Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Setia pada Lilin, Dimas Batik Bertahan di Tengah Gempuran Printing
Selasa, 6 Mei 2025 14:51 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah arus modernisasi dan maraknya penggunaan teknik printing dalam industri batik, Dimas Batik tetap teguh melestarikan tradisi batik tulis.
UMKM binaan PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat milik Aisha Nadia ini telah berdiri sejak 1987 dan berlokasi di Indihiang, Tasikmalaya.
Hingga kini, Dimas Batik menjadi satu-satunya pengrajin batik tulis di Tasikmalaya yang masih menggunakan teknik malam atau lilin dalam setiap proses produksinya.
Saat ini, Dimas Batik mempekerjakan 25 pembatik, terdiri dari 15 orang yang bekerja di workshop dan 10 ibu rumah tangga yang membatik dari rumah sambil menjalankan peran domestik.
“Kami ingin mempertahankan tradisi sekaligus memberi ruang bagi para ibu agar tetap produktif tanpa meninggalkan peran utama mereka di rumah,” ujar Aisha Nadia.
Perjalanan Aisha merintis usaha ini tidaklah mudah. Ia mengenang saat-saat harus membawa karung berisi kain batik demi bertemu calon pembeli, bahkan pernah diusir satpam karena dikira pemulung.
“Waktu itu saya tidak punya kendaraan. Tapi saya tahu, saya membawa warisan budaya yang berharga,” kenangnya.
Baca juga : Arsjad Ingatkan RI untuk Ambil Peluang di Tengah Perang Tarif
Dua bulan sebelum pandemi COVID-19, Aisha mendapatkan bantuan pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) sebesar Rp 50 juta dari Pertamina.
Dana tersebut digunakan untuk membeli sebidang tanah di pinggir jalan yang kini menjadi galeri permanen Dimas Batik.
Tak disangka, justru di masa pandemi permintaan melonjak dari desainer-desainer ternama di Bandung dan Jakarta, yang memasok pakaian untuk pejabat negara dan selebriti nasional.
Kini, Dimas Batik telah tumbuh menjadi salah satu pengrajin batik terbesar di Tasikmalaya.
Produk-produknya dipasarkan ke berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, dan sejumlah kota di Pulau Jawa.
Bahkan, pasar internasional seperti Singapura dan Jepang pun telah menjadi pelanggan tetap.
“Orang Jepang sangat menyukai motif bunga kecil-kecil seperti melati, sakura, dan truntum. Mereka kurang menyukai motif binatang, jadi kami beradaptasi tanpa kehilangan identitas,” jelas Aisha.
Baca juga : Sinergi Danantara dan Pertamina Diharapkan Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Selain menjaga kualitas dan keaslian produk, Dimas Batik juga aktif mengikuti berbagai pelatihan, termasuk pada tahun 2024 saat bergabung dalam kelas Go Global di Pertamina UMK Academy, guna memperluas pasar ekspor.
Motif-motif batik Jawa Barat yang ditawarkan Dimas Batik sarat makna, antara lain: Merak Ngibing, menggambarkan keindahan gerak burung merak dengan warna-warna cerah penuh energi.
Tiga Negeri, mencerminkan harmoni dari perpaduan budaya Jawa, Pekalongan, dan Lasem.
Cupat Manggu, terinspirasi dari buah manggis, menampilkan pola geometris dan elemen organik yang mencerminkan kesegaran alam.
Sidomukti, simbol harapan dan kemakmuran, kerap digunakan dalam upacara adat dan pernikahan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Jawa Bagian Barat PT Pertamina Patra Niaga Eko Kristiawan menyampaikan apresiasi atas komitmen Dimas Batik dalam melestarikan budaya lokal.
“Kami bangga dapat mendampingi pelaku UMKM seperti Dimas Batik yang tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mampu menembus pasar global. Inilah semangat UMKM binaan Pertamina: berakar kuat pada budaya lokal, namun berpandangan jauh ke depan. Melalui program pendanaan dan pelatihan, kami ingin terus mendorong UMKM naik kelas dan menjadi penggerak ekonomi nasional.”
Baca juga : Politisi Muda PKS: Milenial Butuh Ruang dan Kepercayaan di Panggung Politik
Kisah sukses Dimas Batik sejalan dengan semangat Asta Cita ketiga pemerintahan Prabowo–Gibran, yaitu menciptakan lapangan kerja berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, serta melanjutkan pembangunan infrastruktur yang mendukung perekonomian rakyat.
Kehadiran Dimas Batik membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat, bila mendapat dukungan dan pendampingan yang tepat.
Melalui dedikasi Aisha Nadia dan dukungan Pertamina Patra Niaga, Dimas Batik bukan hanya pelaku industri kreatif, melainkan juga penjaga warisan budaya bangsa.
Di tengah pilihan instan dan serba cepat, Aisha tetap memilih lilin — karena baginya, setiap goresan malam adalah jejak sejarah yang tak tergantikan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya