Dark/Light Mode

Mengapa Trump Jadi Sasaran Pembunuhan

Senin, 15 Juli 2024 06:26 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RM.id  Rakyat Merdeka -
Prof. Tjipta Lesmana
Pemgamat Politik Internasional

Pasca upaya pembunuhan terhadap mantan Presiden Amerika, Donald Trump, terjadi “perang” di platform X (dulu twitter) ­antara kubu Trump dan Joe Biden.Joe Biden mengatakan terlalu dini menilai insiden penembakan saat Trump kampanye sebagai suatu upaya pembunuhan.

Dengan lain perkataan, belum tentu itu upaya pembunuhan. Jadi, “Saya mengantongi semua faktanya. Pada saatnya saya akan buka kepada masyarakat," kata Biden.

Jika kita analisis makna ­pernyataan Biden di atas, bisa mengandung arti insiden penembakan terhadap Trump pada 13 Juli 2024 tidak lebih “kampanye murahan” Trump terkait semakin dekatnya pemilu di Amerika Serikat.

Baca juga : Quo Vadis Korupsi Di Indonesia

Pemilihan presiden AS pada November 2024 kemung­kinan besar diikuti dua calon, yaitu petahana, Biden dari Partai Demokrat dan Trump, pendahulu Biden. Belakangan tertiup suara-suara yang mengatakan kesehatan Biden makin merosot karena usianya yang makin tua. Sejumlah kalangan mendesak Biden mengundurkan diri sebagai calon presiden. Desakan ini kian keras tidak lama setelah debat presiden yang baru lalu. Di situ tampak Biden seperti “tidak siap”; sejumlah pernyataannya pun terbata-bata. Ironisnya, Biden mengakui hal ini kepada pers usai debat.

Kini tertiup “berita” bahwa ada kelompok pro-Biden yang sengaja meniupkan “ketidak­siapan” Biden terjun dalam Pilpres mendatang untuk memancing Trump. Gedung Putih seketika membantah ada kemungkinan Biden akan mundur.

Itulah politik. Pernyataan politisi tidak mesti selalu dipercaya. Sebab kebanyakan politisi, maaf, banyak bohongnya; maka jangan selalu dipercaya!

Adakah kemungkinan penembakan atas diri Trump semata-­mata sandiwara belaka, atau lelucon belaka? Sekali lagi, da­lam politik, tidak ada yang tidak mungkin. Politik adalah seni berkemungkinan. Apa tujuan melon­tarkan “sandiwara” seperti itu, kalau memang kejadian 13 Juli 2024 tidak lebih sandiwara belaka?

Baca juga : Fenomena PHK Sangat Merisaukan

Kubu Demokrat pimpinan Biden akan menggunakan segala cara – termasuk kemungkinan pembunuhan – menghadapi pilpres yang semakin dekat ini, begitu pesan “di bawah selimut” dari kejadian 13 Juli 2024.

Trump hanya menderita luka ringan dari peristiwa 13 Juli 2024, satu pengawal dan seorang pendukungnya tewas. Pelaku penembakan “bocah” berusia 20 tahun.

Seperti diketahui, menurut berita, penembakan atas Trump dilakukan ketika Republik menggelar rapat yang dihadiri sekian banyak anggota di sebuah stadium. Sebagai mantan presi­den, Trump dan keluarga masih berhak dikawal olah Paspampres, yakni pasukan FBI dengan bersenjata lengkap, ke mana pun dan di mana pun mereka berada. Sama seperti di negara kita, setiap mantan Presiden dan mantan Wakil Presiden masih mendapat pengawalan Paspampres dengan senjata lengkap.

Jika peristiwa 13 Juli tidak lebih “sandiwara” belaka, pesan di balik peristiwa itu mungkin berbunyi: Partai Demokrat siap bermain kasar untuk memenangkan Biden yang makin menurun kesehatannya, tetapi tetap ber­sikeras untuk maju terus.

Baca juga : Abraham Samad, Calon Gubernur DKI?

Di sisi lain, Partai Demokrat tampaknya ingin berjuang terus untuk mengalahkan Trump ­karena Trump dituding lawan berbahaya demokrasi di ­Amerika. Semua rakyat ­Amerika tidak pernah lupa bagai­mana ­ribuan pengikut Trump ­menyerbu dan menduduki Gedung Kongres Amerika pada 6 Januari, dua tahun lalu sebagai aksi protes besar atas kemenangan Biden dalam Pilpres ketika itu. Demokrat kala itu dituding main curang di banyak daerah. Sampai sejauh mana kebenaran tudingan “main curang” khususnya dalam perhitungan suara, kita orang luar tidak tahu. Kesan kita, tudingan Trump ketika itu tidak ditindak-lanjuti oleh Panitia Pemilu.

Ketidakpuasan dan kejengkelan Republik mencapai puncaknya tatkala Trump secara tidak langsung – melalui sejumlah pidatonya-- memprovokasi para pengikutnya untuk melawan “kecurangan” Demokrat ­dengan menyerbu dan menduduki Gedung Kongres, simbol utama Demokrasi Amerika Serikat yang megah di Washington DC.

Pada saatnya, masyarakat internasional akan mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada 13 Juli 2024: betulkah peristiwa itu upaya pembunuhan terhadap Trump atau tidak lebih sandiwara seperti yang tidak langsung dilontarkan oleh Demokrat. "Pada saatnya, saya akan buka fakta di balik peristiwa itu”, kilah Biden.

Tentu rakyat Indonesia patut bersyukur pemilu belum lama ini berlangsung damai walaupun diramaikan oleh hiruk-pikuk dan saling menuding juga. Yang jelas, sama sekali tidak ada insiden kekerasan, apalagi upaya pembunuhan terhadap tokoh-tokoh peserta Pemilu.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.