Dark/Light Mode

Coba Lunakkan Amerika Soal Tarif, Sri Mulyani Jaga Perasaan China

Senin, 28 April 2025 08:10 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani berbincang dengan Presiden sekaligus CEO dari US-ASEAN Business Council (USABC) Ambassador Ted Osius saat menghadiri undangan makan siang, di Washington D.C, Sabtu (26/4/2025). Kepada Ted, Sri Mulyani menceritakan kegiatannya selama 4 hari berada di ibu kota Amerika Serikat tersebut. (Foto: Instagram/smindrawati)
Menteri Keuangan Sri Mulyani berbincang dengan Presiden sekaligus CEO dari US-ASEAN Business Council (USABC) Ambassador Ted Osius saat menghadiri undangan makan siang, di Washington D.C, Sabtu (26/4/2025). Kepada Ted, Sri Mulyani menceritakan kegiatannya selama 4 hari berada di ibu kota Amerika Serikat tersebut. (Foto: Instagram/smindrawati)

 Sebelumnya 
“Ini bukan spekulasi kosong, karena China memang punya rekam jejak menggunakan kebijakan ekonomi sebagai alat tekanan geopolitik,” kata Rendy.

Menurutnya, Indonesia harus hari-hati dalam menghadapi pertikaian kedua mitra dagang utama dan perekonomian terbesar di dunia ini. Salah-salah langkah, Indonesia bisa terkena dampak besar.

“Jangan buru-buru menganggap bahwa membuka pasar untuk produk AS atau memberikan insentif ke perusahaan mereka itu murni win-win. Perlu kalkulasi yang matang soal potensi dampaknya ke hubungan kita dengan China,” jelasnya.

Dia menyarankan, Indonesia justru harus mengambil posisi sebagai penjaga keseimbangan, bukan sekadar ikut arus salah satu blok. “Apalagi, kalau kita bicara soal hubungan investasi, China selama ini punya posisi yang sangat strategis di Indonesia,” tegasnya.

Baca juga : Beras Sudah, Swasembada Energi Dinilai Masih Lama

Rendy mengingatkan, dalam situasi perang datang AS-China, manuver Indonesia harus mencerminkan kepentingan nasional yang otonom. “Asal kita pandai membaca momentum dan tidak terjebak dalam jebakan zero-sum game antara dua raksasa dunia,” pungkasnya

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah mengingatkan agar Pemerintah tetap mengedepankan kedaulatan ekonomi nasional dalam menghadapi perang dagang global. Apalagi, Indonesia masih memegang penuh prinsip politik luar negeri yang bebas aktif.

Dalam perundingan tarif dengan Amerika, Indonesia harus mengutamakan keadilan serta melindungi industri dalam negeri. “Negosiasi tarif harus berpihak pada kepentingan nasional, bukan sekadar menyenangkan pihak luar,” pungkasnya.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan, China dan AS merupakan mitra dagang utama bagi Indonesia. Pemerintah harus hati-hati dalam mengambil keputusan dan memastikan tidak memihak.

Baca juga : Wamenaker Jalan Santai Jelang Perayaan MayDay

Menurutnya, pemerintah harus pintar memilih mana yang memang produk yang sangat dibutuhkan dari China, AS dan negara lain. Bila pun ada pergeseran perdagangan, maka tak boleh mengganggu produk yang berkaitan dengan kedua negara.

“Ini harus memang sangat-sangat dipertimbangkan oleh pemerintah, karena kita tahu kedua-duanya adalah mitra dagang terbesar Indonesia,” jelasnya.

Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, ada kabar positif dari negosiasi yang dilakukan Indonesia dengan AS. Kata dia, proposal yang diajukan Indonesia berhasil mendapat sambutan positif dari pihak AS.

Airlangga menginformasikan bahwa Indonesia sudah memasuki tahap awal negosiasi dengan AS, yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerahasiaan (non-disclosure agreement) bersama dengan United States Trade Representative (USTR).

Baca juga : Aria Bima: Negara Tak Boleh Kalah Sama Preman

“Kita sudah masuk dalam fase negosiasi, dan Indonesia adalah salah satu dari 20 negara yang sudah memulai proses negosiasi awal,” ujar Airlangga dalam siaran virtual, Jumat (25/4/2025). [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.