Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kadin Optimis, Ekonomi 2025 Tumbuh Melalui Realisasi Program Strategis Pemerintah
Selasa, 31 Desember 2024 18:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah berbagai tantangan, baik dari sisi global maupun domestik, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) tetap optimistis Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka bersama dunia usaha dapat menciptakan banyak peluang untuk mendorong pertumbuhan secara optimal menuju 8 persen. Untuk itu, Kadin telah membuat catatan khusus dan rekomendasi.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, mengatakan salah satu hal yang paling penting untuk Indonesia saat ini adalah investasi. Untuk menghadirkan itu, yang penting untuk digarisbawahi adalah kepastian hukum yang akan menjadi cikal bakal kebangkitan atau keberlanjutan dari investasi yang sangat dibutuhkan di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Anin dalam sambutannya secara daring melalui video conference di acara “Kadin: Global and Domestic Economic Outlook 2025”, di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Senin (30/12/2024). Acara mengusung tema "Mengorkestrasi Tantangan Perekonomian Global & Domestik Sebagai Peluang Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 persen dan Kesejahteraan Publik".
Acara dihadiri 58 undangan yang datang langsung, dan 279 undangan yang hadir secara daring baik dari Dewan Pengurus Harian Kadin Indonesia dan jajarannya, Kadin Provinsi, Kabupaten/Kota, Asosiasi/Himpunan Anggota Luar Biasa Kadin Indonesia, serta para pimpinan media nasional. "Kami melihat investasi walaupun masih ada tantangan di sana-sini baik dari luar negeri dan dalam negeri, tetap mempunyai potensi yang luar biasa," ucap Anin.
Dia lalu bercerita saat mendampingi lawatan Presiden Prabowo Subianto ke China, Amerika Serikat (AS), Peru, Brasil dan Inggris. "Bapak Presiden memiliki kemampuan untuk meyakinkan investor dan berhasil mendapatkan komitmen investasi. Saya rasa ini suatu start yang bagus yang bisa membuat momentum yang baik ke depannya," ungkap Anin.
Menurutnya, program-program Pemerintah untuk membantu masyarakat luas juga akan membuahkan hasil yang sangat baik dalam jangka menengah dan panjang ke depannya. Karena bisa dirasakan langsung ketika bicara mengenai isu kemiskinan dan juga kelaparan. Program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan lumbung pangan, juga program pengampunan utang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga bisa membuat mereka beraktivitas kembali dalam dunia usaha.
Baca juga : Prabowo Optimis Ekonomi Tumbuh 8%: Banyak yang Tak Yakin, Kita Buktikan
Selain itu, lanjut Anin, program rumah murah akan berdampak sangat baik. Demikian juga dengan investasi jangka panjang seperti di dalam pendidikan, kesehatan, dan juga infrasruktur digital yang tentu merupakan sektor yang prospektif untuk Indonesia bisa berkompetisi dan bisa membuat kesejahteraan lebih baik.
"Jadi, singkatnya, kami melihat bahwa ke depannya competitiveness (daya saing) dari Indonesia ini sangat besar," imbuhnya.
Anin tidak menutup mata banyak tantangan. Seperti isu yang lagi marak mengenai kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen, daya beli masyarakat terutama kelas menengah, isu penggantian tenaga kerja, dan lain-lain.
Di sinilah, kata Anin, tugas Kadin ada dua. Pertama, bekerja dengan konstituen, yaitu Kadin Provinsi dan juga seluruh perusahaan, termasuk BUMN dan koperasi yang di bawah naungan Kadin untuk bisa mengarungi semua ini dengan baik. "Kedua, Kadin menjadi mitra strategis Pemerintah yang baik dalam program mendorong pertumbuhan ekonomi 8 persen dan menurunkan kemiskinan bahkan sampai 0 persen," paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin Indonesia Aviliani mengatakan, meski ada tantangan dari eksternal, tetapi potensi di domestik sangat besar. Sehingga, kalaupun nanti ada kebijakan di AS dan China terkait dengan perdagangan, Indonesia harus fokus pada pasar domestik yang sebenarnya bisa dikembangkan.
Avi mengatakan, terkait dengan hilirisasi yang sudah dicanangkan Pemerintah agar nilai tambahnya tinggi, harus dibicarakan juga mengenai end product-nya. "Kemudian kita bicara juga hulunya karena masih hampir 70 persen tergantung pada bahan-bahan impor. Tapi, kita juga harus bicara hilirnya agar rekomendasi kita ke depan adalah bicara hulu dan hilir," katanya.
Baca juga : Evaluasi Kinerja 100 Hari Pemerintahan Kabinet Merah Putih
Avi menilai, ke depan suku bunga diperkirakan masih akan menjadi tantangan karena walaupun turun hanya akan mencapai 50 basis poin. Di sisi yang lain, rupiah itu akan tergerus karena memang insentif yang diberikan oleh eksternal yaitu AS dan China, bisa membuat capital outflow (arus modal keluar).
"Sehingga tantangan ke depan ini masih akan terjadi bunga tinggi maka pengusaha harus pandai-pandai kalau bunga tinggi apa yang harus dilakukan? Apakah dia melunasi utang? Apakah dia bisa IPO? Ini adalah sebuah challenge buat pengusaha," jelas Avi.
Selain suku bunga, tantangan lainnya adalah nilai tukar yang diprediksi masih akan berfluktuasi cukup tinggi dengan range Rp 16.000-Rp 16.500. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena akan berdampak pada inflasi. "Berarti bagaimana mengatasi inflasi tentu pengusaha sudah bicara dari sekarang itu apa yang harus dilakukan," ungkapnya.
Avi berharap, agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kebutuhan suplai pangan yang tinggi tidak membuat inflasi naik. Jangan sampai inflasi juga melonjak gara-gara tidak bisa memenuhi kebutuhan suplai.
"Makanya, tadi diusulkan bagaimana suplai ini harus dipikirkan dari sekarang supaya kebijakan Pemerintah ini bisa jalan tanpa meningkatkan inflasi. Karena inflasi itu bisa turun kalau kita bisa memenuhinya," jelas Avi.
Mengenai potensi masuknya investasi sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi 8 persen sesuai dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo, Avi sependapat dengan Anin. "Sebenarnya, di bidang apa potensi investasi itu akan masuk ke Indonesia? Pertama, kalau kita lihat yang paling banyak itu adalah di sektor pertambangan. Karena pertambangan itu kita punya hulunya kan. Yang di negara-negara lain tidak punya," kata Avi.
Baca juga : Sambut Nataru 2025, Kemnaker Apresiasi Program Servis Gratis di BBPVP Bandung
Selain sektor pertambangan, Avi juga menyebutkan potensi di sektor transportasi dan sektor keuangan. "Sekarang kan dari Vietnam masuk di (sektor transportasi) taksi. Sebenarnya ada taksi dari Vietnam itu cukup banyak jumlahnya. Jadi, mereka masih melihat sektor-sektor jasa juga menarik buat mereka karena potensi market di Indonesia itu masih sangat besar".
Berbicara potensi dari sektor pangan, Avi berharap ke depan ada gebrakan kebijakan di sektor pertanahan. "Lahan masih menjadi masalah, nah kemandirin pangan butuh kebijakan di sektor pertanahan. Nah ini yang mungkin masih butuh waktu," katanya.
Berkenaan dengan kebijakan-kebijakan Pemerintah, Avi berharap agar nantinya kebijakan tidak hanya berdasarkan pada sektoral saja, tetapi lebih berkaitan pada ekosistem yang bisa membuat pengusaha ataupun investor itu lebih mudah.
"Membangun ekosistem kebijakan itu jadi penting. Jadi, tidak ada lagi kebijakan by sektoral, tapi bagaimana kebijakan diuraikan secara orkestrasi. Jadi harus ada orkestra dari kebijakan-kebijakan itu," pungkasnya.
Dalam diskusi itu turut hadir menjadi pembicara dari perspektif pengusaha yaitu Wakil Ketua Umum (WKU) Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Kadin Indonesia Carmelita Hartoto, WKU Bidang Sosial dan Penanggulangan Bencana Kadin Indonesia Suryani Motik, WKU Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kadin Indonesia Tatyana Sentani Sutara, dan Ketua Umum DPP Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Dyah A Prihapsari. Hadir juga sebagai panelis Ketua Komite Tetap (Kakomtap) Kajian Sektoral dan Pelaku Industri Kadin Indonesia David E Sumual, Kakomtap Kajian Ekonomi Global Strategis Kadin Indonesia Enrico Tanuwijaya, Kakomtap Kajian Kebijakan Publik Kadin Indonesia Hermanto Siregar, Kakomtap Kajian Ekonomi Daerah Kadin Indonesia Telisa A. Faunty, Wakil Ketua Komite Tetap (Wakakomtap) I Kajian Sektoral dan Pelaku Industri Kadin Indonesia Abdul Manap Pulungan, Wakakomtap II Kajian Ekonomi Global Strategis Kadin Indonesia Josua Pardede, serta Wakakomtap II Kajian Sektoral dan Pelaku Industri Kadin Indonesia Andry Satrio Nugroho.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya