Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kunci Pertumbuhan Ekonomi: Jaga Daya Beli Masyarakat
Kamis, 22 Desember 2022 07:01 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tantangan ekonomi Indonesia terus datang silih berganti. Sejumlah lembaga internasional pun mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Bank Pembangunan Asia atau ADB yang semula memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,4%, memangkasnya menjadi 5%.
Ada pula Bank Dunia (World Bank) serta OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 di bawah 5%. Hal itu sejalan dengan prospek perlambatan ekonomi global.
"Tapi semua koreksi masih di angka 4,7 sampai 5%," kata Airlangga.
Peneliti Indef (Institute for Development of Economics and Finance) Andry Satrio Nugroho mengatakan, Indonesia punya pekerjaan rumah besar ke depan ketika ekonomi dunia dihadapkan pada ketidakpastian, yakni menjaga daya beli masyarakat dan konsumsi domestik.
Baca juga : FKIM Kukar Yakin IKN Majukan Ekonomi Masyarakat Desa
“PR-nya, bagaimana menjaga daya beli masyarakat," tegas Andry, Rabu (21/12).
Menurut Andry, pertumbuhan ekonomi Indonesia bergantung pada daya beli masyarakat. Artinya, ketika daya beli masyarakat terjaga, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga masih berpeluang besar mampu menghadapi dampak pelambatan ekonomi global.
"Kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup sederhana, bagaimana daya beli masyarakat terjaga," ujarnya.
Andry memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 juga tidak menyentuh angka 5 persen. Hal itu sedikit banyak dipengaruhi oleh krisis pangan dan energi yang terjadi akibat perang Rusia-Ukraina.
Kalau berbicara target pertumbuhan ekonomi dari Indef angkanya 4,8%, dan kita melihat beberapa lembaga internasional sudah menurunkan angka pertumbuhan ekonomi global.
Baca juga : Masukkan Poin Perbaikan Nasib Ekonomi Perempuan, G20 EMPOWER Diapresiasi
“Salah satunya, masih ada ketidakpastian akibat krisis geopolitik yang mengakibatkan krisis energi dan pangan, yang masih dirasakan banyak negara, terutama negara maju,” katanya.
Kendati demikian, Indonesia masih bisa bernapas karena ekonominya tidak terlalu bergantung pada ekonomi global. Indonesia tidak menempati posisi utama dalam mata rantai pasok global.
Stabilitas Dalam Negeri
Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah mengatakan, sejumlah lembaga internasional mengoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena faktor ketidakpastian global. Meski proyeksi tersebut masih positif.
“Mereka mengoreksi karena faktor ketidakpastian global. Memang banyak hal yang harus diwaspadai. Tapi kalau kita cermati, ada kesamaan pandangan bahwa Indonesia akan tetap tumbuh positif tahun 2023,” ujar Piter, Rabu (21/12).
Baca juga : Punya Kesamaan Karakter Budaya, Erick Thohir Memikat Masyarakat Minangkabau
Perbedaan dari mereka adalah besaran ekonomi akan tumbuh. Pertumbuhan ekonomi di kisaran 4- 5% itu adalah baseline scenario. Kalau pandangan optimisnya bisa diatas 5%.
Lebih lanjut Piter mengatakan, apa yang perlu diwaspadai, adalah kestabilan dalam negeri.
“Perekonomian kita lebih didukung oleh permintaan domestik. Kalau permintaan domestik tetap terjaga, ekonomi akan tumbuh baik,“ ungkap Piter.
Untuk itu, meski kasus Covid-19 terus turun, jangan sampai lengah. Pandemi Covid belum sepenuhnya berakhir.
"Jangan sampai terjadi seperti di China. Risiko ini yang harus dimitigasi,” tandas Piter.■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya