Dark/Light Mode

Edu-Pendent Food: Edukasi Kemandirian Pangan dari Pengelolaan Limbah Makananan

Jumat, 12 April 2024 11:12 WIB
Budidaya maggot berpakan sampah organik (Foto: aliansizerowaste.id)
Budidaya maggot berpakan sampah organik (Foto: aliansizerowaste.id)

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di 2023 hasil input dari 118 kabupaten/kota se-Indonesia menyebut jumlah timbunan sampah nasional mencapai angka 12,7 juta ton. Dari total produksi sampah nasional tersebut, sebanyak 67,66% (8,64 juta ton) dapat terkelola, sedangkan sisanya 32,34% (4,13 juta ton) belum terkelola dengan baik.

 Timbunan sampah makanan menyumbang 23-48 juta ton per tahun pada periode 2000-2019 yang mana ini setara dengan 115-184 kg per kapita per tahun. Sebuah studi menyebutkan lebih dari 30% sampah di Indonesia berasal dari makanan. Dalam segi ekonomi, hal ini menghasilkan kerugian sebesar Rp213-551 triliun per tahun atau setara dengan 4-5% PDB Indonesia per tahun. Sedangkan pada sisi sosial energi yang hilang sampah makanan setara dengan porsi makan 61-125 juta orang (sekitar 29-47% penduduk Indonesia).

 Pesantren seringkali mandiri dalam memasak untuk santrinya dan civitas pesantren. Oleh karena itu, peluang dihasilkannya sampah dapur setiap hari sangat besar. Rata-rata, sampah dapur dibuang begitu saja ke tempat sampah di mana pun. Sampah merupakan masalah bagi setiap rumah tangga. Setiap rumah tangga menghasilkan sampah setiap hari.

 Data dari Kementerian Agama hingga semester 2 tahun 2023, jumlah pondok pesantren di Indonesia diperkirakan mencapai 39.167 unit dengan total santri sebanyak 4.85 juta orang. Hal ini tentu membawa pengaruh yang cukup signifikan sebagai penyumbang sampah sisa makanan yang besar.

 Menjawab persoalan tersebut, perlu dilakukan edukasi dan pengajaran kepada para santri dan civitas akademika di pesantren-pesantren yang mempunya dapur mandiri. Edu-Pendent Food hadir untuk memberikan kemampuan dan wawasan serta konsep untuk bagaimana para santri dan civitas akademika bisa menciptakan ketahanan pangan melalui pengelolaan limbah makanan yang berkelanjutan.

 Memberdayakan para santri untuk menciptakan kemandirian dan ketahanan pangan lewat pemanfaatan limbah makanan adalah solusi untuk menanggulangi masalah limbah makanan dan organik yang terbuang sia-sia. Oleh karenanya, Edu-Pendent Food hadir untuk mengedukasi dan melakukan mentoring bagi para santri agar menciptakan pertanian terpadu dari hulu ke hilir dan terintegrasi dengan dapur. Edu-Pendent Food memanfaatkan semua sumber yang ada dan memaksimalkannya sehingga tidak ada sampah makanan yang terbuang. Sehingga, pengelolaan limbah dapat lebih efektif dan bermanfaat.

 Siklus pemanfaatan pertanian yang dilakukan para santri akan terus berjalan secara berkesinambungan dengan menggunakan limbah makanan. Mekanisme siklus ini akan berjalan dimulai dengan pemilahan dan penyeleksian jenis-jenis sisa makanan. Terdapat 3 klasifikasi sisa makanan berdasarkan tujuan pengolahannya yaitu, pakan ternak, pupuk, biomassa, dan recycle. Tiap-tiap klasifikasi terdapat pos dan pusat pengolahan. Setelah melalui tahap penyeleksian, sisa limbah makanan akan didistribusikan ke pos-pos terkait.

Pengolahan limbah organik berprotein tinggi akan menjadi pakan bagi maggot atau belatung. maggot atau belatung dapat dijadikan pakan hewan ternak seperti ayam. Kemudian, pupuk organik dapat dimanfaatkan dari kotoran ayam untuk tanaman sayuran seperti cabai. Selain pupuk organik untuk tumbuhan, kotoran dari hewan ternak dapat dijadikan pupuk kendang, pupuk padat dan cair. Limbah organik seperti kulit buah dapat dimanfaatkan untuk dijadikan alternatif energi terbarukan yaitu biomassa. Di sisi lain, pengolahan limbah sampah anorganik dan sulit terurai seperti plastik akan dikonversi melalui pembuatan Kembali kerajinan berbahan dasar plastik. Salah satu contohnya adalah Ecobrick.

 Dalam implementasinya, tentu kami memerlukan relawan dan kesediaan para ahli dan tenaga pengajar serta kesadaran masyarakat yang peduli terhadap lingkungan untuk melakukan kampanye edukasi ini demi menciptakan ketahanan pangan dari skala kecil yaitu Pesantren.

Dari sisi sosial, kehilangan energi akibat sampah sisa makanan diperkirakan setara dengan porsi makan 61-125 juta per orang  (29-47% penduduk). Hal ini berbanding terbalik, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka ketidakcukupan pangan nasional tahun 2021 sebesar 8.49%. Edu-Pendent Food bertujuan agar masyarakat teredukasi untuk bagaiman sampah sisa makanan dapat terkelola dengan efektif dan tidak terbuang sia-sia. Oleh sebab itu, Edu-Pendent Food mendukung Sustainable Development Goals khususnya pada poin ke-12, yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab. Kami juga secara berkomitmen dalam mendukung SDGs poin ke-2, dan ke-4. Dengan dukungan dan partisipasi aktif berbagai komponen, Edu-Pendent Food dapat ikut serta menjaga lingkungan yang lebih bersih.

Edu-Pendent Food di wilayah pesantren memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian SDGs. Dengan pendekatan yang kolaboratif, pesantren dapat menjadi pusat pembelajaran dan inovasi dalam membangun masyarakat yang lebih berkelanjutan dan mandiri dalam hal pangan.

Muhammad Hilmi Ata Reswara
Muhammad Hilmi Ata Reswara
Siswa SMA IT As-Syifa Boarding School

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.