Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Regulasi OJK Masih Relevan
Bursa Karbon Dilirik Banyak Perusahaan
Jumat, 18 Oktober 2024 07:05 WIB
Sebelumnya
“Ini untuk meningkatkan jumlah produk dan volume transaksi bursa karbon,” ucap Inarno saat konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, di Jakarta, Selasa (1/10/2024)
Menurut mantan bos BEI ini, Peraturan OJK (POJK) yang terkait bursa karbon untuk saat ini masih relevan untuk implementasinya.
Ia pun membeberkan, nilai perdagangan bursa karbon sejak 26 September 2023 hingga 27 September 2024 mencapai Rp 37,06 miliar.
“Sepanjang periode itu, tercatat 81 pengguna jasa mendapatkan izin, dengan total volume sebesar 613.894 tCO2e dan akumulasi nilai sebesar Rp 37,06 miliar,” jelasnya.
Adapun rincian nilai transaksi 26,75 persen di Pasar Reguler, 23,18 persen di Pasar Negosiasi, 49,87 persen di Pasar Lelang dan 0,21 persen di marketplace.
Baca juga : Indonesia Jangan Tergantung Impor
Selain itu ada sekitar 3.974 pendaftar tercatat di Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI).
“Potensi bursa karbon di Indonesia masih sangat besar,” katanya.
Dilansir dari website www.pertamina.com, Pertamina New & Renewable Energy (NRE) menjadi penjual kredit karbon pertama pada saat diluncurkannya perdagangan Perdana IDX Carbon pada 26 September 2023.
Volume kredit karbon yang diperdagangkan mencapai sekitar 864 ribu ton CO2e (setara karbondioksida).
Corporate Secretary Pertamina NRE Dicky Septriadi mengatakan, saat perdagangan Perdana di IDX Carbon, volume yang terjual mencapai sekitar 460 ribu ton CO2e. Dan hingga Juli 2024 realisasi volume penjualan meningkat hingga mencapai sekitar 565 ribu ton CO2e.
Baca juga : Nih, Jurus DKI Antisipasi Loncatnya Harga Pangan
Saat ini kredit karbon Pertamina NRE menguasai 93 persen pangsa pasar kredit karbon di Indonesia.
Menurutnya, penjualan kredit karbon Pertamina NRE di bursa karbon meningkat. Terlebih, kesadaran pelaku industri terhadap isu perubahan iklim mendorong peningkatan upaya penurunan emisi atas aktivitas operasional korporasi.
“Hal ini salah satunya tercermin, dari meningkatnya penjualan kredit karbon Pertamina NRE,” kata Dicky melalui siaran pers, Rabu (7/8/2024).
Pihaknya berkomitmen kuat terhadap upaya dekarbonisasi di Indonesia. Salah satunya melalui perdagangan kredit karbon untuk mendukung penurunan emisi, terutama di sektor industri.
“Kami memiliki berbagai portofolio hijau dan energi bersih yang berpotensi menjadi sumber kredit karbon,” akunya.
Baca juga : Manchester United Vs Brentford, Setan Merah Status Siaga
Karenanya, perseroan sangat terbuka dan antusias untuk bekerja sama dengan industri, yang memiliki aspirasi untuk menurunkan emisi dari aktivitas operasionalnya.
Saat ini Pertamina NRE memiliki kredit karbon dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Unit 5 dan 6 yang dikelola anak usaha Pertamina NRE, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), dengan volume sekitar 864 ribu tCO2e, yang dihasilkan selama periode 2016–2020.
Ia memastikan, kredit karbon ini telah memenuhi standar nasional yang ditetapkan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). IMA
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Jumat, 18 Oktober 2024 dengan judul "Regulasi OJK Masih Relevan, Bursa Karbon Dilirik Banyak Perusahaan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya