Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Coba Lunakkan Amerika Soal Tarif, Sri Mulyani Jaga Perasaan China
Senin, 28 April 2025 08:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Sri Mulyani masih berada di Amerika Serikat untuk menggoda Presiden Donald Trump agar melunak soal tarif resiprokal. Di sisi yang lain, Sri Mulyani tetap jaga perasaan China yang merupakan sahabat baik bagi Indonesia. Bahkan, Sri Mulyani diundang ke Beijing untuk mempererat hubungan Indonesia-China.
Sri Mulyani menjadi bagian dari tim yang ditugaskan Presiden Prabowo Subianto untuk negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika. Bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Sri Mulyani terbang ke Washington DC untuk bertemu dengan pejabat Amerika.
Selain untuk negosiasi, keberadaan Sri Mulyani di Ibu Kota Amerika itu, untuk mengikuti rangkaian kegiatan IMF-World Bank Spring Meeting yang berlangsung 16-23 April lalu. Di tengah kegiatan itulah, Sri Mulyani sempat bertemu dengan Menkeu China Lan Fo’an.
Dalam pertemuan bilateral itu, Sri Mulyani menjelaskan ke China soal upaya Indonesia nego tarif dengan Amerika. Meskipun sedang negosiasi dengan Amerika, Sri Mulyani menegaskan komitmen Indonesia mempererat hubungan dengan China.
Baca juga : Beras Sudah, Swasembada Energi Dinilai Masih Lama
“Kita juga menyampaikan untuk terus mempererat hubungan. Beliau (Lan Fo’an) mengundang saya untuk pergi ke Beijing,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers KSSK secara virtual, dikutip Sabtu (26/4/2025).
Bendahara Negara memastikan posisi tawar Indonesia tetap netral di tengah ketegangan AS dan China imbas tarif resiprokal. “Ini merupakan daya tawar yang baik yang harus kita jaga,” tegas Sri Mulyani.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan, progres negosiasi dengan Amerika berjalan lancar. Sri Mulyani menyebut pihak Washington merespons positif proposal yang ditawarkan Indonesia. Mereka bahkan memuji respons cepat Indonesia soal tarif yang diterbitkan Presiden Amerika Donald Trump.
Khususnya, upaya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang terus melakukan reformasi dan deregulasi. Kata Sri Mulyani, deregulasi akan berdampak positif bagi Indonesia maupun dalam pemecahan masalah bilateral dan global.
Baca juga : Wamenaker Jalan Santai Jelang Perayaan MayDay
“Ini adalah sebuah pengakuan dari Amerika terhadap langkah-langkah Indonesia. Dengan status sebagai beberapa negara yang pertama membuka jalur, itu dianggap akan memberikan advantage dalam posisi Indonesia dalam proses perundingan,” tuturnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menyarankan Pemerintah Indonesia untuk juga bernegosiasi dengan China dalam merespons kebijakan tarif AS. “Kita perlu melakukan diplomasi dan forward looking engagement tidak hanya dengan AS, tetapi juga dengan China,” kata Mari Elka.
Menurutnya, China akan menghadapi AS dan pada saat yang sama, akan berusaha membangun hubungan dengan ASEAN. “Menurut saya, kita harus bernegosiasi dengan itikad baik,” ujar Menteri Perdagangan era Presiden ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono ini.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, posisi Indonesia memang serba dilematis. Di satu sisi, pemerintah punya kepentingan untuk menjaga hubungan dagang yang baik dengan AS dan kalau bisa diperluas. Langkah ini bisa dianggap menjadi cara strategis untuk menghindari tarif tambahan atau bahkan membuka pasar ekspor lebih luas.
Baca juga : Aria Bima: Negara Tak Boleh Kalah Sama Preman
Namun, di sisi lain, langkah seperti itu bisa diendus oleh China sebagai strategi berpihak secara tidak langsung kepada AS. Apalagi kalau konsesinya terlalu besar dan terlihat menggerus relasi dagang dengan Beijing, sehingga sangat berbahaya bagi Indonesia.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya