Dark/Light Mode

Indonesia Perlu Genjot Konsumsi Energi Demi Kerek Pertumbuhan Ekonomi

Minggu, 23 Februari 2025 22:45 WIB
Dari kiri:  Director Economics and Energy ExxonMobil Corporation Chris Birdsall, mantan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral  Tutuka Ariadji, Presiden ExxonMobil Indonesia Carole Gall, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Prof Brian Yuliarto, dalam kuliah umum ExxonMobil Goes to Campus ITB, di BandungRabu (19/2?2025)
Dari kiri: Director Economics and Energy ExxonMobil Corporation Chris Birdsall, mantan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tutuka Ariadji, Presiden ExxonMobil Indonesia Carole Gall, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Prof Brian Yuliarto, dalam kuliah umum ExxonMobil Goes to Campus ITB, di BandungRabu (19/2?2025)

 Sebelumnya 
Birdsall menambahkan, berdasarkan data Indeks Pembangungan Manusia (IPM) yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), ExxonMobil mencatat, sekitar 4 miliar orang hidup di bawah Standar Minimum Energi Modern.

Sebaiknya, suatu negara melampaui ambang batas ini, dengan  penggunaan energi per kapita setidaknya mencapai 50 juta British Thermal Unit (BTUs) pertahun. Sementara itu, data ExxonMobil menunjukkan konsumsi energi untuk rumah tangga di negara maju menggunakan lebih dari tiga kali lipat jumlah tersebut.

Baca juga : Genjot Hilirisasi Petrokimia Dan Gas, Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Hal ini mengingat penggunaan energi tidak hanya bermanfaat untuk rumah tangga saja, tetapi juga untuk industri dan bisnis. Termasuk kebutuhan energi untuk transportasi penumpang, transportasi komersial, untuk memindahkan barang dan jasa ke seluruh dunia.

Pada kesempatan yang sama, dosen Teknik Perminyakan ITB Tutuka Ariadji yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, minimnya penggunaan energi itu mengindikasikan negara itu sebagai “poor country”.

Baca juga : Wamen Investasi: Dorong Peluang Investasi Energi Terbarukan di Indonesia

“Sebetulnya bagi dunia, menggunakan energi sedikit itu berarti poor country. Jadi harus menggunakan energi yang banyak. Mana mungkin kita menjalankan kampus ini tanpa energi yang cukup kalau ada alat-alat lab yang mahal yang perlu pendingin misalnya,” kata Tutuka.

 “Indonesia kalau dirata-rata tidak beda jauh dengan Afrika. Kalau Malaysia tinggi, Vietnam juga mulai tinggi,” imbuhnya.  

Baca juga : Gelar Rakernas, BPP HIPKA Dukung Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Lebih lanjut ia juga menyampaikan, sepakat jika tetap menggunakan energi fosil dalam memenuhi kebutuhan energi, tapi sambil jalan memperkuat energi terbarukan. Pasalnya, sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan rendah emisi harganya lebih mahal dibandingkan energi fosil.

“Uangnya dari mana kalau mau langsung beralih ke renewable energy itu, bahkan dunia sekarang kembali ke fosil lagi. Jadi saya setuju bareng gitu, tapi kita peduli dengan perpindahan energi ini, jadi berlansung secara gradual dan alamiah,” terangnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.