Dark/Light Mode
Sebelumnya
Dalam kesempatan yang sama, Kiki tidak lupa mengajak generasi muda, khususnya bagi generasi zoomers atau Gen Z (tahun kelahiran 1997-2012) untuk terus memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan secara bijak, sebagai bagian dari perencanaan keuangan ke depan.
Ia juga mengingatkan masyarakat, terutama Gen Z, jangan lagi mudah terjebak tawaran menambah utang lewat pinjaman online (pinjol) legal, apalagi ilegal.
Mantan bos PT Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) ini meyakini, literasi keuangan yang baik dan inklusi keuangan yang bijak akan menjadikan generasi muda cerdas mengelola keuangan.
“Serta terhindar dari kejahatan keuangan dan dapat menjadi agen literasi di tengah-tengah masyarakat,” pesan Kiki.
Menurut Kiki, literasi keuangan bagi Gen Z menjadi hal yang sangat penting mengingat jumlah generasi tersebut mendominasi populasi nasional. Yaitu 27,94 persen dari total penduduk Indonesia.
Baca juga : Anggaran Baiknya Dialihkan Buat Bansos Dan Pasar Murah
Di era digital saat ini, Gen Z juga dihadapkan dengan berbagai fenomena sosial. Seperti You Only Live Once (YOLO), Fear of Missing Out (FOMO) dan Fear of Other People Opinion (FOPO), sehingga tak jarang mengarahkan generasi muda ke pola hidup konsumtif. Dan berdampak pada pengelolaan keuangan yang tidak bijaksana.
Tak hanya itu, lanjut Kiki, ada pula fenomena Doom Spending yang terjadi di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Doom spending berarti seseorang yang berbelanja cenderung impulsif, tanpa mempertimbangkan penting atau tidaknya suatu barang.
Kiki menjelaskan, fenomena serupa yang marak adalah instant gratification, yang merupakan perilaku untuk mendapatkan keinginan tanpa mencoba melakukan penundaan.
Kebiasaan tersebut perlu diimbangi dengan perilaku delayed gratification, yaitu menunda pemenuhan kesenangan saat ini demi masa depan yang lebih baik.
Karenanya, Kiki mengimbau generasi muda mampu lebih bijak untuk menggunakan produk dan layanan jasa keuangan.
Baca juga : Pemilihan RT, RW Dan LMK Di DKI Rawan Dipolitisasi
“Kemampuan membedakan antara need and want juga harus dimiliki, agar terhindar dari pola hidup konsumtif,” ucapnya.
Kiki bahkan menyebut, tren utang membawa Gen Z masuk dalam risiko over-indebtedness, atau utang berlebihan yang ditimbulkan dari aplikasi pinjol. Dan membuat anak muda terjerumus ke jurang kemiskinan.
“Hal ini juga menjadi bahasan dalam forum internasional, termasuk paylater, yang masuk dalam risiko over-indebtednes,” ujarnya.
Untuk itu, OJK gencar melakukan inklusi keuangan yang bertanggung jawab, bukan hanya sekadar kepada inklusi.
“Artinya, anak-anak muda yang tidak punya penghasilan, jangan dipaksa spending (ambil pinjaman demi belanja),” imbaunya.
Baca juga : Timnas Indonesia Tiba Di Bahrain, Tim Garuda Siap Tempur
Pada agenda di Balikpapan tersebut, OJK juga menggelar acara Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It) series dengan tema: GENCARKAN Investasi bagi Generasi Muda Menuju Indonesia Maju.
Like It series terselenggara berkat kolaborasi antara OJK bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI), serta Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) dalam Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan melalui Pasar Keuangan (FK-PPPK).
Kegiatan ini untuk menyebarluaskan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi keuangan dan memupuk budaya berinvestasi, melalui pemanfaatan produk dan layanan jasa keuangan, baik konvensional maupun syariah. DWI
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Senin, 7 Oktober 2024 dengan judul "Gencar Investasi Di Segmen AI, Kinerja Telkom Kian Melesat"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.