Dark/Light Mode

Industri Tolak Penerapan Tarif Cukai Plastik

Senin, 19 Desember 2022 18:33 WIB
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono. (Foto: Ist)
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi menerbitkan aturan mengenai Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN Tahun Anggaran 2023, yang di antaranya berisi target penerimaan cukai dari plastik dan minuman berpemanis dalam kemasan. Industri menolak penerapan cukai plastik.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono menolak kebijakan penerapan tarif cukai plastik. Dia mempertanyakan, tujuan pemerintah menerapkan cukai plastik. Apakah untuk pendapatan negara atau menjaga lingkungan.

“Sejak awal wacana penerapan cukai plastik, kami dengan tegas menolak kebijakan tersebut. Apa sih urgensinya pemerintah menerapkan cukai plastik. Kalau dari sisi pendapatan negara pemerintah menginginkan sumber pendanaan baru, maka bisa mencari dari sektor lain,” jelas Fajar di Jakarta, Senin (19/12).

Baca juga : Santri Di Lampung Sosialisasikan Kinerja Ganjar Pranowo

Lebih lanjut, dia mengatakan, kalau tujuan penerapan cukai plastik untuk pendapatan negara, maka sebaiknya yang dikenai cukai adalah bahan baku plastik dan bahan jadi plastik impor. Barang jadi plastik itu impornya 1 juta ton lalu Impor bahan baku plastik hampir 3 juta ton dan itu di beberapa pelabuhan saja, jadi akan lebih mudah diawasinya.

Fajar mengatakan, kalau penerapan cukai plastik ini untuk mengatasi permasalahan lingkungan maka yang sebenarnya harus diperbaiki adalah pengelolaan sampah di level masyarakat yang sampai hari ini masih membuang sampah sembarangan.

Fajar berharap, pemerintah menunda pengenaan cukai plastik ini untuk membangkitkan kembali industri plastik yang saat ini masih dalam tahap pemulihan. Karena ekonomi juga lagi susah, sudah hampir setengah tahun barang jadi industri susah keluar dari gudang. 

Baca juga : 2023, Tarif KRL Mau Naik

Selain itu, permintaan juga lagi lesu, pertumbuhan tahun ini yang  targetnya 4,5 tidak bisa kita capai paling-paling 4,2 persen saja yang bisa kita capai. Yang pasti tahun depan target pertumbuhan di industri plastik  jauh dibawah 4 persen.

“Efek domino cukai plastik akan sangat buruk untuk perekonomian rakyat. Karena di bisnis ini banyak sekali tenaga kerja yang terlibat terutama pemulung paling banyak dan sudah pasti akan menyulitkan banyak UKM. Ia menilai UKM tersebut belum banyak dibina. Industri daur ulang Indonesia udah bagus sebenarnya. tinggal didorong lagi.

Di sisi lain, ia menilai, penggunaan plastik di masyarakat juga masih belum tinggi. Fajar mengatakan, konsumsi plastik konsumsi plastik per kapita mencapai 23 kilogram.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.