Dark/Light Mode

Bulog Diharapkan Optimal Serap Hasil Panen

Kenaikan HPP Gabah Jaga Gairah Petani Tanam Padi

Kamis, 16 Januari 2025 07:05 WIB
Petani memanen padi jenis Ciherang di Leuwibatu, Bogor, Jawa barat, Minggu (13/10/2024). Foto: RIZKI SYAHPUTRA / RM
Petani memanen padi jenis Ciherang di Leuwibatu, Bogor, Jawa barat, Minggu (13/10/2024). Foto: RIZKI SYAHPUTRA / RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Langkah Badan Pangan Nasional (BPN) menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) mendapatkan sambutan positif. Kebijakan itu diharapkan bisa menjaga gairah petani menanam padi.

Harga GKP naik dari Rp 6.000 per kilogram (kg) menjadi Rp 6.500/kg. Untuk harga gabah kering panen di penggilingan naik dari Rp 6.100/kg menjadi Rp 6.700/kg.

Kemudian, harga pembelian beras di gudang Perum Bulog, naik dari Rp 11.000/kg menjadi Rp 12.000/kg, dengan kualitas derajat sosoh 100 persen dan maksimal kadar air, butir patah dan menir masing-masing sebesar 14 persen, 25 persen dan 2 persen.

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori mengungkapkan, saat ini ongkos produksi padi mengalami kenaikan.

Baca juga : Luhut: Sedih, Saat Covid Bahan Parasetamol Impor

“Kenaikan HPP GKP dan Gabah Kering Giling (GKG) antara 8,3 persen hingga 10,8 persen, adalah langkah yang memadai untuk menjaga kegairahan petani dalam mengusahakan padi,” terang Khudori kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Rabu (15/1/2025).

Selain itu, kata Khudori, kenaikan HPP gabah dan beras pengadaan Bulog tanpa disertai kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras (medium dan premium), bisa memberi peluang kepada Bulog dalam memaksimalkan pengadaan gabah atau beras dari produksi domestik.

“Produksi beras diperkirakan melimpah pada Maret-Mei nanti. Bahkan, bisa sampai Juni. Ini periode terbaik bagi Bulog menyerap gabah atau beras,” ujar Khudori.

Tak hanya itu, keputusan ini menunjukkan tekad Pemerintah yang tidak akan mengimpor beras tahun ini. Artinya, kata Khudori, tidak akan ada penugasan impor beras kepada Bulog, seperti dua tahun terakhir.

Baca juga : UMKM Butuh Pelatihan Skill Pemasaran Digital

Sebagai pengingat, tahun 2023 impor beras Bulog mencapai 3,06 juta ton dan tahun 2024 sekitar 3,5 juta ton.

“Dengan tidak adanya impor, Bulog harus memaksimalkan penyerapan produksi domestik,” imbau Khudori.

Pasalnya, lanjut dia, ketika penyerapan gabah atau beras Bulog dinilai memadai, maka pada saat itulah Pemerintah akan memberlakukan HET beras yang baru.

“Karena tidak masuk akal menaikkan HPP, tanpa diikuti kenaikan HET. Gabah adalah input produk beras. Ketika harga input atau bahan baku naik, maka harga output, yaitu beras juga pasti naik,” bebernya.

Baca juga : Setan Merah Incar Kursi Empat Besar

Khudori melanjutkan, bagi penggilingan padi berskala kecil, musim panen raya adalah peluang besar untuk mendapatkan gabah.

Namun, karena HET beras tidak dinaikkan, menurutnya, ada dua pilihan bagi penggilingan. Yakni menjual beras sesuai HET, tapi mengorbankan kualitas.

“Atau mereka menjual beras sesuai kualitas, tapi dengan harga di atas HET. Peluang itu ada di pasar tradisional,” ucapnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.