Dark/Light Mode

Capai Target Pertumbuhan 8 Persen, Indonesia Butuh Investasi 60 Miliar Dolar AS

Rabu, 12 Februari 2025 22:37 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia membutuhkan investasi sebesar 60 miliar dolar AS atau sekitar Rp 982 triliun per tahun agar bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.

Ketua Dewan Pengawas Indonesian Business Council (IBC) Arsjad Rasjid mengatakan, salah satu kunci untuk mencapai target pertumbuhan tersebut adalah membangun kepercayaan investor terhadap Indonesia.

"Investasinya ingin dinaikin lagi, menjadi rata-rata di 60 miliar dolar AS," kata Arsjad, dalam acara konferensi pers IBC, di Jakarta, Rabu (12/2/2025).

Ia menekankan, kepercayaan ini sangat penting dalam menarik lebih banyak modal asing ke dalam negeri.

Arsjad menjelaskan, berdasarkan kajian yang pernah dilakukan di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, ada tujuh sektor utama yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertama, infrastruktur.

“Kita telah melakukan diskusi bagaimana mendorong investasi di sektor infrastruktur. Harus di-continue, supaya lebih banyak swasta investasi infrastruktur," ujar Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia ini.

Kedua, sektor energi, terutama dalam mendukung transisi energi dan ketahanan energi nasional. Ketiga, pengembangan UMKM.

"Karena UMKM jadi kunci, bagaimana mengajak UMKM masuk ke dalam ekosistem. Jangan dilupakan. Supaya multiplier effect-nya juga terjadi," tuturnya.

Baca juga : Pemerintah Siapkan Jurus Kerek Ekonomi

Arsjad yang juga Co-founder gerakan 5P Global Movement ini mencontohkan negara-negara lain seperti Jepang, Korea, Hong Kong dan India, yang berhasil mengembangkan sektor UMKM sebagai bagian dari ekosistem ekonomi mereka.

Keempat, industrialisasi. Menurut Arsjad, penguatan sektor manufaktur menjadi kunci agar Indonesia bisa menjadi negara maju.

Lalu kelima, hilirisasi Sumber Days Alam (SDA), yang menjadi bagian dari strategi industrialisasi. Terutama, dalam pemanfaatan komoditas unggulan Indonesia seperti nikel dan produk makanan laut.

Keenam, sektor kesehatan. Sektor ini memiliki potensi yang menjanjikan seiring dengan peningkatan permintaan pelayanan kesehatan.

Kebutuhan dokter dan obat-obatan turut menjadi komoditas yang menarik untuk dikembangkan.

Terakhir, ketujuh, pariwisata. Arsjad optimistis, Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menarik bagi dunia.

Dengan populasi lebih dari 250 juta jiwa dan demografi yang muda, Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang.

Bos PT Indika Energy Tbk ini juga menekankan, yang terpenting bagi investor adalah adanya kepastian hukum proses pembangunan terus berjalan dan tidak stagnan.

Baca juga : Tim Beach Indonesia Siap Ukir Prestasi Optimal Di SEAHF

"Yang penting untuk investor adalah bahwa ini prosesnya berjalan. Dan semua investasi ingin masuk ke Indonesia," ingat Arsjad.

Dalam menghadapi persaingan global, Arsjad menekankan pentingnya strategi 3C, yaitu Competition, Collaboration, dan Complementary.

Arsjad juga mengomentari kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan Presiden Prabowo Subianto sebagai langkah positif.

Menurutnya, kebijakan itu tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga memastikan penggunaannya lebih efektif.

"Efisiensi itu baik. Ini kan bagaimana menargetkan anggaran supaya bisa mendorong pertumbuhan. Itu yang dilakukan Pak Prabowo. Efisien, tapi juga efektif," tuturnya.

Ia menambahkan, kebijakan efisiensi ini sejalan dengan rencana Prabowo yang ingin membuka kesempatan lebih luas bagi swasta.

Presiden Prabowo telah memberi lampu hijau agar swasta turut serta dalam pembangunan infrastruktur.

Dengan demikian, pengusaha dalam dan luar negeri bisa berpartisipasi dalam berbagai proyek strategis.

Baca juga : Diaspora Loan BNI Bantu Pengusaha Indonesia Ekspansi Bisnis di Luar Negeri

"Yang penting, Pemerintah tetap mendapatkan pemasukan dari pajak dan lainnya. Menurut saya ini luar biasa. Ini kesempatan bagi pengusaha untuk ikut serta," ungkapnya.

Menurutnya, keterlibatan swasta akan membantu mengatasi tantangan fiskal yang dihadapi Indonesia.

“Kita punya tantangan APBN. Karena itu, kita harus mendapatkan dana dari sumber lain," lanjut Arsjad.

Arsjad juga menyatakan, kebijakan ini membuka peluang investasi swasta di berbagai sektor. Mulai dari infrastruktur, pangan, industri, hingga hilirisasi energi.

Dari situ, ia meyakini akan muncul peluang lapangan kerja baru, perputaran modal, serta perkembangan industrialisasi.

"Yang dilakukan beliau bukan hanya efisiensi, tapi juga efektivitas. Anggaran yang tidak efisien dialihkan ke pos yang lebih efektif," tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.