Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Charta Board: Solusi Pengelolaan Limbah Kertas untuk Menanggulangi Krisis Iklim
Sabtu, 13 April 2024 14:43 WIB
Data Kementerian Lingkungan Hidup (KHLK) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa Indonesia menyumbangkan 34,5 ton sampah setiap tahunnya, dimana 12% dari berat total sampah tersebut merupakan limbah kertas. Pengelolaan yang kurang tepat diduga menjadi salah satu faktor tingginya persentase limbah sampah tersebut. Sebanyak 43% limbah kertas belum dikelola dengan baik. Hal ini tidak sebanding dengan kebutuhan kertas dari pihak industri dan masyarakat yang mencapai 76 ton per tahun. Artinya permasalahan mengenai limbah kertas merupakan isu yang penting untuk disorot.
Penggunaan kertas untuk kegiatan sehari-hari dan sebagai bahan alternatif bukanlah tanpa cela. Limbah kertas dinilai lebih mudah terurai, akan tetapi bahan campuran yang terdapat pada kertas dapat membuat penguraian sulit dilakukan. Kertas bersifat organik, dengan pemilahan yang kurang baik sampah akan mudah bercampur dengan sampah yang bersifat anorganik. Hal ini akan membuat penguraian berlangsung tanpa oksigen (anaerob). Penguraian yang berlangsung secara anaerob akan menghasilkan gas metana. Gas metana yang tercipta akibat penguraian anaerob dapat mempercepat perubahan iklim karena mampu menangkap panas di atmosfer bumi 25 kali lebih tinggi dibandingkan karbondioksida (Sari dkk, 2021).
Di samping itu, pengelolaan hutan akibat produksi kertas yang masif juga masih menjadi catatan. Pasalnya kertas dihasilkan dari pengolahan kayu yang ditanam di hutan. Meskipun terdapat beberapa hutan khusus yang diperuntukan bagi kepentingan industri, proses penumbuhan pohon memerlukan waktu yang tidak sebentar. Hal ini berpengaruh pada deforestasi hutan sementara (Suyadi, 2012). Menurut Barri dkk (2018), Indonesia adalah penyumbang emisi karbon terbesar keenam di dunia yakni 1,98 miliar ton emisi CO2 per tahun. Dalam hal ini sektor hutan menjadi penyumbang terbesar emisi karbon yang dilepaskan sebagai akibat deforestasi dan degradasi hutan.
Pengelolaan yang tepat menjadi kunci dalam menanggulangi limbah kertas. Perlu dilakukan pengembangan inovasi baru dalam pengelolaannya sehingga dapat mencapai tingkat efisiensi yang maksimal. Beberapa upaya telah dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan kertas, diantaranya penggunaan konsep Reuse, Reduce, dan Recycle (3R). Dalam konsep Reuse atau menggunakan kembali, kertas dapat digunakan menjadi bungkus makanan. Konsep Reduce atau mengurangi dapat diimplementasikan dengan metode paperless, misalnya menggunakan komputer saat ujian dan mengirim dokumen secara online (Arisona, 2018).
Reuse dan Reduce merupakan konsep yang dapat dilakukan sebagai solusi pengelolaan non-final atau hanya bersifat sementara. Limbah kertas yang dimanfaatkan menjadi bungkus gorengan atau alas tertentu pada akhirnya akan kembali dibuang dan cenderung tidak dapat digunakan kembali karena telah tercampur zat lain. Dalam proses penguraian, zat lain dalam kertas dapat menjadi ancaman terjadinya pembusukan anorganik dan akan menghasilkan gas metana. Oleh sebab itu, diperlukan adanya konsep baru yang bersifat pengelolaan final sebagai upaya pengelolaan berkelanjutan.
Konsep Recycle atau mengolah kembali merupakan salah satu jalan keluar dari permasalahan pengelolaan ini. Meskipun begitu, produk pengolahan dari limbah kertas yang diolah menjadi kerajinan memiliki nilai minat yang rendah dibandingkan dengan produk pengolahan lain. Menurut Wibisono dan Putra (2018), faktor yang mempengaruhi pembelian produk daur ulang adalah desain dan kualitas. Variabel kualitas dan desain menunjukan persentase lebih dari 80%, sedangkan variabel harga menunjukan pesentase lebih dari 70%. Selain faktor desain dan kualitas, faktor manfaat juga sangat berpengaruh dalam pemilihan produk daur ulang bagi para konsumen (Hidayah, 2017).
