang bersumber dari lahan HGU PT Perkebunan Nusantara XII dan Petani Tebu Rakyat (PTR).

Dari jumlah tersebut, PT IGG mampu menghasilkan GKP 13.100 ton. Perbaikan produktivitas tanaman tebu di Pabrik Glenmore meningkat secara signifikan. Per Juli 2022, realisasi produktivitas tebu sendiri (TS) mencapai 75 ton per hektare (ha), meningkat 16 persen dibandingkan tahun 2021.

"Musim giling tahun ini sangat menantang, karena target penggilingan gula naik 124 persen dibandingkan 2021. Namun, kami optimistis dapat menggiling 887 ribu ton, dengan hasil produksi 71 ribu ton GKP dengan kualitas terbaik," cetus Direktur PT Industri Gula Glenmore Yus Martin di Banyuwangi, Jawa Timur dalam keterangannya Selasa (26/7).

Dalam jangka waktu 41 hari, dari 199.140 ton tebu yang digiling, mayoritas berasal dari wilayah Banyuwangi, Jember dan sekitarnya. Bahan Baku Tebu (BBT) diperoleh dari areal PT Perkebunan Nusantara XII sebesar 90 persen, sisanya diperoleh dari areal tebu rakyat.

Baca juga : Panen Bawang Merah Di Berbagai Sentra Produksi, Harga Bergerak Normal

Keseluruhan produksi gula konsumsi bermanfaat untuk mendukung dan memenuhi program pemerintah untuk merealisasikan swasembada gula nasional yang dicanangkan oleh pemerintah.

Di sisi lain, PT IGG dihadapkan pada tantangan pada proses budidaya tebu yaitu adanya Badai La Nina. Kondisi ini akan berdampak pada tingginya curah hujan, sehingga berdampak pada turunnya produktivitas hingga gagal panen.

Terkait hal ini, PT IGG bersama PTPN XII akan melakukan langkah antisipasi dan berupaya meningkatkan produktivitas tebu. PT IGG sebagai anak usaha PTPN XII, akan melakukan perbaikan sarana dan prasarana, baik di sektor on farm maupun off farm.

Perbaikan tersebut berguna untuk menjaga konsistensi pasokan tebu, peningkatan keandalan pabrik, serta operational excellence di setiap proses bisnisnya. Salah satu strategi menjaga produktivitas tebu adalah pengawalan proses Tebang Muat Angkut.

"Kami selalu berupaya agar operasional giling dapat berjalan dengan lancar dengan cara perawatan dari sisi on farm. Serta melakukan perbaikan-perbaikan di berbagai mesin produksi dan pendukung pada saat off season kemarin," kata Yus Martin.

Baca juga : Gandeng Pelni, Zulhas Janji Akan Kirim Migor Besar-besaran Ke Maluku Dan Papua

Ia berharap, operasional giling tahun ini berjalan lancar dan bisa memproduksi gula konsumsi dengan jumlah yang lebih banyak. Hal ini akan meningkatkan kapasitas serapan tebu dari kebun PTPN XII dan petani, dan berujung pada dukungan kinerja PTPN Group kepada pemerintah terkait stabilisasi harga gula di pasar dalam negeri.

Hingga Kamis (21/7), kinerja operasional Pabrik Glenmore cukup menggembirakan. Kualitas produk GKP telah berstandar SNI serta bersertifikat halal. Gula konsumsi Pabrik Glenmore terjamin keamanannya, sehingga menepis kekhawatiran di mata konsumen.  

Setiap musim giling, Pabrik Glenmore melibatkan tenaga kerja pabrik hingga 800 orang. Musim giling turut menciptakan lapangan kerja bagi 5 ribu pekerja tenaga tebang tebu, serta lebih dari 600 pekerja transportasi yang mengoperasikan 600 kendaraan angkutan tebu dan 50 cane grabber.Durasi musim giling berkisar 140 hari.

"Selama musim giling, PT IGG mampu menggerakkan dan menghasilkan dampak lanjutan (multiplier effect) bagi perekonomian warga Banyuwangi dan sekitarnya, dalam bentuk penciptaan lapangan kerja, serta pembelian tebu hasil panen PTR," tambah Yus Martin.

Keberadaan gula sebagai bahan pangan penting menjadikan pabrik gula memiliki peran sentral dalam ekonomi pangan Indonesia. Tidak hanya menjadi industri pengolah hasil panen petani sekitar, tetapi juga berkontribusi secara signifikan terhadap penyerapan tenaga lokal dan membantu percepatan pertumbuhan perekonomian daerah khususnya Banyuwangi. 

Baca juga : Mentan Pastikan Peningkatan Produksi Gula Nasional Terus Dilakukan

Di samping itu, monitoring proses pasokan BBT juga telah didukung oleh teknologi Sistem Informasi Manajemen Pabrik Gula (SIM PG) untuk memastikan kontinuitas pasokan tebu, serta Teknologi Core Sampler juga telah dihadirkan sebagai wujud komitmen transparansi terhadap petani.

"Tidak sedikit petani Banyuwangi sukses dengan bercocok tanam tebu yang sekaligus didukung oleh teknologi pengolahan BBT yang transparan. Tentu hal ini dapat dirasakan langsung dampak ekonominya dalam setiap musim giling PT IGG ini," pungkasnya. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.