Dark/Light Mode

Perkuat Kerja Sama Dagang & Investasi

Airlangga: Sektor Energi Diminati Investor Rusia

Rabu, 16 April 2025 07:00 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) bersama Deputi Pertama Perdana Menteri (PM) Rusia Denis Manturov (kiri) berbicara di acara Forum Bisnis Rusia-Indonesia 2025 di Hotel Raffles Jakarta, Senin (14/4/2025). (Foto: Larasati Dyah Utami/Rakyat Merdeka/RM.id)
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) bersama Deputi Pertama Perdana Menteri (PM) Rusia Denis Manturov (kiri) berbicara di acara Forum Bisnis Rusia-Indonesia 2025 di Hotel Raffles Jakarta, Senin (14/4/2025). (Foto: Larasati Dyah Utami/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Forum Bisnis Indonesia-Rusia kembali digelar di Jakarta. Event tersebut mempertemukan lebih dari 30 perusahaan asal Kremlin dengan para pelaku usaha Tanah Air. Acara ini penting untuk memperkuat kemitraan ekonomi strategis antara kedua negara. Khususnya dalam mendorong investasi dan kerja sama dagang lintas sektor.

 Pemerintah Indonesia me­nargetkan investasi sebesar 800 miliar dolar AS atau sekitar Rp 13.360 triliun dalam lima tahun ke depan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Untuk mencapainya, peningkatan kemitraan perda­gangan dengan negara sahabat seperti Rusia menjadi krusial.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, Indonesia memiliki banyak sektor potensial yang dapat menarik investa­si asing. Mulai dari swasembada pangan dan energi, energi terba­rukan hingga hilirisasi industri.

“Program Pemerintah Pak Presiden Prabowo terkait dengan swasembada pangan, energi, renewable energy dan hilirisasi,” ujar Airlangga dalam konferensi pers Russia-Indonesia Business Forum bertema Russia-Indo­nesia Strategy of Partnership, Senin (14/4/2025).

Forum ini diselenggarakan oleh Yayasan Roscongress mela­lui Roscongress International dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Menurut Airlangga, kolaborasi antara Kadin dan Roscongress menjadi kunci utama dalam men­jawab kebutuhan konkret para pelaku bisnis kedua negara.

Baca juga : Normalisasi Kali Ciliwung Mandek

Adapun potensi kerja sama dengan Rusia mencakup sek­tor minyak dan gas, keamanan siber, small modular reactor, kesehatan, pendidikan hingga pariwisata.

“Rusia sangat berminat pada sektor aluminium dan energi. Investasi strategis ini juga dapat melibatkan Danantara,” jelas Airlangga.

Untuk mendukung konek­tivitas dan memperkuat kerja sama antar-warga negara, Pemerintah mendorong pembukaan rute penerbangan langsung dari Moskow ke Bali dan Jakarta.

“Ini penting untuk mendukung kolaborasi bisnis dan pariwisata kedua negara,” tambahnya.

Airlangga juga menyoroti per­an Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai instrumen utama penarik investasi.

Saat ini, Indonesia mengelola 25 KEK yang tersebar dari Aceh hingga Papua, mencakup 13 KEK industri, 8 KEK pari­wisata, 3 KEK digital dan 1 KEK aeroteknik.

Baca juga : Hadapi Timberwolves Di Playoff NBA, Lakers Andalkan Luka Doncic

“Dengan insentif dan fasilitas khusus, KEK diharapkan mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru” harap Airlangga.

Salah satu strategi utama Pe­merintah adalah mendorong hilirisasi industri di sektor unggulan seperti nikel, tembaga, bauksit, kelapa sawit dan petrokimia.

Kebijakan ini diharapkan men­ciptakan nilai tambah dalam negeri, meningkatkan daya saing global dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Selain penguatan sektor riil, Pemerintah juga fokus pada transformasi digital sebagai pen­dorong ekonomi masa depan.

Menurut Airlangga, ekonomi digital Indonesia diperkirakan tumbuh hingga hampir 1 triliun dolar AS pada tahun 2030.

“Dengan Digital Economy Framework Agreement (DEFA), kontribusi ekonomi digital ASE­ANjuga diproyeksikan naik dua kali lipat menjadi 2 triliun Dolar Amerika Serikat,” ujarnya.

Baca juga : Nathalie Holscher, Disawer Ratusan Juta

Dalam forum yang sama, Deputi Pertama Perdana Menteri Federasi Rusia Denis Manturov menyampaikan komitmen Rusia mempererat kerja sama dengan Indonesia di sektor strategis sep­erti pertanian dan energi.

“Perjanjian perdagangan be­bas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU) di­harapkan segera ditandatangani tahun ini,” harap Manturov.

Direktur Jenderal Russian Ex­port Center (REC) Veronika Ni­kishina menambahkan, Indonesia adalah salah satu pasar ekspor paling menjanjikan bagi Rusia.

Status Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Teng­gara dan anggota baru BRICS semakin memperkuat peran strategisnya di panggung global.

Menurutnya, sekarang waktu yang tepat bagi investor Rusia memasuki pasar Indonesia, me­manfaatkan seluruh perangkat dan peluang yang tersedia. Den­gan dukungan penuh dari REC, perusahaan-perusahaan Rusia membawa beragam produk dan solusi, mulai dari makanan hingga teknologi informasi ke Jakarta.

Forum ini diharapkan men­jadi titik peningkatan kemitraan ekonomi yang lebih erat. Tidak hanya di tingkat Pemerintah, tetapi juga antar-pelaku bisnis kedua negara. ■ DIR/LDU

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.