Dark/Light Mode

AgriTech Cloud: Inovasi Menangani Masalah Pangan dan Lingkungan di DKI Jakarta

Jumat, 19 April 2024 00:34 WIB
Desain AgriTech-Cloud. (Sumber: Dok. Penulis)
Desain AgriTech-Cloud. (Sumber: Dok. Penulis)

Pendahuluan

Lahan pertanian bukan sekadar hamparan tanah biasa, melainkan lumbung pangan yang menopang kehidupan 270 juta rakyat Indonesia. Di balik setiap bulir padi, terukir ketahanan pangan bangsa, memastikan akses semua orang terhadap makanan yang cukup, aman, dan bergizi. Luas lahan pertanian pada tahun 2015 hingga 2019 mengalami penurunan sebesar 628.959 ha atau 8,4% (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2020).

Penurunan lahan pertanian di Indonesia disebabkan oleh alih fungsi lahan yang terjadi secara terus menerus. Dampak berkurangnya lahan pertanian dapat menurunkan produktivitas pangan yang dapat mengancam keamanan pangan di Indonesia. Penurunan luas lahan pertanian terbesar berada di daerah perkotaan terutama daerah DKI Jakarta. Luas lahan pertanian di DKI Jakarta pada tahun 2015 hingga 2019 mengalami penurunan seluas 236 ha atau 36.3% (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2020). Penurunan lahan pertanian di DKI Jakarta menyebabkan berkurangnya ruang hijau yang berakibat pada polusi udara.

Bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan juga perlu dilakukan oleh berbagai pihak. Urban Farming adalah solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan di lahan terbatas. Lahan terbuka di perkotaan dapat dimanfaatkan untuk berkebun dan menghasilkan produk pangan (Pratiwi et al., 2021). Rooftop Farming dengan IoT (Internet of Things) adalah solusi inovatif untuk Urban Farming di DKI Jakarta.

Metode

Metode pengumpulan data dengan menggunakan menggunakan studi pustaka sekunder dari tahun 2015-2019. Data sekunder yang digunakan berasal dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2020.

Solusi yang pernah ditawarkan

Rooftop farming sudah banyak diterapkan di Indonesia, salah satunya Petani Balkon. Petani balkon ini memanfaatkan balkon rumah untuk membuat perkebunan sederhana menggunakan teknologi hidroponik. Namun, terdapat kekurangan seperti ketersediaan rumah yang memiliki balkon dan atap datar, diperlukan konsistensi tinggi, pengelolaan limbah yang tidak optimal, serta penggunaan tenaga listrik tidak terbarukan. Oleh karena itu, dibutuhkan konsep rooftop farming komersial berbasis smart agriculture terintegrasi untuk mencapai pertanian berkelanjutan.

Baca juga : Dasco: Komunikasi Gerindra Tak Hanya Dengan PKB, Tapi Lintas Partai

Gagasan Penulis: AgriTech-Cloud

Secara konsep, rooftop farming memiliki potensi besar untuk meningkatkan ketahanan pangan. Namun, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti: 1) Manajemen air, 2) angin kencang, 3) biodiversitas tanaman, 4) efisiensi energi, dan 5) pengelolaan limbah. AgriTech-Cloud (ATC) hadir sebagai solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. ATC adalah pertanian yang mengedepankan integrasi pertanian berbasis smart agriculture. ATC mendukung poin-poin pembangunan berkelanjutan, yaitu 2) tanpa kelaparan, 3) kehidupan sehat dan sejahtera, serta 7) energi bersih dan terjangkau. ATC menggunakan pendekatan atribut kota hijau, yaitu green planning and design, green energy, green water, green technology, dan green waste.

ATC menggunakan pendekatan green planning and design dengan material yang mudah dirawat, mudah ditemukan, tahan lama, dan menggunakan energi terbarukan. Konsep pertanian modular diterapkan dengan bekerja sama dengan The Agri-Tech Place untuk meminimalkan biaya pembangunan dan memaksimalkan hasil panen. Pertanian modular ini berbentuk Green House di atap bangunan dengan hidroponik aeroponik vertikal yang dikemas dalam teknologi growpods. Hidroponik dapat meningkatkan penanaman berbagai jenis tanaman di petak-petak yang berbeda.

Angin kencang dan panas matahari berlebih menjadi ancaman bagi rooftop farming. Penerapan Green House menjadi solusi untuk melindungi tanaman. Green House menghasilkan panen maksimal, efisiensi air, dan retensi air hujan yang lebih tinggi dibandingkan rooftop farming tanpa Green House. Dalam hal biaya siklus hidup produksi sayuran, menunjukkan bahwa Green House lebih unggul di daerah kering dan dingin dengan kebutuhan irigasi tinggi dan musim tanam pendek.

ATC membutuhkan energi untuk beroperasi sehingga diperlukan pendekatan green energy dengan memanfaatkan energi terbarukan, seperti panel surya dan turbin angin untuk menghasilkan energi bagi ATC. Energi listrik yang dihasilkan disimpan dalam baterai dan kemudian dialirkan ke ATC. Salah satu manfaat penggunaan energi terbarukan untuk menghindari terjadinya listrik padam secara tiba-tiba yang dapat mengganggu kinerja ATC.

Bagaimana irigasi dalam ATC? ATC menggunakan pendekatan green water untuk irigasi, yaitu menampung air hujan dan embun. Air yang diperoleh akan ditampung ke dalam water strorage yang diatur oleh water management untuk irigasinya ke ATC.

ATC juga menggunakan pendekatan green technology berupa box sensor dengan berbagai sensor untuk memantau kondisi tanaman secara real-time. Data sensor dikirim ke Big Data Cloud yang terhubung dengan device bersangkutan untuk pemantauan melalui IoT (Internet of Things). Diperlukan Robot pertanian yang dirancang untuk menanam, memanen, dan menyortir tanaman secara steril untuk menghindari kontaminasi. Robot ini ditenagai oleh panel surya dan menggunakan AI untuk pengambilan keputusan berdasarkan data sensor sehingga masalah dalam manajemen tanaman teratasi oleh robot ini.

ATC menerapkan pendekatan green waste untuk mengelola limbah dengan berkelanjutan, seperti: 1) Air bekas cucian nutrisi diolah dengan biofilter untuk digunakan kembali. 2) Limbah gas metana dibakar untuk menghasilkan panas atau listrik, atau diolah menjadi gas karbon dioksida yang lebih ramah lingkungan. 3) Media tanam hidroponik yang rusak didaur ulang untuk digunakan kembali. Konsep pendekatan green waste ini berhubungan dengan konsep pertanian berkelanjutan. Desain ATC dapat dilihat pada gambar 3.

Baca juga : APP Group Berdayakan Ibu-Ibu Produksi Kantong Kertas Ramah Lingkungan

Pemerintah DKI Jakarta perlu mendorong penerapan ATC di gedung bertingkat melalui regulasi SwaGri (Swasta Agriculture). Regulasi ini dapat memberikan insentif menarik bagi pemilik gedung, seperti pengurangan pajak bumi dan bangunan (PBB) dan memberikan insentif dana untuk meringankan pembangunan ATC. Dengan demikian, ATC memberikan keuntungan bagi pemilik dan lingkungan sekitar. ATC dapat meningkatkan nilai properti sebesar 7% (Kumar et al., 2019).

Platform ATC Real Food akan menjadi platform digital yang terintegrasi dengan pembangunan ATC. Platform ini memiliki beberapa fungsi penting, yaitu sebagai wadah jual beli, melaporkan data terkait kinerja ATC, dan menampilkan rating serta performa ATC. Pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada ATC dengan performa terbaik tiap tahunnya sehingga dapat menarik minat swasta untuk membangun ATC. Pembangunan ATC membutuhkan integrasi antar ATC untuk mencegah ATC terbengkalai, meminimalisir risiko error system pada ATC yang lain, dan meningkatkan efisiensi pengelolaan. Platform ATC Real Food akan menjadi platform utama untuk integrasi ini.

Untuk mengkaji hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan ATC di DKI Jakarta perlu menggunakan analisis PESTLE.

Analisis SWOT juga diperlukan untuk memberikan gambaran tentang kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang terkait secara khusus dengan inovasi ATC.

ATC memerlukan anggaran pembangunan awal sebesar Rp6.265.856,14 per m2 dan akan meraih payback period dalam 1,8 tahun setelah pembangunan.

Pihak-pihak yang terkait dalam implementasi

Diperlukan beberapa pihak terkait untuk mendukung ATC.

Baca juga : Dorong Ekonomi Lokal, PUPR Bangun Pusat Perdagangan Rakyat Di Jawa Timur

Langkah-langkah dalam pengimplementasian ATC

Pengimplementasian ATC membutuhkan rencana strategis dan rencana waktu yang tepat.

Inovasi tersebut bagaikan pemecah masalah yang terjadi di perkotaan saat ini terutama di DKI Jakarta. ATC mampu menghasilkan 10 kg/m2 pangan dan menghasilkan oksigen sebesar 97,1 gram/hari.m2.ATC menjadi terobosan baru dalam menciptakan Smart Agiruculture dengan konsep pertanian berkelanjutan di perkotaan. Kolaborasi solid antara berbagai pihak diperlukan untuk mewujudkan manfaat ATC secara optimal sehingga menjadikan kota secara perlahan menjadi Smart City dan Green City.

Daftar Pustaka: https://ipb.link/daftar-pustaka-greenimpact

Muhammad Ilham Rizky Maulana
Muhammad Ilham Rizky Maulana
Mahasiswa IPB University yang menuangkan ide dan inovasinya melalui artikel ilmiah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.