Dark/Light Mode

Sering Terjadi Jelang Lebaran

Waspada, Pinjol Ilegal Gencar Cari Mangsa

Rabu, 26 Maret 2025 07:05 WIB
Direktur Ekonomi Digital dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda. (Foto: Instagram/nailul_huda)
Direktur Ekonomi Digital dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda. (Foto: Instagram/nailul_huda)

RM.id  Rakyat Merdeka -
Pemohon pinjaman online (pinjol) hingga skema Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater kerap mengalami peningkatan menjelang Lebaran. Masyarakat diharapkan hati-hati terhadap penyedia jasa keuangan ilegal yang berpotensi gencar memanfaatkan momen tersebut.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan akan terjadi peningkatan permintaan pinjaman paylater oleh perusa­haan pembiayaan serta finan­cial technology (fintech) Peer to Peer (P2P) Lending menjelang Lebaran tahun ini.

Proyeksi ini didasarkan pada tren serupa tahun sebelumnya. Out­standing pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan pada April 2024 mengalami kenaikan 31,45 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan Maret 2024 yang tumbuh 23,90 persen yoy.

Sementara pembiayaan indus­tri P2P Lending juga meningkat 24,16 persen yoy pada April 2024, naik dari 21,85 persen yoy pada bulan sebelumnya.

Baca juga : Tindak Tegas Dong Pelaku Kecurangan Takaran Beras

Per Januari 2025, pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp 7,12 triliun, meningkat 41,9 persen yoy.

Angka pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2024, yang mencatat kenaikan 37,6 persen yoy.

Di industri P2P Lending, out­standing pembiayaan per Januari 2025 tercatat tumbuh 29,94 persen yoy dengan nilai mencapai Rp 78,50 triliun. Pertumbuhan ini juga lebih tinggi dibanding­kan Desember 2024 yang men­catat kenaikan 29,14 persen yoy.

Direktur Ekonomi Digital dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda berpendapat, potensi lonjakan permintaan pada paylater dan pinjol akan berisiko meningkat­kan potensi kredit macet.

Baca juga : Mau Ngadu Nasib Di DKI Kudu Punya Skill

“Siklusnya ada peningkatan permintaan BNPL pada momen Lebaran, itu sudah menjadi tren tahunan,” kata Nailul ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Sebab, kata Nailul, mendekati momen Lebaran, pembiayaan dibutuhkan untuk keperluan mudik, makanan, dan wisata.

“Mereka tidak punya cukup biaya, memilih untuk mencari pembi­ayaan atau utang,” ujarnya miris.

Masyarakat yang biasanya pinjam ke saudara atau keluarga, karena lebih mudah dan cepat, kini mereka mengandalkan pin­jol atau paylater.

Baca juga : Sungkurkan Latvia, Tiga Singa Trengginas

“Perubahan pola konsumsi masyarakat ini memang terus terjadi dan semakin meningkat,” katanya.

Untuk itu Nailul mengingat­kan, setelah Lebaran, rasio kredit bermasalah atau Non-Perform­ing Financing (NPF) biasanya mengalami peningkatan.

“Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengambil pinjaman dan tidak berlebihan dalam konsumsi selama Lebaran,” warning-nya.

Sementara untuk para pe­rusahaan pembiayaan, imbuh Nailul, sudah seharusnya mengambil langkah antisipasi, yakni memperketat sistem credit scor­ing agar lebih valid.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.