Dark/Light Mode

Bank Mandiri Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Di Level 5,06 Persen Pada 2024

Selasa, 14 Mei 2024 18:40 WIB
Bank Mandiri menggelar Mandiri Macro and Market Brief-Thriving Through Transition secara virtual, Selasa (14/5/2024). (Foto: Dok. Bank Mandiri)
Bank Mandiri menggelar Mandiri Macro and Market Brief-Thriving Through Transition secara virtual, Selasa (14/5/2024). (Foto: Dok. Bank Mandiri)

RM.id  Rakyat Merdeka - Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menyebut, risiko Geopolitik semakin meningkat dengan eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah dan mendorong kenaikan harga minyak serta memicu volatilitas pasar keuangan global.

Nilai tukar Rupiah melemah hingga sempat mencapai posisi Rp 16.260 per dolar Amerika Serikat (AS), terlemah sejak tahun 2020. Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2024 menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 bps mencapai 6,25 persen untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Di tengah meningkatnya risiko geopolitik global yang terjadi, kinerja ekonomi Indonesia masih stabil. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2024 mencapai 5,11 persen lebih tinggi dibandingkan 5,04 persen di kuartal sebelumnya.

“Bank Mandiri memproyeksi, ekonomi Indonesia masih akan mencatat pertumbuhan yang sehat di level 5,06 persen tahun ini,” katanya dalam acara Mandiri Macro and Market Brief-Thriving Through Transition secara virtual, Selasa (14/5/2024).

Pertumbuhan ekonomi didorong oleh akselerasi belanja Pemerintah terutama terkait Pemilu yang juga bersamaan dengan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR).

Baca juga : Citra Kayon Hadirkan Sentuhan Teknologi Di Megabuild 2024

“Tingkat konsumsi rumah tangga masih tumbuh positif dan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi,” jelas Andry.

Mandiri Spending Index selama triwulan I-2024 meningkat ke level 206,7, lebih tinggi daripada level 199,1 di triwulan 4 2023.

Secara umum belanja selama periode Ramadan-Idul Fitri 2024 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama 2023.

“Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan periode pemberian THR tahun lalu yang sebesar 4,6 persen. Namun demikian kenaikan belanja ini lebih banyak didorong oleh kenaikan belanja dari segmen menengah dan atas yang masing-masing tumbuh sekitar 9,2 persen dan 7,1 persen dibandingkan dengan periode sebelum Ramadan,” kata Andry.

Selain itu, perkembangan sektoral pada kuartal I-2024 menunjukan beberapa faktor menjadi pendorong pertumbuhan, Penyelenggaraan Pemilu 2024, tren mobilitas masyarakat yang masih tinggi dan harga-harga komoditas yang masih relatif tinggi.

Baca juga : Mengatasi Perubahan Iklim: Solusi Berkelanjutan Di Era Digital Pada ITIS 2024

Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib mencatatkan pertumbuhan tertinggi di tengah pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) yang bertepatan pada Februari 2024.

Sektor ini tumbuh sebesar 18,9 persen yoy pada triwulan I-2024, lebih tinggi daripada rata-rata pertumbuhan sektoral yang sebesar 7,13 persen yoy.

Sektor akomodasi dan restoran masih tumbuh tinggi sebesar 9,39 persen, hal yang sama terjadi di sektor pertambangan yang tumbuh 9,31 persen.

Selain itu, sektor pengolahan yang merupakan sektor dengan proporsi terbesar di ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,13 persen yoy pada triwulan I-2024 vs 4,07 persen yoy pada triwulan sebelumnya.

Sektor industri manufaktur yang tumbuh tinggi adalah sektor yang terkait program hilirisasi (industri pengolahan logam dasar) dan yang berorientasi pasar domestik (misalnya, kimia, farmasi, makanan dan minuman).

Baca juga : Tantangan Ekonomi Global, BI Yakin Pertumbuhan Ekonomi Tumbuh Di Atas 5 Persen

Sementara itu, sektor industri manufatur berorientasi ekspor mengalami tekanan seperti, produk tektil dan furniture.

“Secara umum, harga-harga komoditas memang terkoreksi namun level harga yang terbentuk masih menguntungkan.Strategi perusahaan di sektor komoditas. Seperti,CPO, karet, batubara dan nikel adalah melakukan efisiensi agar margin keuntungan tidak turun dan bertahan di tengah volatilitas harga yang tinggi,” jelasnya.

Pelemahan kondisi ekonomi global mulai berimbas pada komponen investasi dan neraca perdagangan.

Pertumbuhan investasi pada triwulan I masih cenderung lambat, yang terutama masih diakibatkan masih rendahnya investasi non-bangunan. Kinerja neraca perdagangan masih mencatatkan surplus, meski dengan nilai yang terus menurun.

“Potensi risiko ke depan masih besar dengan masih berlangsungnya gejolak geopolitik global, kenaikan harga energi dan pangan, serta tekanan dari keluarnya investasi portfolio asing yang menyebabkan penguatan Dolar AS. Dengan demikian, suku bunga acuan belum akan turun dalam waktu dekat,” tutur Andry.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.