Dark/Light Mode

Ekonomi Global Tak Baik-baik Saja, Ekonom Ingatkan Pemerintah

Selasa, 28 Mei 2024 00:19 WIB
Diskusi Kebangkitan Nasional, Kebangkitan Ekonomi? (Foto: Ist)
Diskusi Kebangkitan Nasional, Kebangkitan Ekonomi? (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonomi global saat ini sedang tidak baik-baik saja. Perlambatan ekonomi dan stagnasi global masih berlanjut pada 2024. Pemerintah diminta untuk waspada dalam mengelola APBN.

Hal tersebut dikatakan Kepala Center of Digital Economy and SMEs INDEF, Eisha Maghfiruha Rachbini pada diskusi INDEF dan Universitas Paramadina dengan topik “Kebangkitan Nasional, Kebangkitan Ekonomi?” Senin (27/5/2024). Acara dibuka oleh Rektor Universitas Paramadina, Prof Dr Didik J Rachbini.

Eisha mengatakan,  stagnasi global tersebut mencatat PDB global hanya akan tumbuh di 3,2 persen (yoy). Meski negara-negara ekonomi maju mengalami sedikit penguatan ekonomi 1,7 persen, tetapi di negara-negara berkembang terjadi sedikit perlambatan hanya tumbuh 4,2 persen di 2024.

Kata dia, ketidakpastian di negara Emerging Market (EM) akan semakin tinggi seiring dengan prospek ekonomi China yang melemah, karena pelemahan kinerja sektor properti. “Perekonomian China diprediksi akan melemah dari 5,2 persen (yoy) tahun 2023 menjadi 4,6 persen (yoy) tahun 2024,” ujarnya.

Baca juga : Harga Bahan Baku Naik, Bisnis UMKM Melambat

Prospek suku bunga yang tidak pasti dan menahan suku bunga global pada level tinggi, sehingga mendorong capital outflow negara EM dan dampak ini juga dirasakan oleh Indonesia, yaitu tekanan nilai tukar rupiah yang sampai Rp 16.000.

Perubahan cepat dalam dinamika ekonomi global, dipengaruhi eskalasi perang di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina. Hal eskalasi global tersebut tentunya mempunyai risiko ekonomi kepada dalam negeri Indonesia. Situasi politik global yang tidak stabil mengurangi probabilitas masuknya investasi asing. 

“Kemudian adanya kebijakan moneter AS yang cenderung menjaga suku bunga tinggi, dan menyebabkan arus modal keluar dari negara berkembang ke AS,” ujarnya.

Sementara, ekonomi domestik tumbuh 5,1 persen yoy pada kuartal I-2024. Sebuah capaian tertinggi untuk triwulan pertama dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Namun, pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh Ramadhan dan konsumsi pemerintah, terutama belanja pemerintah untuk bantuan sosial dan pemilu.

Baca juga : Arsjad Ingatkan Potensi Harga Barang Melonjak

Karenanya, program pemerintah baru menjadi fokus penting dari serangkaian program yang dicanangkan oleh pemenang Pilpres 2024. Di antaranya makan siang gratis/makan bergizi.

Ekonom Universitas Paramadina, Handi Risza mengatakan, dunia sedang dihantui dengan tiga permasalahan utama (triple horror), inflasi tinggi, tingkat suku bunga tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Diperkirakan kondisi tersebut akan berlangsung lama, imbasnya akan berdampak terhadap negara-negara berkembang termasuk Indonesia. 

“Perekonomian nasional diprediksi juga mengalami perlambatan,” ujarnya.

Di dalam negeri sendiri, terjadi stagnasi pertumbuhan ekonomi di mana rata-rata pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,9 persen. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut, kata dia, sulit bagi Indonesia untuk dapat naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi atau mengejar ketertinggalan pendapatan per kapita dari negara maju.

Baca juga : Tantangan Ekonomi Global, BI Yakin Pertumbuhan Ekonomi Tumbuh Di Atas 5 Persen

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengatakan, kondisi global saat ini, jelas tidak bersahabat bagi Indonesia. Praktis terdapat beban yang luar biasa berat bagi tumbuh kembangnya ke depan perekonomian nasional. “Untuk itu Perlu kemauan kuat dan rencana tepat dari Pemerintahan baru. Namun, disadari ‘’kaki-kaki yang dimiliki demikian lemah’’ dengan gambaran fundamental ekonomi yang agak memprihatinkan,” katanya.

Langkah memperkuat kaki-kaki adalah dengan memperkokoh kolaborasi, memperbaiki konsistensi kebijakan dan perkuat penegakan hukum, reindustrialisasi, dengan mendorong hilirisasi berkualitas di berbagai sektor.

Smentara, Prof Dr Didik J Rachbini mengatakan, membangun kesadaran sejarah amat penting karena nanti pada ujungnya adalah kembali pada UUD 1945 yang dalam ekonomi politik masuk wilayah Ekonomi Konstitusi.  

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.