Dark/Light Mode

Trump Naikkan Tarif Impor, Produsen Biofuel Minta Ini Ke Pemerintah

Sabtu, 5 April 2025 19:30 WIB
Sekretaris Jenderal Aprobi, Ernest Gunawan. (Foto: dok Aprobi)
Sekretaris Jenderal Aprobi, Ernest Gunawan. (Foto: dok Aprobi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) meminta pemerintah untuk memberikan perlindungan maksimal terhadap industri dalam negeri, termasuk sektor biofuel, dari potensi dampak kebijakan tarif impor baru yang diterapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui program Reciprocal Tariffs.

Sekretaris Jenderal APROBI, Ernest Gunawan menyatakan, meskipun kebijakan tersebut tidak secara langsung berdampak terhadap ekspor biofuel Indonesia ke AS, karena selama beberapa tahun terakhir tidak ada pengiriman produk biofuel ke negara tersebut, efek tidak langsung tetap perlu diantisipasi.

“Kebijakan tarif Trump terhadap Indonesia tentunya akan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap beberapa sektor industri Indonesia. Meskipun terkait produk biofuel/bahan bakar nabati tidak akan berdampak secara langsung,” ujar Ernest dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/4/2025).

Baca juga : Tarif Impor Trump Mengganas, Indonesia Harus Bergegas

Ernest mengingatkan, kebijakan tarif terhadap berbagai negara berpotensi mendorong masuknya produk impor dari negara-negara yang terdampak ke pasar Indonesia. Hal ini bisa menjadi ancaman bagi industri dalam negeri jika tidak diantisipasi secara serius.

“Untuk itu, APROBI meminta pemerintah tetap memberikan jaminan perlindungan bagi industri dalam negeri. Kebijakan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) merupakan instrumen penting bagi kemajuan industri dalam negeri,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap industri biofuel yang selama ini berperan strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional sebagaimana tercantum dalam visi Asta Cita Presiden Prabowo. “Kontribusi industri biofuel sangat besar, khususnya dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak,” tambah Ernest.

Baca juga : Antisipasi Tarif Trump, Menpar: Pariwisata Jadi Pertahanan Ekonomi Nasional

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, pada tahun 2025 total alokasi biodiesel ditetapkan sebesar 15,6 juta kiloliter, terdiri dari 7,55 juta kl untuk Public Service Obligation (PSO) dan 8,07 juta kl untuk non-PSO. Program B40 ini memberikan manfaat besar, antara lain penghematan devisa sebesar 9,33 miliar dolar AS (sekitar Rp 147,5 triliun), peningkatan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) menjadi biodiesel sebesar Rp 20,9 triliun, serta penyerapan tenaga kerja lebih dari 14 ribu orang (off-farm) dan 1,95 juta orang (on-farm).

Selain itu, program B40 juga memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani sawit. Data dari Sistem Informasi Pasar Produk Perkebunan Unggulan (Sipasbun) menunjukkan bahwa harga Tandan Buah Segar (TBS) terus meningkat. Pada Januari 2025, harga TBS tercatat Rp 2.606 per kilogram, naik 36 persen dibandingkan Januari 2024. Sementara itu, pada Februari 2025, harga TBS mencapai Rp 2.880/kg, meningkat 62 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Ernest menegaskan untuk menjaga momentum positif ini, dukungan dan perlindungan dari pemerintah sangat krusial. “Industri biofuel adalah aset strategis bangsa. Pemerintah harus hadir memberikan jaminan keberlanjutan dan pertumbuhan industri ini,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.