Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Ekonomi 2025 Bakal Positif
Inflasi Terkendali, Sektor Manufaktur Menggeliat
Rabu, 5 Februari 2025 07:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah optimistis inflasi yang terkendali pada Januari 2025 serta Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang tetap impresif, bakal menjadi modal kuat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi sepanjang tahun ini.
MenteriKoordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, inflasi Januari 2025 tercatat 0,76 persen (year-on-year/yoy). Lebih rendah dibandingkan inflasi Desember 2024 yang mencapai 1,57 persen (yoy).
“Capaian ini mencerminkan efektivitas sinergi kebijakan Pemerintah dalam menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya inflasi inti. Sertaterkendalinya inflasi Volatile Food (VF) dan turunnya inflasi Administered Price (AP),” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (4/2/2025).
Menurutnya, hasil ini merupakan buah dari konsistensi kebijakan moneter dan fiskal, serta sinergi antara Pemerintah Pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPID-D).
Sebagai langkah strategis, Pemerintah juga telah mengeluarkan berbagai paket stimulus ekonomi dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru 2024/2025 guna meningkatkan daya beli masyarakat.
Salah satunya, penyediaan tarif tiket pesawat yang lebih terjangkau, dengan diskon hingga 10 persen selama periode 19 Desember 2024 hingga 3 Januari 2025 di seluruh bandara Indonesia.
Baca juga : Gedung Tinggi Wajib Penuhi Standar Proteksi Kebakaran
Selain inflasi yang terkendali, sektor manufaktur juga menunjukkan performa positif. PMI Manufaktur Indonesia tetap berada di zona ekspansif. Bahkan meningkat ke level 51,9 pada Januari 2025 dari sebelumnya 51,2 pada Desember 2024.
“Level ini tercapai di tengah penurunan PMI Manufaktur di sebagian besar negara Asia Tenggara. Seperti Myanmar, Vietnam, Filipina dan Thailand, yang menyebabkan sedikit penurunan pada PMI Manufaktur ASEAN,” jelas Airlangga.
Eks Anggota DPR ini menjelaskan, stabilitas permintaan pasar domestik menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan ini. Survei menunjukkan bahwa terjadi kenaikan pesanan yang mendorong perusahaan meningkatkan produksi, bahkan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Selain itu, peningkatan produksi juga berdampak pada peningkatan tenaga kerja. Pada Januari 2025, tercatat laju perekrutan tenaga kerja tertinggi dalam dua tahun terakhir, seiring upaya perusahaan memenuhi permintaan pasar.
Para pelaku industri pun optimistis terhadap prospek manufaktur dalam satu tahun ke depan.
Pemerintah terus mendukung sektor ini dengan berbagai kebijakan. Seperti prioritas penggunaan bahan baku lokal, pemberian insentif fiskal serta perlindungan terhadap industri dalam negeri.
Baca juga : Eks MU: Pecat Pep Guardiola!
Untuk mengurangi dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap harga bahan baku impor, Pemerintah mendorong akselerasi hilirisasi industri berbasis sumber daya alam.
Selain itu, Pemerintah memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) bagi sektor otomotif serta pembiayaan bagi industri padat karya, seperti tekstil, pakaian jadi dan furnitur.
“Pemerintah juga memperkuat perlindungan industri domestik melalui kebijakan safeguards dan anti-dumping. Termasuk memperluas akses pasar ekspor melalui kerja sama perdagangan internasional,” jelas Airlangga.
Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menegaskan, kenaikan PMI Manufaktur dan inflasi yang terkendali menjadi sinyal positif bagi ekonomi Indonesia tahun 2025.
“Momentum ini harus dijaga. Pemerintah berkomitmen memastikan stabilitas harga kebutuhan masyarakat, menjaga kinerja sektor riil dan mendukung kebijakan yang pro-pertumbuhan industri,” ujar Febrio di Jakarta, Senin (3/2/2025).
Salah satu langkah yang diambil adalah program diskon tarif listrik 50 persen bagi sebagian besar pengguna. Ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi.
Baca juga : Coppa Italia: AC Milan Vs AS Roma, Rossonerri Siap Jegal Serigala
“Kebijakan ini berdampak positif terhadap perekonomian, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga,” ucapnya.
Febrio juga memastikan bahwa Pemerintah akan terus menjaga stabilitas inflasi pangan dengan meningkatkan produksi dan memperkuat cadangan pangan.
“Khusus dalam menghadapi HBKN Ramadan dan Idul Fitri, Pemerintah akan memitigasi potensi gejolak harga yang mungkin terjadi,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya