Dark/Light Mode

Efisiensi Biaya Transaksi, Ethereum Jadi Ekosistem Menjanjikan

Sabtu, 3 Agustus 2024 09:00 WIB
Ethereum. (Foto: Ist)
Ethereum. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - CoinTelegraph mencatat jaringan Layer-2 Ethereum mengurangi biaya transaksi hingga 15 kali lipat dibandingkan dengan Layer-1 Ethereum. Hal ini menjadikannya lebih efisien untuk digunakan dalam aplikasi DeFi, NFT, dan game blockchain.

Berdasarkan laporan dari ConsenSys, Ethereum terus menunjukkan perkembangan dalam adopsi teknologi blockchain di berbagai sektor. Salah satu contoh utamanya adalah peluncuran jaringan Layer-2, yang berfungsi sebagai solusi scaling untuk Ethereum.

Penggunaan Layer-2 dijadikan solusi untuk meningkatkan dan memainkan peran penting dalam evolusi Ethereum. Dirancang untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi transaksi di blockchain membuatnya banyak diadopsi oleh pengguna dan pengembang.

Misalnya, DeFi di Ethereum menciptakan sistem keuangan terdesentralisasi dengan menggantikan atau melengkapi layanan keuangan tradisional seperti pinjaman, asuransi, perdagangan, dan simpanan menggunakan teknologi blockchain dan smart contracts.

Baca juga : Bamsoet Puji Imin Sukses Transformasi PKB Jadi Partai Milenial Modern

CTO Indodax yang juga aktif dalam advokasi industri Web3, William Sutanto mengatakan, keunggulan Ethereum sebagai blockchain dengan validator terbanyak, mengalahkan Solana.

“Ethereum mampu memfasilitasi inovasi baru di dunia keuangan, seperti DeFi yang mengubah cara kita melakukan saving dan lending secara transparan tanpa campur tangan organisasi manapun,” jelas William di event ETH Genesis Block : The Dawn of Ethereum, Jumat (2/8/2024).

Ethereum, sebagai salah satu platform blockchain terbesar di dunia, telah mengalami perubahan signifikan setelah upgrade terbaru. Peningkatan ini mencerminkan komitmen Ethereum untuk terus berinovasi dan mengatasi tantangan dalam lanskap blockchain dan cryptocurrency yang dinamis.

Selain itu, dalam dunia blockchain. Ethereum juga dikenal karena, kemampuannya mendukung smart contracts dan aplikasi terdesentralisasi (DApps). Membedakannya dari blockchain lain seperti Bitcoin, dimana Ethereum lebih fokus pada transaksi mata uang digital.

Baca juga : Mengapa Trump Jadi Sasaran Pembunuhan

Founder Komunitas Web3 Parallax, Mario mengatakan, visinya ETH itu salah satunya adalah fokus ke DApps, artikulasi DApss sendiri lagi di-push bersama-sama untuk terus dikembangkan, sementara untuk jaringan sudah cepat dan murah.

Semangat para pengembang jaringan Ethereum didorong oleh sifat desentralisasi, karena pembangunan aplikasi di Ethereum bisa menjadi tanpa batas. Berbeda dengan membangun aplikasi di tingkat lokal yang target pasarnya lebih terbatas, dengan teknologi Web3 pengembang dapat menargetkan pasar global yang memiliki potensi lebih besar.

Di sisi lain, Yan Zero dari komunitas Belajar DeFi menambahkan, Web3 itu privilege karena arenanya internasional, tidak melekat pada negara tertentu. Vietnam Web3-nya berkembang, dan banyak project besarnya. “Indonesia harus percaya diri juga, bare minimum Web3 itu bukan di Indonesia, tapi internasional,” ungkap Yan Zero.

ETF Ethereum juga menunjukkan tanda-tanda positif. ETF Ethereum diperkirakan akan mengalami kenaikan, didorong oleh likuiditas baru yang terus masuk, terutama dari pasar Amerika Serikat. Hal ini akan memudahkan akses ke Ethereum dan mendukung stabilitas harga, yang merupakan berita baik bagi investor dan developer di Indonesia.

Baca juga : Getol Sosialisasi, Potensi Layangan Tersangkut Di Jalur Whoosh Menurun

Investor dari Amerika Serikat, baik institusi maupun ritel, kini lebih mudah untuk membeli kripto seperti Ethereum karena adanya likuiditas baru yang masuk ke pasar keuangan. Namun, ada kendala terkait dengan ETF Ethereum. ETF ini tidak menggunakan Ethereum yang di-staking, yang menjadi masalah bagi investor, terutama institusi. 

“Mereka tidak hanya mencari capital gain dari investasi di Ethereum, tetapi juga ingin mendapatkan yield tambahan dari staking Ethereum,” ujar William.

Kata William, mendapatkan keuntungan tambahan dari Ethereum bisa didapatkan melalui teknik Dollar Cost Averaging (DCA). Melakukan teknik DCA di fitur investasi rutin Indodax dapat mengurangi risiko volatilitas pasar. Dengan cara ini, investor membeli lebih banyak unit saat harga rendah dan lebih sedikit unit saat harga tinggi, yang dapat membantu menurunkan biaya rata-rata per unit dari waktu ke waktu.

Tidak hanya itu, Indodax juga menawarkan fitur ‘Earn’ yang akan memberikan pengguna keuntungan dari staking. Staking Ethereum di Indodax akan memungkinkan pengguna untuk mengunci Ethereum dalam platform Indodax. Penguncian aset berjalan untuk jangka waktu tertentu, dan akan mendapatkan imbalan berupa Staking Rewards.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.