Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Jangan Panik Hadapi Resesi, Rencanakan Keuangan Dengan Tepat
Kamis, 27 Oktober 2022 07:49 WIB
Sebelumnya
Lebih jauh, Piter meyakini meskipun sejumlah negara diprediksi mengalami resesi, Indonesia masih bisa bertahan karena fundamental Indonesia masih kuat. Perekonomian nasional tidak sepenuhnya tergantung kepada ekonomi di luar negeri.
Kontribusi ekspor terhadap ekonomi tidak besar atau tidak sampai 20 persen. Indonesia berbeda dengan negara lain, seperti Singapura dan Jepang yang sangat tergantung kepada ekspor. Sehingga ketika ekspor turun maka perekonomian negara itu juga turun.
Selain itu, ekspor Indonesia juga bukan dalam bentuk barang manufaktur. Tetapi sebagian besar dalam bentuk bahan mentah seperti komoditas batu bara. Harga komoditas diperkirakan masih akan tetap tinggi hingga 2023.
Baca juga : DPR: Naikkan Harga Gabah
Konsumsi tahun 2023 juga diperkirakan meningkat menyusul pulihnya mobilitas masyarakat karena pandemi telah mereda. Konsumsi akan menjadi modal besar perekonomian di tahun 2023.
"Jadi dengan konsumsi dan investasi yang pulih, saya meyakini Indonesia akan dapat bertahan di tengah krisis global tahun 2023," tambahnya.
Sejumlah data ekonomi menunjukkan, pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak pandemi berlanjut dan terus menguat. Selama kuartal kedua tahun 2022, ekonomi tumbuh sebesar 5,44 persen (yoy) dan 3,73 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (qoq).
Baca juga : Mendagri Dorong Pemda Tak Ragu Gunakan Instrumen Keuangan APBD Untuk Kendalikan Inflasi
Kinerja ekonomi Indonesia masih di atas negara-negara utama di kawasan. Ekonomi Singapura tumbuh 4,4 persen (yoy) selama kuartal kedua 2022 dan hanya tumbuh 1,5 persen dibandingkan kuartal pertama.
Kemudian, PDB Thailand tumbuh di level 2,5 persen (yoy). Penguatan juga terlihat di sektor keuangan. Dari perbankan, fungsi intermediasi perbankan terus membaik dan mendukung pemulihan ekonomi. Pertumbuhan kredit pada Agustus 2022 mencapai 10,62 persen (yoy).
Dari pasar modal, sejak awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 6,51 persen ytd dan mencapai posisi all time high (rekor tertinggi seanjang sejarah BEI), yaitu pada level 7.318 pada 13 September 2022.
Baca juga : Arkhan Fikri Harus Adaptasi Cuaca Dingin Di Turki
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan, hingga Agustus 2022, jumlah investor pasar modal mencapai 9,54 juta investor. Angka ini naik 27,38 persen dari akhir tahun 2021. Sedangkan, jumlah emiten telah mencapai 810 perusahaan. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya