Dark/Light Mode

Indonesia Dipuji

Pertamina Dan MIND ID Sukses Selaraskan Transisi Energi Dan Pertumbuhan Ekonomi

Jumat, 8 November 2024 16:07 WIB
DEB Pertamina di Desa Pulau Semambu, Kabupaten Ogan Ilir memanfaatkan energi terbarukan dari sinar matahari untuk mendukung pertanian uamah lingkungan. (Foto: Pertamina)
DEB Pertamina di Desa Pulau Semambu, Kabupaten Ogan Ilir memanfaatkan energi terbarukan dari sinar matahari untuk mendukung pertanian uamah lingkungan. (Foto: Pertamina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ahli Ekonomi Prof. John Ure menyoroti posisi Indonesia menjelang abad 21. Saat ini, menurut Prof. Ure, Indonesia tidak termasuk dalam kelompok negara industri baru. Terlebih, pada tahun 2024, Bank Dunia mengkategorikan Indonesia sebagai negara yang sukses mencetak Produk Domestik Brutto (PDB) lebih dari 1 triliun dolar Amerika Serikat (AS) atau Rp 15,67 kuadriliun.

Sejak tahun 2020, Indonesia memperlihatkan lonjakan pertumbuhan yang luar biasa, setelah ekonomi pulih dari Covid-19. Pertumbuhan sebesar ini biasanya menimbulkan banyak tantangan bagi negara-negara berkembang pada umumnya. Terutama, ketika ekonomi bergantung pada industri ekstraktif yang mengambil sumber daya alam secara langsung dari perut bumi untuk ekspor dan pasokan listrik domestik. Sebab, fluktuasi harga gas dan minyak global dapat merusak anggaran nasional.

“Dua BUMN yang bergerak di bidang pertambangan, petrokimia, dan energi: Pertamina dan MIND ID, berhasil mencetak keuntungan yang luar biasa karena lonjakan permintaan pasca Covid-19,” kata Prof. Ure dalam tulisan yang dipublikasikan Asia Analysis edisi Oktober 2024.

Tahun 2023, Pertamina sukses mencetak profit Rp 14 triliun. Sementara MIND ID Rp 7 triliun. Kedua BUMN ini menjadi kontributor dividen BUMN tertinggi kedua dan kelima bagi perekonomian Indonesia.

Nicke Widyawati yang saat itu masih menjabat Direktur Utama Pertamina menjelaskan, rekor profit 1,25 miliar dolar AS atau Rp 19,60 triliun tak lepas dari efisiensi biaya operasional yang terus diupayakan.

Baca juga : Transmigrasi Jadi Kawasan Pertumbuhan Ekonomi Baru

Beberapa sumber menyebutkan, efisiensi biaya secara keseluruhan sejak tahun 2021 telah berkontribusi pada penghematan hingga 3,273 miliar dolar AS atau Rp 51,33 triliun.

Menariknya, profitabilitas kedua BUMN ini juga digunakan untuk berinvestasi dalam energi terbarukan, meningkatkan lapangan kerja lokal, dan menarik investasi modal. Indonesia yang sangat kaya bahan bakar fosil dan mineral seperti nikel, emas, dan aluminium, menghadapi tantangan untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil, sambil menyeimbangkan manfaat ekonomi. Antara lain, dengan membuat ekosistem baterai kendaraan listrik, sambil menjaga kelestarian alam. 

Kabar baiknya, di antara negara-negara berkembang,  Indonesia menjadi pemimpin di bidang ini.

Kemitraan JETP

Indonesia adalah negara ekonomi Asia pertama yang mendaftar untuk skema Kemitraan Transisi Energi Adil (JETP) di bawah Kemitraan untuk Infrastruktur dan Investasi Global (PGII) G20 pada tahun 2022. Ketika itu, Indonesia memegang Presidensi G20.

Perjanjian JETP ditandatangani di Gedung Putih oleh Presiden AS Joe Biden, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, dan para pemimpin Kelompok Mitra Internasional (IPG). Termasuk Uni Eropa, Inggris, dan Jepang. 

Baca juga : Inovasi BIG MIND Jurus Jitu Dongkrak Kinerja Perusahaan

Kemitraan ini bertujuan untuk memobilisasi dana senilai 20 miliar dolar AS atau Rp 313,79 triliun dalam pembiayaan publik dan swasta untuk kebutuhan transisi energi selama 3-5 tahun. Dengan menggunakan campuran hibah, pinjaman konsesi dari anggota G7, pinjaman suku bunga pasar, jaminan, dan investasi swasta.

Seperti diketahui, Indonesia berkomitmen mengurangi puncak emisi karbonnya pada tahun 2030, serta membatasinya pada angka 290 MtCO2 (turun dari baseline 357 MtCO2), dan menargetkan nol emisi karbon di sektor kelistrikan dalam 10 tahun ke depan, hingga 2050. 

Investasi dalam energi terbarukan menargetkan 34 persen dari semua daya yang dihasilkan pada tahun 2030, atau kira-kira dua kali lipat dibanding tahun 2022.

Transisi Hijau & Job Creation

PERTAMINA dan MIND ID memperkirakan, pencapaian pengurangan karbon dalam periode 2019-2023 telah menyentuh angka 1,3 MtCO2. Ekspansi energi bersih ini telah berhasil menghemat sekitar Rp 2,5 miliar (161.290 dolar AS) per tahun, yang kemudian dialihkan ke bisnis lokal.

Bagian penting dari program energi hijau di PERTAMINA adalah Desa Energi Mandiri (DEB), yang berkembang di seluruh Indonesia. Melalui DEB, PERTAMINA telah mengerahkan 64 tenaga surya, 12 biogas, enam hydropower, satu solar-wind hybrid, dan dua teknologi biodiesel untuk kebutuhan listrik rumah tangga dan alat produksi di komunitas lokal.

Baca juga : Pertamina Dekarbonisasi Emisi Pelari Eco RunFest

Di Jawa Tengah, DEB telah mengembangkan pabrik desalinasi hydro-powered. Konsep DEB dipertahankan dengan melatih rekrutan lokal dalam proyek energi hijau. Misalnya, DEB di Rantau (Aceh) yang melatih dan memberdayakan orang-orang cacat di bengkel sepeda motor bertenaga surya. Penciptaan lapangan kerja telah menjadi yang terdepan dalam strategi hijau Indonesia.

Sejalan dengan perekrutan peserta pelatihan melalui peluncuran lini bisnis surya dan panas bumi, PERTAMINA dan MIND ID telah mengembangkan peluang kerja yang terkait dengan bahan mineral hijau melalui anak perusahaannya: INALUM.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.