Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Keinginan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, untuk menekan angka impor LPG (Liquefied Petroleum Gas) sangat menarik.
Bahlil beralasan, pengembangan hilirisasi LPG untuk bisa menekan laju angka impor gas minyak cair itu, menjadi salah satu pekerjaan rumah yang diamanahkan oleh Presiden Jokowi dan Presiden terpilih 2024-2029 Prabowo Subianto.
Menyikapi hal tersebut, Ketua dan Founder Energy Institute for Transtition (EITS), Godang Sitompul meminta, Bahlil untuk mencermati terlebih dulu data konsumsi LPG di Indonesia plus nilai impornya. Data menunjukkan bahwa konsumsi LPG di Indonesia sudah melebihi 8 juta ton per tahun.
Baca juga : Jokowi Yakin, PAN Bisa Tembus 3 Besar Partai Di Indonesia
Pada 2023, realisasi konsumsi LPG bersubsidi mencapai sekitar 8,07 juta ton dan kuota untuk tahun 2024 diproyeksikan mencapai 8,12 juta ton. Dari nilai tersebut, sebanyak 6,95 juta ton atau lebih dari 85 persen diperoleh dari sumber impor.
"Jika dihitung dengan harga LPG 580 dolar AS/ton dengan kurs Rp 16.000 per dolar AS, maka nilai impor LPG mencapai Rp 64 triliun,” kata Godang dalam keterangan tertulis kepada media, Senin (26/8/2024).
Itu sebabnya, lanjut Godang, gas alam (natural gas) bisa diekstraksi menjadi LPG (Liquefied Petroleum Gas). LPG terutama terdiri dari propana dan butana, yang merupakan komponen-komponen hidrokarbon dalam gas alam.
Baca juga : J Trust Bank Tunjuk Bitera Sediakan Layanan Data Center
Hilirisasi lapangan-lapangan terindikasi mengandung LPG agar segera melakukan Upaya-upaya proses produksi LPG, seperti yang ditemukan di Wilayah Kerja North Ganal sumur Geng North-1 bisa diolah menjadi LPG di Kilang Gas Bontang Badak NGL, Kalimantan Timur.
Dia menambahkan, beberapa lapangan migas di Indonesia memang memiliki potensi untuk menghasilkan LPG sebagai produk sampingan dari eksploitasi gas alam. Berdasarkan informasi yang ada, terdapat 17 lapangan migas di Indonesia yang memiliki indikasi kandungan LPG dengan total kapasitas sekitar 1,2 juta ton per tahun.
Lapangan-lapangan tersebut biasanya mengandung gas alam yang dapat diekstraksi menjadi propana dan butana, komponen utama LPG. Pengembangan lebih lanjut terhadap lapangan ini penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor LPG, terutama karena kebutuhan domestik terus meningkat
Baca juga : Kasus Harun Masiku, KPK Cekal Lima Orang
“SKK Migas perlu mendata lapangan-lapangan itu dan bekerja sama dengan Ditjen Migas untuk menawarkan kepada investor potensi membangun kilang LPG dengan mengekstraksi gas alam menjadi LPG,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya