Dark/Light Mode

Perhimpunan Pengusaha Kelapa Sawit Sepakati Bentuk Dokter Kesehatan Perkebunan Sawit Rakyat

Jumat, 6 Desember 2024 16:30 WIB
Para Pakar dan pemerhati kelapa sawit saat membahas kemajuan industri sawit. (Foto: Istimewa)
Para Pakar dan pemerhati kelapa sawit saat membahas kemajuan industri sawit. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Perkumpulan Roundtable Ganoderma Management (RGM), Darmono Taniwiroyono mengatakan ganoderma (jamur) seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, kata Darmono bisa merugikan petani, tapi di sisi lain bisa menguntungkan.

Akan tetapi, menurutnya keberhasilan implementasi program nasional menuju kecukupan pangan dan energi dari industri kelapa sawit tak terlepas dari peran ganoderma.

"Sebagai contoh, ketika pasokan menurun, peningkatan serapan minyak sawit untuk meningkatkan penggunaan B35 ke B40 kemudian ke B50 bisa dilaksanakan dengan mengurangi porsi untuk ekspor," kata Darmono, dalam keterangannya, Jumat (6/12/2024).

Menurut Darmono, peningkatan produktivitas dapat ditempuh melalui peremajaan sawit rakyat (PSR).

Baca juga : Pemerintah Optimalkan Lahan Telantar Untuk Program 3 Juta Rumah Rakyat

Namun, keberhasilan PSR tidak hanya ditentukan oleh tertanamnya bibit unggul dengan produktivitas tinggi di lapangan. Melainkan juga sangat ditentukan oleh keberhasilan tanaman bertahan dari serangan kumbang tanduk di 5 tahun pertama, dan serangan Ganoderma di 5 tahun berikutnya.

"Jangan sampai sudah 10 tahun tanam, tapi kemudian karena kena serangan hama dan ganoderma, kebun kita harus diremajakan lagi," ujarnya.

Darmono bilang, ada tiga pilar tindakan utama dalam gerakan nasional pengendalian ganoderma. Pertama, tindakan mitigatif terhadap lingkungan di dalam tanah dan udara.

Kedua, tindakan preventif yang harus dilakukan di pembibitan, penanaman, tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). "Terakhir tindakan kuratif," ungkap Darmono.

Baca juga : Migrant CARE Dorong Kolaborasi untuk Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran

Di kesempatan sama, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga menjelaskan bahayanya ganoderma bagi perkebunan kelapa sawit.

"Kondisi ini sangat serius, terlebih perkebunan kelapa sawit rakyat yang mencapai 41 perden dari total luasan16.38 juta hektare (ha)," sebut Sahat.

Sementara, pakar Ganoderma Henny Hendarjanti menekankan perlunya sinergi nasional dan kolaborasi.

"Kehadiran Pak Sahat diharapkan bisa mendorong bagi terwujudnya sinergi gerakan nasional pengendalian Ganoderma," imbuh Henny.

Baca juga : Senayan Dorong Pemerintah Perkuat Satgas Pamtas

Adapun dalam forum ini menyepakati  dibentuknya Dokter Kesehatan Perkebunan Sawit Rakyat (DKPSR). Tugas DKPSR salah satunya memonitor kondisi kesehatan sawit rakyat dengan memanfaatkan penginderaan menggunakan satelit yang teknologinya semakin canggih. Sehingga dapat menjangkau seluruh perkebunan kelapa sawit rakyat dalam waktu yang cepat dengan presisi tinggi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.