Dark/Light Mode

Program Solusi Nelayan Berjalan Mulus

Penyaluran Solar Subsidi Akurat Dan Tepat Sasaran

Senin, 29 Juli 2024 07:05 WIB
Nelayan tradisional beristirahat sembari menyiapkan kebutuhan mereka untuk pergi melaut, di Kampung nelayan Kali Angke, Jakarta Utara, Sabtu (9/9/2023). Foto: TEDY OCTARIAWAN KROEN / RM
Nelayan tradisional beristirahat sembari menyiapkan kebutuhan mereka untuk pergi melaut, di Kampung nelayan Kali Angke, Jakarta Utara, Sabtu (9/9/2023). Foto: TEDY OCTARIAWAN KROEN / RM

 Sebelumnya 
Menkop Teten menekankan, melalui Program Solusi Ne­layan, penyaluran solar oleh koperasi akan lebih akurat dengan pendataan dan digitalisasi. Hasilnya, program ini dapat me­ningkatkan kesejahteraan. Kare­na akan memotong sedikitnya 30 persen biaya produksi.

Ia menegaskan, Program Solusi Nelayan bukanlah hibah. Melainkan sebuah skema B2B (Business to Business) untuk memperkuat ekosistem usaha nelayan, tidak lagi perorangan, tetapi berkelompok.

Di menegaskan, kolaborasi bersama ini terus diperkuat, terutama peran koperasi agar penyaluran BBM lebih akurat. Koperasi hanya akan menyalur­kannya kepada para anggota dan tidak untuk dijual bebas.

“Ini guna meningkatkan kesejahteraan dan pemenuhan BBM para nelayan,” ujarnya.

Dari sisi kelembagaan, ko­perasi memiliki sistem untuk menjamin pelayanan kepada anggota secara transparan dan akuntabel. Selain itu, keuntungan koperasi juga akan kembali kepada anggota melalui SHU (Sisa Hasil Usaha).

Menyoal ini, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyampaikan du­kungannya. Ia mengatakan, program bersama ini adalah ben­tuk sinergi Pertamina sebagai BUMN bersama Kemenkop UKM dalam memenuhi bahan bakar bagi nelayan.

“Kehadiran SPBUN yang bekerja sama dengan koperasi nelayan ini akan mempermu­dah nelayan mengakses BBM, termasuk BBM bersubsidi,” tegasnya.

Baca juga : Kadin Siapin White Paper Pembangunan Ekonomi

Nicke menuturkan, Program Solusi Nelayan menjadi salah satu cara jitu penyaluran BBM yang lebih tepat sasaran. Ter­catat, melalui program ini telah disalurkan lebih dari 113 ribu liter BBM untuk kebutuhan melaut dan mencari ikan.

Program Solusi Nelayan juga sudah diintegrasikan dengan Program Subsidi Tepat. Alhasil, lebih dari 1.000 transaksi ter­catat di SPBUN.

Senada, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan menyampaikan, sebagai anak usaha Pertamina Group, se­lain berkomitmen menyalurkan BBM bagi nelayan, pihaknya juga harus tetap memastikan BBM ini disalurkan secara tepat. Siapa saja kelompok nelayan yang membeli, semua tercatat di Program Subsidi Tepat.

“Nelayan dapat mengakses BBM jauh lebih mudah. Dan Pertamina Patra Niaga juga ter­bantu menyalurkan BBM tepat kepada nelayan yang membu­tuhkan,” ucapnya.

Terpisah, Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Abdul Halim menyambut baik Program Solar untuk Koperasi atau Solusi Nelayan.

Menurut Abdul Halim, pro­gram BBM subsidi yang telah dijalankan oleh Pemerintah Daerah dan Kementerian/Lem­baga terkait yang lain perlu dis­elaraskan dengan BPH Migas, agar prediksi pembagian kuota BBM subsidi dapat tersalurkan dengan optimal.

“Ini penting untuk jadi ba­han pertimbangan badan usaha membangun SPBU Nelayan,” ujarnya.

Manfaat Solusi Nelayan

Baca juga : DKI Didorong Gandeng BPJS Ketenagakerjaan

Yusdi Rusadi, salah satu pengurus Koperasi Tani dan Ne­layan Tekolabbua di Maros, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) mengaku, sejak Desem­ber 2023 koperasi telah menge­lola penyaluran solar subsidi melalui pembangunan SPBUN.

Yusdi mengaku, Program Solusi Nelayan sangat mem­bantu petani dan nelayan.

“Pendapatan juga meningkat, karena harga solar yang disalurkan oleh koperasi lebih murah Rp 1.000 (saat ini harga berlaku Rp 6.800 per liter) dibanding solar yang dijual di SPBU,” jelasnya dalam keterangan yang dikutip Rakyat Merdeka.

Yusdi menjelaskan, kategori nelayan dalam Koperasi Tani dan Nelayan Tekolabbua ini terbagi menjadi tiga tipe mesin. Per­tama, kategori mesin 5 GT yang membutuhkan sekitar 402 liter per bulan, berlayar selama dua hari, dan mampu menghasilkan sekitar 500 kilogram (kg) ikan.

Kategori kedua, mesin 10 GT membutuhkan sekitar 700 liter per bulan, tiga hari berlayar, dan mampu menghasilkan sekitar 2,5 ton ikan. Ketiga, mesin 25 GT yang membutuhkan sekitar 1.300 liter per bulan, berlayar seminggu sekali dan mampu menghasilkan sekitar 100 ton ikan.

“Untuk 1 ton itu mencapai 50 box, dan 1 box rata-rata harganya Rp 1 jutaan. Maka untuk kapal 25 GT lebih kurang bisa mendapat penghasilan Rp 50 juta per minggu atau sekali berlayar,” rincinya.

Tak hanya itu, dengan adanya SPBUN yang dibangun dekat dengan kampung nelayan wilayah Maros, nelayan tidak perlu lagi keluar jauh mengambil solar stok, sehingga biaya operasional pun bisa diminimalisir.

Baca juga : Garuda Muda Ngejar Status Raja Muda

Dia melihat, nelayan dan petani sangat antusias dengan Program Solusi Nelayan, karena berdampak langsung ke keuangan keluarga masing-masing.

“Kami berharap, semoga stok solar bisa ditambah dan selalu tersedia dengan baik,” harapnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Perkoperasian Kemenkop UKM Ahmad Zabadi menegaskan, Program Solusi Nelayan me­mastikan penyaluran BBM lebih akurat dan tepat sasaran. Serta membangun ekosistem usaha nelayan kecil dan tradisional.

“Dalam roadmap Solusi Ne­layan, pada 2025, Pemerintah melalui Kemenkop UKM, Ke­menterian BUMN, dan Kemen­terian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan terbangun­nya 250 koperasi nelayan beserta SPBUN,” ucapnya. DWI

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Senin, 29 Juli 2024 dengan judul "Program Solusi Nelayan Berjalan Mulus, Penyaluran Solar Subsidi Akurat Dan Tepat Sasaran"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.