Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Disampaikan Airlangga Di Gelaran ISSEI 2025
ASEAN Jadi Pemain Penting Baja Dunia
Jumat, 23 Mei 2025 07:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah ketegangan perdagangan global antara Amerika Serikat (AS) dan China, kawasan Asia Tenggara justru muncul sebagai pemain penting dalam industri baja dunia. Indonesia pun menyerukan penguatan kerja sama regional untuk menghadapi gelombang tarif dan masuknya produk baja bermutu rendah ke kawasan.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, ASEAN perlu menyatukan suara untuk menjaga daya saing industri baja regional.
“Kita tidak bisa menghadapi tekanan tarif ini sendirian. ASEAN adalah salah satu produsen baja terbesar di dunia,” ujar Airlangga dalam Indonesia Iron Steel Summit & Exhibition (ISSEI) 2025 di Jakarta Convention Center, Rabu (21/5/2025).
Tarif struktural global terhadap baja, besi dan aluminium yang kini mencapai 25 persen telah menjadi tantangan nyata bagi negara berkembang.
Di tengah tekanan itu, Indonesia justru mencatat ketahanan ekonomi dengan pertumbuhan 4,87 persen pada triwulan I-2025, kedua tertinggi di antara negara-negara G20 setelah China.
Baca juga : Berbagi Tips Hadapi KDRT
Sedangkan sektor industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung, menyumbang 19,25 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan pertumbuhan 4,55 persen.
Industri baja menunjukkan tren positif. Dalam lima tahun terakhir, ekspor baja Indonesia tumbuh 22,18 persen. Sementara konsumsi dalam negeri naik dari 11,4 juta ton pada 2015 menjadi 17,4 juta ton pada 2023, dan diperkirakan mencapai 18,3 juta ton tahun ini. Bahkan, proyeksi konsumsi pada 2035 bisa menembus 47 juta ton.
Namun, di balik pertumbuhan itu, Airlangga mengingatkan bahaya laten dari baja berstandar rendah yang banyak diproduksi melalui induction furnace.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu mencontohkan, insiden gempa di Palu dan bangunan runtuh di Bangkok sebagai pelajaran soal pentingnya keselamatan publik.
“Baja bukan sekadar bahan bangunan, ini soal nyawa. ASEAN perlu menetapkan standar ketat,” tegasnya.
Baca juga : Prabowo: Yang Lamban, Malas, Saya Pinggirkan
Eks anggota DPR ini juga menyoroti tantangan baru dari Uni Eropa yang akan menerapkan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) tahun depan.
“Kita harus siap menghadapi pajak karbon dan tidak menerima relokasi teknologi substandar dari luar,” ujarnya.
ISSEI 2025 menjadi momentum penting penguatan kolaborasi regional. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman ASEAN Iron & Steel Council oleh enam negara. Yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.
Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) yang juga Dirut Krakatau Steel Muhamad Akbar Djohan menegaskan, pentingnya inovasi dan kolaborasi untuk meningkatkan daya saing baja nasional.
Ketua South East Asia Iron & Steel Institute (SEAISI) Dato Lim Hong Thye juga menyoroti peran strategis Indonesia dalam transformasi industri baja ASEAN menuju arah yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Baca juga : Makkah Panas, Jemaah Haji Gunakan Sunscreen dan Lip Balm
Pameran ISSEI 2025 yang digelar 21–23 Mei 2025 menghadirkan seminar, talkshow, diskusi pakar, pameran teknologi, business matching dan Green Steel Building Competition.
Kegiatan ini diharapkan memperkuat roadmap ketahanan industri baja nasional dan mempercepat kontribusi sektor ini dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya