Dark/Light Mode

Pemerintah Percepat Monetisasi Lapangan Gas untuk Ketahanan Energi Nasional

Rabu, 11 Desember 2024 06:30 WIB
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah berkomitmen mempercepat pengembangan lapangan-lapangan gas baru guna memperkuat ketahanan energi nasional serta mendukung transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.

Gas bumi berperan penting dalam transisi dari energi fosil ke energi bersih, terutama dengan penerapan teknologi carbon capture and storage (CCS).

Ini menjadi sorotan dalam webinar yang diselenggarakan oleh Resourcesasia.id pada 10 Desember 2024, bertajuk “Strategi Pemerintah Mempercepat Monetisasi Giant Gas Discovery”.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana, menjelaskan bahwa pengembangan gas bumi akan dipercepat selama transisi energi, mengingat emisi gas bumi lebih rendah dibandingkan batubara dan minyak.

"Sehingga produksi gas bumi akan terus meningkat dalam dua hingga tiga tahun ke depan," tutur Dadan yang juga menjabat Plt. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM.

Dia menekankan pentingnya teknologi CCS dalam proyek-proyek gas yang sedang berjalan. Proyek-proyek pengembangan lapangan gas yang sedang berjalan, seperti di Blok Masela dan Tangguh, akan menerapkan teknologi ini.

Baca juga : Prabowo Ingatkan Pejabat Hemat Anggaran & Hentikan Kebocoran di Semua Lini

Selain itu, gas bumi juga vital sebagai bahan baku industri pupuk, mendukung swasembada pangan, serta memenuhi kebutuhan energi domestik.

Gas bumi juga turut berkontribusi pada visi Presiden Prabowo mengenai swasembada energi dan kedaulatan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang targetkan 8 persen.

"Demi mencapai ini, pemerintah akan terus mendorong pemanfaatan gas bumi domestik melalui kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) untuk meningkatkan daya saing industri nasional," tambah Dadan.

Kepala Departemen Pengembangan Lapangan SKK Migas, Arya Disiyona, menjelaskan upaya percepatan monetisasi cadangan gas yang dilakukan oleh SKK Migas dan pemerintah.

Salah satu contoh konkret adalah temuan gas di Sumur Geng North-1, Blok North Ganal, oleh ENI SpA.

"Temuan ini, yang terjadi pada tahun 2023, memperoleh persetujuan rencana pengembangan lapangan pada Agustus 2024, hanya dalam waktu 10 bulan. Proyek pengembangan ini ditargetkan onstream pada tahun 2027," terang Arya.

Baca juga : Kementerian PU Pastikan Kesiapan Infrastruktur Dasar Pemindahan ASN Ke IKN

Dia menambahkan bahwa SKK Migas dan pemerintah memberikan berbagai insentif kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) hulu migas.

Hal ini untuk menarik keekonomian proyek pengembangan lapangan gas.

Prioritaskan Kebutuhan Domestik

Senior Manager Gas Commercial & Monetization PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Dani Jatnika, menyatakan bahwa sesuai arahan SKK Migas dan pemerintah, produksi gas dari Blok Masela akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik.

“Kami bukan operator Blok Masela, namun sesuai dengan POD dan arahan pemerintah serta SKK Migas, sekitar 40 hingga 60 persen produksi gas dari Blok Masela akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik. PT Pupuk Indonesia juga akan membangun pabrik pupuk di Masela dengan kapasitas 150 mmscfd,” jelas Dani.

Selain itu, Inpex, operator Blok Masela, masih berdiskusi dengan calon pembeli domestik lainnya, seperti PLN dan PGN, untuk mengalihkan gas dalam bentuk LNG ke pembangkit listrik PLN dan industri PGN.

PGN Siap Menjadi Aggregator Gas

Nasional Group Head of Gas, Supply & LNG Trading PT Pertamina Gas Negara (PGN), M. Anas Pradipta, menyatakan kesiapan PGN untuk menjadi aggregator gas nasional.

Baca juga : Pertamina Dan PLN Pastikan Ketersediaan Energi Aman

Sejak 2024, PGN telah berpengalaman dalam mendistribusikan LNG dari tiga kilang LNG di Indonesia untuk pasar industri.

"PGN siap menyerap produksi gas dari proyek pengembangan lapangan-lapangan gas baru. Termasuk gas dari Masela dan IDD yang akan berbentuk LNG," ujar Anas.

Pentingnya Pemanfaatan Semua Sumber Energi

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro memberikan pandangannya mengenai swasembada energi.

Dia berpendapat bahwa Indonesia dapat mencapai swasembada energi jika seluruh potensi sumber energi, baik fosil maupun terbarukan, dimanfaatkan secara optimal.

"Tidak seharusnya ada dikotomi antara energi bersih dan energi fosil. Dengan optimisme dan pendekatan yang komprehensif, Indonesia bisa mandiri dalam energi," tutup Komaidi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.