Dewan Pers

Dark/Light Mode

APBN 2019 Defisit Rp 353 T, Indonesia Lebih Baik dari China dan AS

Selasa, 7 Januari 2020 13:04 WIB
Menkeu Sri Mulyani saat Konferensi Pers Laporan APBN Tahun 2019 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (7/1).
Menkeu Sri Mulyani saat Konferensi Pers Laporan APBN Tahun 2019 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (7/1).

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerangkan, defisit APBN dari Januari hingga Desember 2019 sebesar Rp 353 triliun. Angka ini sebesar 2,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).          

Sri Mulyani merinci, defisit tersebut merupakan 119,3 persen terhadap pagu APBN yaitu Rp 296 triliun atau 1,84 persen terhadap PDB. Defisit itu meningkat 31 persen (yoy) dibandingkan 2018 yang sebesar Rp 269,4 triliun atau 1,82 persen terhadap PDB.        

“Defisit kita untuk 2019 di level 2,2 persen terhadap PDB yaitu Rp 353 triliun. Karena pendapatan negara tertekan sedangkan belanja negara terjaga,” kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers Laporan APBN Tahun 2019, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (7/1) seperti dikutip antaranews.       

Berita Terkait : NDRC Indonesia Selesaikan 20 Perkara Pemain dan Klubnya

Dari sisi penerimaan negara, kata Sri Mulyani, sepanjang 2019 realisasinya sebesar Rp 1.957,2 triliun atau 90,4 persen dari target yaitu Rp 2.165,1 triliun. Namun, angka ini masih bersifat sementara. Sebab, masih dalam proses audit yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)          

“Ini posisi penutupan sampai 31 Desember. Namun realisasi sementara dan akan masih ada angka bergerak satu hingga dua bulan ke depan karena masih dalam tim audit BPK,” ujarnya.        

Sri Mulyani menyatakan, penerimaan negara tersebut masih mampu meningkat 0,7 persen (yoy) dibandingkan realisasi 2018. Pendapatan negara itu berasal dari penerimaan perpajakan yang sepanjang 2019 sebesar Rp 1.545,3 triliun, penerimaan negara bukan pajak Rp 405 triliun, dan hibah Rp 6,8 triliun.

Berita Terkait : Ini Kelebihan Dan Kekurangan Shin Tae Yong

Sedangkan dari sisi belanja negara, sepanjang 2019 telah terealisasi Rp 2.310,2 triliun atau 93,9 persen terhadap target APBN Rp 2.461,1 triliun. Terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp 1.498,9 triliun serta transfer daerah dan dana desa Rp 811,3 triliun.        

Sri Mulyani menyebutkan, melalui realisasi pendapatan dan belanja itu membuat defisit keseimbangan primer melonjak yaitu Rp 77,5 triliun atau jauh lebih tinggi dari target APBN Rp 20,1 triliun. “Kalau dari sisi pembiayaan anggaran itu mencapai Rp 399,5 triliun atau 134,9 persen dari pagu yakni Rp 296 triliun,” ujarnya.          

Di sisi lain, ia mengatakan defisit Indonesia masih lebih baik dibandingkan beberapa negara lain seperti Vietnam mencapai 4,4 persen PDB, China 6,1 persen PDB, Afrika Selatan 6,2 persen PDB, India 7,5 persen PDB, Amerika Serikat 5,6 persen PDB, dan Brasil 7,5 persen PDB.        

Berita Terkait : APG 2020, Indonesia Siap Juara Umum

“Jadi, kalau kita lihat kombinasi pemerintah dalam menjaga fiskal untuk mampu mendorong ekonomi dan defisit melebar tapi jauh lebih rendah dari peer emerging countries lain,” katanya. [USU]