Dark/Light Mode

Ekspor CPO Menurun, Gapki Minta Pemerintah Turun Tangan

Kamis, 29 Agustus 2024 10:26 WIB
Kelapa sawit. (Foto: Antara)
Kelapa sawit. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menanggapi terus menurunnya ekspor minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO). Pemerintah diminta mengeluarkan kebijakan yang mendukung CPO Indonesia agar bisa lebih kompetitif di pasar ekspor.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Gapki, Eddy Martono di Belitung Timur, Babel, sepertj dikutip dari Antara, Kamis (29/8/2024).

Menurut dia, negara tujuan ekspor CPO mulai mengurangi permintaannya. Salah satunya China. Negeri Tirai Bambu ini mengurangi impor minyak sawit dari Indonesia mengingat harganya lebih mahal dibandingkan minyak nabati lainnya.

Baca juga : Ini Jurus Pemerintah Tekan Impor Migas

"Minyak sawit ini harganya lebih mahal dibandingkan minyak bunga matahari, sehingga mereka (China) melakukan pembelian banyak, sehingga ada pengurangan impor (minyak sawit) mereka," katanya.

Eddy mengatakan, kebijakan dari pemerintah yang diperlukan bagi industri misalnya dengan memainkan instrumen fiskal. Misalnya, harga minyak sawit dapat diturunkan sementara pada saat harga minyak sawit tidak kompetitif. Setelah kompetitif kembali, harga minyak sawit dapat dinaikkan kembali.

Meskipun pangsa pasar global untuk minyak sawit mendominasi di antara minyak nabati lainnya, Eddy mengingatkan, pangsa pasar minyak sawit hanya 33 persen. Dengan kata lain, masih ada pangsa pasar sebesar 67 persen untuk minyak nabati lainnya termasuk minyak bunga matahari.

Baca juga : Sivitas Universitas Paramadina Minta DPR & Pemerintah Patuhi Putusan MK

Sementara agar bisa mempengaruhi harga internasional minyak sawit, imbuh dia, dibutuhkan peningkatan pangsa pasar lebih dari 50 persen di antara minyak nabati lainnya.

"Apabila pangsa pasar minyak sawit itu bisa lebih dari 50 persen, baru kita bisa mengendalikan harga. Mengendalikan ya, maksudnya bahwa kita bisa memainkan harganya (bukan menetapkan harga)," kata dia.

Meskipun menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, Eddy mengatakan, Indonesia juga tidak bisa menetapkan harga secara internasional. Penentuan harga minyak sawit internasional, jelas dia, merupakan pertemuan antara penawaran (supply) dan permintaan (demand).

Baca juga : Banteng Cocok Di Luar Pemerintahan Saja

"Termasuk, walaupun Malaysia (produsen minyak sawit terbesar kedua dunia) itu punya bursa, dia juga tidak bisa mengendalikan harga. Malaysia itu juga sama sebenarnya dengan Indonesia. Harga minyak sawit internasional adalah pertemuan antara supply dan demand sehingga terbentuk harga di situ," kata Eddy.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan turunannya per Juli 2024 mencapai 1,62 juta ton. Jumlah tersebut turun tajam secara tahunan (yoy) dibandingkan Juli 2023 yang mencapai 2,75 juta ton.

Nilai ekspor CPO dan turunannya per Juli 2024 juga turun, yakni sebesar 39,22 persen (yoy) dari 2,28 miliar dolar AS menjadi 1,39 miliar dolar AS. Adapun secara bulanan (mtm), nilai ekspor CPO dan turunannya per Juli 2024 turun sebesar 36,37 persen dari sebelumnya 2,18 miliar dolar AS pada Juni 2024.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.