Dark/Light Mode

Kondisi Geopolitik Dan Ekonomi Global Tak Baik-baik Saja

Airlangga: Pemerintah Pantau Pilpres Amrik

Rabu, 6 November 2024 07:00 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi global, termasuk Pemilihan Presiden (Pilpres) di Amerika Serikat (AS). Apalagi kondisi Geopolitik dan perekonomian global saat ini sedang tidak baik-baik saja.

"Melihat perkembangan Pilpres di AS merupakan hal penting. Mengingat Indonesia dan negara-negara di ASEAN mengandalkan konsumsi dari Eropa, China dan Amerika," kata Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/11/2024).

Terlebih, kata Airlangga, pertumbuhan ekonomi dunia belum kembali ke level pra-pandemi yang relatif solid di angka 6 persen.

Baca juga : MRT Rute Bekasi-Jakbar Mulai Digarap Tahun 2025

Adapun saat ini, rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia hanya sekitar 3 persen.

"Seluruh dunia masih melihat bahwa kondisi global belum baik-baik saja. Jadi, kita juga harus memperhatikan perkembangan kekuatan ekonomi di negara-negara lain," ucap Airlangga.

Mantan anggota DPR ini menilai, pemantauan dinamika Pilpres AS diperlukan, lantaran kebijakan negara sedikit banyak bakal berubah pasca berganti kepemimpinan.

Baca juga : Inter Milan Vs Arsenal, Pertarungan Gengsi

Airlangga juga menyoroti turunnya jumlah kelas menengah di negara tersebut. Penurunan jumlah kelas menengah di AS akan mengurangi permintaan sejumlah barang dan jasa di Indonesia.

"Nah, pekerjaan presiden terpilih itu penting untuk mengangkat kelas menengah," ucapnya.

Airlangga menyinggung kebijakan Presiden AS Joe Biden yang mendorong sektor manufaktur kembali ke AS, setelah sebelumnya disebar ke negara- negara Asia.

Baca juga : Lanjutan NBA 2024-2025, Cavaliers Belum Terkalahkan

Kebijakan ini diambil karena AS tak ingin bergantung lebih banyak ke negara-negara Asia.

"Makanya mereka keluarkan yang namanya Inflation Reduction Act, termasuk di dalamnya untuk critical mineral. Indonesia sudah mulai berbicara dengan Amerika untuk critical mineral. Karena kita adalah the largest producer dari nikel dan electric vehicle ecosystem, termasuk anodanya," jelas Airlangga.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.