Dark/Light Mode

Menkeu: Defisit APBN 2024 Terkendali Di Angka 2,29 Persen, Ekonomi Membaik

Senin, 6 Januari 2025 12:50 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN KiTa, Senin (6/1/2025). (Foto: YouTube)
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN KiTa, Senin (6/1/2025). (Foto: YouTube)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah berhasil mengembalikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 di angka 2,29 persen dari Produk Domestik Brutto (PDB), sesuai desain awal. Sekalipun telah memproyeksikan kenaikan defisit APBN 2024 menjadi 2,7 persen dalam laporan Outlook Semester Untuk Tahun 2024.

Di tengah ketidakpastian global, APBN 2024  bekerja keras meredam gejolak. Melindungi rakyat dan menjaga stabilitas ekonomi, dengan fiskal tetap sehat.

Hal ini disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN KiTa, Senin (6/1/2025).

"Defisit APBN 2024 terkendali di angka 2,29 persen," kata Sri Mulyani. 

Menteri Keuangan di tiga periode pemerintahan ini menjelaskan, proyeksi defisit APBN 2024 sebesar 2,7 persen disampaikan, karena Indonesia mengalami tekanan yang luar biasa di semester I 2024.
Seperti tekanan geopolitik yang penuh ketidakpastian, fenomena iklim El Nino yang menyebabkan lonjakan harga pangan, dan perlambatan ekonomi di negara size kedua: China, tingginya harga minyak akibat krisis di Timur Tengah, dan rendahnya harga batubara - yang notabene adalah penyumbang penerimaan signifikan bagi APBN Indonesia -.

Baca juga : Tok! Menkeu Sri Mulyani Resmi Teken PMK Tentang PPN 12 Persen, Berlaku Hari Ini

"El Nino sudah mulai terjadi di akhir tahun 2023. Dampaknya terhadap kekeringan terus meningkat, sehingga harga pangan di seluruh dunia meningkat. Inflasi di Semester I sudah di angka 3,1 persen. Ini penyebabnya adalah volatile food," jelas Sri Mulyani.

Di sisi lain, ketidakpastian global dan kenaikan harga pangan dan harga BBM menyebabkan Fed Fund Rate memberikan sinyal bahwa penurunan mungkin akan tertunda atau lebih kecil. Sehingga, rupiah terdepresiasi cukup tajam dari semula Rp 15.416 di posisi Desember 2024, menjadi Rp 16.421 pada Juni 2024.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tertekan, dari angka 7.272,8 pada Desember 2023 menjadi 7.063,6 pada Juni 2024.

Tak hanya itu, tekanan terhadap rupiah, saham, dan capital outflow juga menekan yield surat berharga negara (SBN). Dari angka 6,5 persen pada Desember 2023 menjadi 7,2 persen pada April dan Juni 2024. Tertinggi di semester I.

"Situasi ini menyebabkan tekanan yang sangat besar. Harga komoditas mengalami pelemahan. Penerimaan negara terkontraksi 6,2 persen year on year," papar Sri Mulyani.

Baca juga : Menhub: Stasiun Whoosh Karawang Berpotensi Gerakkan Ekonomi Daerah

Di luar itu, Kemenkeu juga melakukan beberapa tambahan belanja untuk memitigasi risiko dan melindungi masyarakat.

Ekonomi Membaik

Sejalan dengan perubahan yang terjadi di semester kedua dan respons policy di berbagai negara, sekalipun eskalasi perang di Timur Tengah tidak mengalami penurunan, tekanan terhadap harga minyak cenderung reda.

Sejumlah harga komoditas yang cukup penting seperti batu bara, nikel, dan crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah meningkat.

Stimulus fiskal dan moneter yang diumumkan di China, diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi di negara tersebut.

Tekanan terhadap IHSG dilaporkan mulai mereda dengan posisi 7.063,6 pada Juni 2024. Meningkat tipis dari angka 7.079,9 pada Desember 2024.

Baca juga : Bantuan Pangan Ringankan Beban Ekonomi Masyarakat

Yield SBN juga kompetitif dengan angka 7 persen pada Desember 2024. Turun dari level tertinggi 7,2 persen pada April dan Juni 2024.

Inflasi mulai terkendali dengan angka 1,57 persen pada Desember 2024. Membaik dari level tertinggi Maret 2023, yang tercatat dengan angka 3,1 persen.

Penerimaan negara mengalami turning around. Tumbuh positif 2,1 persen year on year.

Rupiah juga membaik dari sisi tekanan, dengan angka Rp 16.162 pada Desember 2024. Membaik dari semester I, yang tercatat dengan angka Rp 16.421 pada Juni 2024.

"Ini semua membuat APBN tetap bisa beroperasi optimal," tandas Sri Mulyani.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.