Aspek desain, kualitas, dan manfaat menjadi kunci dari tercapainya sebuah pengolahan final. Hal tersebut menunjukkan perlu adanya proses pengolahan tingkat lanjut yang melibatkan proses produksi dengan memperhatikan desain dan kualitas tinggi. Dengan begitu, konsep Recycle yang pada umumnya melibatkan proses pengolahan sederhana dapat memiliki konsep turunan atau derivat yakni Reform. Konsep ini dimaksudkan untuk membuat keterlibatan antara bahan baku suatu produk dengan bahan daur ulang sehingga menciptakan barang baru yang memberi kesan inovatif.
Konsep Reform juga dapat diartikan sebagai munculnya inovasi baru dari suatu hal yang telah ada dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga memiliki reputasi sebagai kebaruan yang kokoh dan stabil. Reform tidak menekankan kepada limbah daur ulang sebagai bahan dasar penyusun produk, akan tetapi hanya sebagai bahan pengganti pada sebagian bahan produk. Konsep Reform harus terikat pada aspek desain, kualitas, dan manfaat. Konsep ini juga harus melibatkan peran NGO serta pemerintah dalam menciptakan metode keberlanjutan pengelolaan limbah berbasis teknologi, khususnya pengelolaan limbah kertas.
Pada pengelolaan limbah kertas yang sifatnya berkelanjutan, konsep Reform dapat diimplementasikan sebagai pembaruan produk yang telah ada sebelumnya yakni penggantian serbuk gergaji pada papan partikel dengan material limbah kertas. Papan partikel ‘particle wood’ merupakan produk komposit yang dihasilkan dari partikel kayu dan bahan perekat yang diproses lewat pemanasan sehingga membentuk papan kokoh. Sesuai namanya, papan partikel terbuat dari partikel-partikel kayu seperti serbuk gergaji atau potongan keping kayu yang kemudian dipadatkan. Papan partikel memiliki sifat kuat seperti kayu dan tahan panas. Saat ini papan partikel banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar mebel (Arrahman & Umam, 2018).
Charta board atau papan kertas bisa menjadi solusi untuk menangani permasalahan limbah kertas. Charta dalam bahasa latin berarti kertas, charta board merujuk pada papan partikel yang menggunakan limbah kertas sebagai bahan bakunya. Kertas bekas pakai dapat digunakan sebagai pengganti serpihan kayu pada papan partikel sebagai inovasi berkelanjutan dalam upaya mengelola limbah kertas. Kertas memiliki potensi yang besar untuk mengganti serpihan kayu pada papan partikel. Hal ini didasari dari syarat terbentuknya papan partikel. Papan partikel dapat terbentuk dari bahan yang mengandung lignin dan selulosa. Menurut Ruseimy (2009), kertas pada umumnya memiliki kandungan selulosa sekitar 58,3% - 60,5% dan lignin sekitar 5%. Selain itu faktor perekat juga menjadi yang terpenting. Perekat yang digunakan akan menentukan tingkat kekokohan papan, hal ini disesuaikan dengan bahan baku yang akan digunakan (Arrahman & Umam, 2018).
Metode yang digunakan dalam pembuatan Charta board juga dapat mengadaptasi metode pembuatan papan partikel secara keseluruhan, mulai pencacahan hingga pengamplasan. Limbah kertas dapat dicacah menggunakan mesin flaker, kemudian diayak dan dicampurkan dengan zat perekat seperti lem lalu dibentuk pada mesin forming. Setelah melewati proses pembentukan, campuran bahan kemudian di-press hingga membentuk papan. Pada tahap ini, papan sudah dapat diamplas dan diolah menjadi mebel dengan tambahan elemen bahan lainnya sebagai pelapis.

Baca juga : Smart Home Tawarkan Pengamanan Rumah Praktis Saat Ditinggal Mudik
Dengan berhasilnya pengelolaan final maka permasalahan limbah kertas akan teratasi. Selain itu, produk akhir yang berupa mebel dapat mengurangi produksi kayu untuk keperluan produksinya sehingga deforestasi hutan dapat berkurang dan berdampak positif pada perubahan iklim. Emisi akan berkurang karena gas metana yang dilepas dari ketidaktepatan proses pengelolaan dapat diminimalisasi. Tercapainya pengelolaan limbah kertas yang baik akan berdampak pada keberhasilan sustainable development goals (SDGs) poin 12 dan 13, yakni konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta penanganan perubahan iklim.
Agnia Shafira
Mahasiswi Universitas Padjadjaran
Mahasiswi Universitas Padjadjaran
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya