Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kementerian ESDM Apresiasi Dunia Usaha Dukung Pengembangan EBT

Kamis, 24 November 2022 20:44 WIB
Peresmian PLTS Atap PT Indo Kordsa Tbk, di Bogor, Rabu (23/11). (Foto: ESDM)
Peresmian PLTS Atap PT Indo Kordsa Tbk, di Bogor, Rabu (23/11). (Foto: ESDM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mengapresiasi partisipasi pelaku usaha yang turut mendukung percepatan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. Saat ini, Pemerintah tengah melaksanakan berbagai program akselerasi agar porsi EBT mencapai target 23 persen pada bauran energi nasional tahun 2025 dan terpenuhinya target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Salah satunya adalah program pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap secara masif, baik pada sektor rumah tangga, ekowisata, sektor industri, maupun bangunan komersial dan sosial.

"PLTS Atap merupakan salah satu program yang didorong untuk mengisi gap pencapaian target bauran energi terbarukan, juga menjadi solusi pemanfaatan energi terbarukan di perkotaan yang lahannya terbatas dan memberikan peluang bagi seluruh masyarakat untuk turut berkontribusi di dalam pengembangan energi terbarukan," tutur Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna, pada acara Peresmian PLTS Atap PT Indo Kordsa Tbk, di Bogor, Rabu (23/11), seperti keterangan Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Kamis (24/11).

Feby menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada PT Indo Kordsa Tbk yang telah menjadi bagian dari upaya bersama mendorong pemanfaatan EBT dengan terpasangnya PLTS Atap 4,8 MW di PT Indo Kordsa. Juga apresiasi kepada TotalEnergies atas terlaksananya konstruksi PLTS Atap dengan baik.

Berita Terkait : Andi Gani: Aspirasi Buruh Soal UMP Dalam Musra Dikabulkan Pemerintah

PLTS Atap menjadi salah satu program pemanfaatan energi surya, yang merupakan salah satu sumber energi terbarukan, dengan potensi yang sangat melimpah di Indonesia. Potensi energi surya mencapai 3.295 GW dengan potensi yang dimanfaatkan untuk PLTS masih sangat kecil yaitu 260 MW.

"Berdasarkan identifikasi kami, potensi PLTS Atap secara nasional mencapai 32,5 GW dari pelanggan golongan rumah tangga, industri, bisnis, sosial maupun pemerintah. Pemanfaatan PLTS Atap pelanggan PLN secara nasional per Oktober 2022 mencapai 71,35 MW yang berasal dari 6.261 pelanggan," urai Feby.

Feby menjelaskan, sektor industri adalah konsumen energi final terbesar kedua setelah sektor transportasi yaitu 264 juta SBM atau 31 persen dari total konsumsi energi nasional. Tren persaingan pasar global saat ini menuntut industri untuk menciptakan produk hijau yang proses produksinya menggunakan sumber EBT. Ekonomi ke depannya akan bertumbuh ke arah green economy yang didukung dengan adanya green industry.

Berita Terkait : KTT G20 Sukses, Kepala BNPT Apresiasi Jajaran Pengamanan

"Implementasi PLTS Atap akan menjadi salah satu pilihan optimal di sektor industri karena sektor ini sangat energy-intensive dengan profil beban yang cukup merata sepanjang hari. Dengan memasang PLTS atap, pelaku industri dapat menggantikan sebagian kebutuhan listriknya di siang hari menjadi energi terbarukan sekaligus menghemat tagihan listrik," terangnya.

Pada kesempatan ini, Feby mengungkapkan bahwa Pemerintah mendorong perubahan utamanya dari sisi regulasi agar masyarakat lebih terdorong untuk berpartisipasi dalam program PLTS Atap ini. Hal ini diwujudkan dengan terbitnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2021, sebagai penyempurnaan aturan sebelumnya. Selain itu, Kementerian ESDM bersama PT PLN (Persero) tengah menyelesaikan pembahasan Rancangan Petunjuk Teknis Implementasi peraturan ini.

PT Indo Kordsa Tbk bersama TotalEnergies merupakan salah satu penerima manfaat insentif SEF hibah PLTS Atap, dengan total insentif mencapai Rp  91 juta. Pengoperasian PLTS Atap untuk mendukung kegiatan produksi, operasional gudang, dan operasional gedung perkantoran Indo Kordsa di Citeureup, Bogor. Indo Kordsa merupakan produsen kain ban pertama yang menggunakan tenaga surya di Asia Tenggara sebagai upaya pengurangan emisi sebesar 3 persen per tahun.

Berita Terkait : Jokowi Minta Selandia Baru Dukung Keketuaan RI Di ASEAN 2023

Lebih dari 8.800 modul terpasang di atap 6 fasilitas perusahaan dengan sistem tenaga PV sebesar 4,8 megawatt-peak (MWp). Modul surya ini menghasilkan sekitar 6.800 megawatt per jam (MWh) listrik terbarukan setiap tahunnya, memungkinkan Indo Kordsa mendapatkan manfaat berupa penghematan biaya yang signifikan sekaligus dapat mengurangi jejak karbon sekitar 5.400 ton emisi CO2 atau setara dengan menanam lebih dari 8.000 pohon per tahunnya.

"Kami berharap kesuksesan pembangunan PLTS Atap PT Indo Kordsa ini dapat memberikan manfaat yang optimal, serta menjadi role model untuk industri lainnya," pungkas Feby.■