Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Lepas Ekspor Benih, Mentan Optimis Produk Hortikultura Terus Meningkat
Selasa, 17 Desember 2019 13:26 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Peningkatan daya saing produk pertanian merupakan keniscayaan. Terlebih di tengah pertumbuhan penduduk Indonesia yang saat ini diperkirakan mencapai 267 juta jiwa.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Indonesia berpotensi sebagai pasar yang besar bagi produk sejenis dari negara lain. Tak terkecuali untuk sektor hortikultura. "Saya minta hortikultura ke depan harus lebih maju, mandiri, dan modern," ujar dia di sela-sela pelepasan ekspor benih hortikultura PT East West Seed Indonesia (EWINDO), di Purwakarta, Jawa Barat, Senin (16/12).
SYL, demikian Syahrul disapa, memaparkan untuk menghasilkan produk hortikultura berdaya saing, harus betul-betul memerhatikan aspek kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Serta mampu berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan. "Dan saya yakin dengan potensi dan keunggulan bangsa kita, semua itu bisa tercapai," jelas dia.
SYL mengapresiasi peran swasta seperti yang dilakukan EWINDO. Menurutnya, ekspor benih yang dilakukan perusahaan tersebut sejalan dengan visi pemerintah di sektor pertanian.
"Kita berharap pada tahun mendatang nilai ini dapat ditingkatkan 3 kali lipat sesuai dengan program yang saya canangkan, Gerakan Tiga Kali Eskpor (GERTIKS). Saya harap tahun depan sayuran dan buah-buahannya yang diekspor," lanjut dia.
Baca juga : SYL Lepas Ekspor Peternakan dari Jawa Timur
Dalam kesempatan itu, SYL juga meminta Ewindo menjadi bagian pelopor gerakan kebangsaan. Khususnya bagaimana menggerakkan sektor pertanian.
"Potensi bangsa kita amat besar. Ekspor harus terus diperluas. Sejahterakan para petani. Melakukan ekspor itu adalah bagian dari derajat kebangsaan kita. Kalau kita impor itu artinya kita lemah, berarti bangsa kita lemah. Boleh impor, tapi harus lebih banyak eskpor. Itulah jati diri bangsa kita," katanya.
Menurut Syahrul, sektor pertanian adalah solusi dari segala persoalan bangsa Indonesia karena berkaitan langsung dengan pemenuhan perut masyarakat Indonesia. Terlebih soal pembukaan lapangan kerja. "Kalau kamu mau urus pertanian kita dengan baik, maka disitulah letak dan posisi kesejahteraan bangsa kita. Dan inilah yang harus menjadi tugas kita bersama. Kita harus menjadi pelopor dari semua gerakan kebangsaan," katanya.
Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi mendukung upaya Kementerian Pertanian dalam meningkatkan ekspor pertanian. Dukungan itu salah satunya dengan mengawasi semua kebijakan impor. "Karena yang ada di pikiran kita harus ekspor ekspor ekspor seperti yang pak Menteri sampaikan," katanya.
Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menyampaikan terima kasih atas kunjungan menteri pertanian di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Dia berharap, kunjungan ini bisa mampu memompa semangat petani dalam menguatkan ketahanan pangan yang dicanangkan.
Baca juga : Prestasi Moncer, Tata Kelola Perusahaan Kian Meningkat
"Alhamdulillah pada tahun 2019 ini Kementerian Pertanian sudah membantu kabupaten kami dengan memberi alat-alat mesin pertanian yang memang disenangi kaum milenial. Sekali lagi terima kasih," katanya.
Ada pun total benih yang diekspor senilai Rp 10 miliar dari total nilai yang ditargetkan sebanyak Rp 48 miliar, selama kurun waktu 2019. Negara-negara tujuannya antara lain India, Jepang, Hong Kong, Srilanka, Bangladesh, Pakistan, serta negara-negara ASEAN (Thailand, Filipina, Malaysia, Myanmar, Vietnam). Benih yang sudah berhasil diekspor melingkupi labu, pare, kacang panjang, mentimun, oyong, labu air, cabe, semangka, bayam, terong, buncis, kangkung, melon, jagung manis, bawang merah, tomat, selada, dan kembang kol.
Dirjen Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto menjelaskan, subsektor pertanian memiliki peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Merujuk Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan PDB sektor pertanian triwulan II-2019 meningkat 5,41 persen. Pertumbuhan PDB tersebut lebih besar dari triwulan II-2017 dan 2018 yang masing-masing sebesar 3 persen dan 5,01 persen. "Subsektor hortikultura menjadi penyumbang terbesar kedua untuk PDB sektor pertanian yakni 6,11 persen," jelas Prihasto.
Dikatakan Anton, saat ini pemerintah tengah merumuskan arah pengembangan hortikultura dalam lima tahun ke depan, khususnya dalam hal peningkatan daya saing komoditas hortikultura. "Kami namakan GEDOR HORTI yang berarti gerakan mendorong produksi, daya saing, ramah lingkungan hortikultura," jelas Anton.
Dia berharap, melalui GEDOR HORTI ini mampu meningkatkan persaingan di pasar internasional. Utamanya dalam menjaga kualitas dan standar mutu produk hortikultura yang berorientasi ekspor. "Karena kualitas merupakan hal yang paling penting bagi konsumen."
Baca juga : Anggap Bukan Penentu Proyek, MA Korting Hukuman Idrus Marham
Terkait ekspor benih EWINDO, Anton menambahkan bahwa kunci peningkatan daya saing usaha budidaya hortikultura adalah dukungan ketersediaan benih bermutu. Sebab benih merupakan komponen utama penunjang keberhasilan budidaya pertanian.
"Benih bermutu memiliki jaminan menghasilkan produk yang diinginkan dan mampu bersaing dengan produk manca negara. Penggunaan benih berkualitas ini adalah juga menjadi salah satu variebel utama bagi petani untuk meningkatkan produktivitas," pungkasnya. [KAL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya