Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Indonesia Perlu Genjot Konsumsi Energi Demi Kerek Pertumbuhan Ekonomi
Minggu, 23 Februari 2025 22:45 WIB
Sebelumnya
ExxonMobil yang telah menjadi pemain kunci dalam sektor energi selama lebih dari 125 tahun, menekankan konsep mereka and equation. Yakni pentingnya menyeimbangkan kebutuhan untuk memenuhi permintaan energi masyarakat sambil secara bersamaan mengurangi emisi gas rumah kaca.
Pendekatan ini menyoroti bahwa kedua tujuan ini dapat dicapai tanpa mengorbankan salah satunya. Birdsall juga tak menafikan penggunaan energi fosil untuk memenuhi kebutuhan energi. Hingga 2023, sekitar 56 persen energi dunia masih bersumber dari minyak dan gas (migas). Selain itu, batu bara juga masih dibutuhkan sebagai energi terjangkau di beberapa negara.
Di Asia Pasifik misalnya, batu bara masih menjadi sumber energi untuk pembangkit listrik yang paling murah. Sementara itu, beberapa negara yang sudah beralih ke energi yang lebih rendah emisi, meningkatkan biaya kelistrikan hingga 50 persen.
Baca juga : Genjot Hilirisasi Petrokimia Dan Gas, Dorong Pertumbuhan Ekonomi
"Tidak ada skenario yang sepenuhnya menghilangkan minyak dan gas pada 2050, sehingga memperkuat (energi terbarukan) penting bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia," ujarnya.
Menariknya, ExxonMobil memproyeksikan pada 2050 bahwa permintaan penggunaan energi dari negara berkembang meningkat hingga 25 persen, sementara konsumsi energi negara maju mengalami penurunan 10 persen. Sedangkan kebutuhan energi global pada 2050 bakal meningkat sekitar 15 persen dibandingkan pada 2023.
2050 Emisi Karbon Turun 25 Persen
Namun emisi karbon global mencapai penurunan hingga 25 persen. Kenapa bisa? Karena pada saat itu, terjadi peningkatan efisensi, lebih banyak energi terbarukan dan adanya teknologi yang berfungsi untuk mengurangi emisi karbon. Seperti penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage), hidrogen, dan bahan bakar nabati.
Baca juga : Wamen Investasi: Dorong Peluang Investasi Energi Terbarukan di Indonesia
Berdasarkan proyeksi ExxonMobil tersebut, pada 2050 permintaan energi global diperkirakan tumbuh 15 persen menjadi sekitar 700 kuadriliun BTU. Terdiri dari bauran minyak dan gas bumi (Migas) turun menjadi 54 persen, batu bara menjadi 13 persen, nuklir menjadi 7 persen, bioenergi naik menjadi 11 persen, dan energi terbarukan seperti air, angin, tenaga matahari, dan panas bumi naik menjadi 15 persen.
Sementara itu, permintaan energi pada 2023 tersebut terdiri dari bauran migas 55,5 persen, batu bara (25 persen), nuklir (5 persen), bioenergi (9 persen), dan energi terbarukan seperti air, angin, surya, dan panas bumi (geothermal) sebesar (5,5 persen).
Hadir juga dalam acara itu Presiden ExxonMobil Indonesia Carole Gall, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Prof Brian Yuliarto, serta "civitas academica". Brian menyampaikan, ketahanan energi merupakan salah satu misi strategis Pemerintahan Presiden Prabowo dan menjadi bagian dari rencana pembangunan jangka panjang Indonesia untuk mencapai status negara maju pada tahun 2045.
Baca juga : Gelar Rakernas, BPP HIPKA Dukung Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Brian berharap, acara ini dapat menjadi forum bagi dunia akademik dan industri untuk bertukar ide dan berkontribusi dalam mewujudkan kedaulatan energi Indonesia.
"Semoga diskusi hari ini menjadi langkah awal untuk kolaborasi yang lebih bermakna serta mendukung Indonesia dalam mencapai transisi energi yang lebih aman dan berkelanjutan," tuturnya.
Sementara itu, Gall menekankan pentingnya investasi berkelanjutan dalam teknologi baru. Langkah ini dianggap krusial untuk memenuhi permintaan energi yang terus meningkat, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mengurangi emisi global secara berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya