Dark/Light Mode

Harga Gabah Ugal-ugalan Tekan Pasar

Pemerintah Wacanakan HET Beras Medium Naik

Kamis, 17 Juli 2025 07:00 WIB
Kepala Bapanas Arief ­Prasetyo Adi
Kepala Bapanas Arief ­Prasetyo Adi

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) tengah mempertimbangkan untuk menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium. Langkah ini diambil menyusul melonjaknya harga Gabah Kering Panen (GKP) yang dalam beberapa pekan terakhir menembus di atas Rp 7.000 per kilogram (kg), melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kg.

Selain lonjakan harga, ­beragamnya kualitas beras medium di pasar turut memicu ketidakseimbangan harga.

Kepala Bapanas Arief ­Prasetyo Adi mengatakan, wacana penyesuaian HET sebenarnya sudah mulai dibahas sejak April 2025 bersama para pemangku kepentingan perberasan. Itu dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga gabah usai masa panen.

“Untuk penyesuaian harga semuanya sih mungkin ya, kenapa nggak mungkin. Kalau beras mediumnya memang perlu di-review, ya kami ­review,” ujar Arief dalam kete­rangan resmi Bapanas, Rabu (16/7/2025).

Menurutnya, penyesuaian HET harus mempertimbangkan kepentingan semua pihak. Mulai dari petani yang membutuhkan harga gabah yang menguntungkan, penggilingan yang perlu margin wajar, hingga konsumen yang tetap harus mendapatkan akses terhadap beras terjangkau.

Baca juga : Nangis, Penipu Dihukum Ringan

Arief juga mengungkapkan, lonjakan harga beras bela­kangan ini turut dipicu oleh praktik pembelian gabah secara agresif oleh penggilingan.

Beberapa penggilingan disebut membeli gabah jauh di atas HPP, bahkan hingga Rp 7.400–Rp 7.800 per kg, yang membuat Harga Pokok Produksi (HPP) beras ikut terdongkrak hingga Rp 14.900 per kg.

“Kenapa harga produksi tinggi? Karena beli gabahnya ugal-ugalan. Bagus untuk ­petani, tetapi dia harus mengukur. Kalau beli gabah dengan harga premium, itu jadinya Rp 14.900 per kilogram,” jelasnya.

Pihaknya berharap, para penggilingan bijak dalam menyerap gabah, khususnya saat panen raya. Langkah ini penting agar stok gabah tetap terjaga untuk masa tanam berikutnya dan tidak menciptakan gejolak harga di pasar beras.

Saat ini, harga beras medium secara nasional tercatat naik menjadi Rp 14.317 per kg atau 14,54 persen di atas HET zona 1 yang ditetapkan sebesar Rp 12.500 per kg.

Baca juga : Kembali Diperiksa Kejagung, Nadiem Tidak Kelimis Lagi

Sementara, harga beras premium juga mengalami kenaikan, dengan rata-rata Rp 16.602 per kg, melampaui HET zona 1 sebesar Rp 14.900 per kg.

Adapun harga GKP nasional juga masih tinggi, dengan rata-rata Rp 6.766 per kg atau 4,1 persen di atas HPP.

“Kecenderungan ini menambah tekanan terhadap harga beras di hilir, sekaligus memperkuat alasan untuk melakukan ­evaluasi atas kebijakan HET yang berlaku,” ujar Arief.

Karena itu, Pemerintah akan terus memantau dinamika ­pasar dan menyiapkan langkah ­korektif untuk menjaga stabilitas harga. Termasuk memastikan ketersediaan pangan yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.

Koordinator Nasional ­Koalisi Rakyat Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah menga­takan, kenaikan HET harus diikuti dengan kualitas beras medium yang terjaga.

Baca juga : Puan Tuding MK Langgar UUD

“Jangan sampai harga sudah naik, tapi kualitas beras medium malah lebih rendah,” ujar Said kepada Rakyat Merdeka.

Selain itu, menurutnya, kenaikan ­harga HET diharapkan mem­bawa ­peningkatan ekonomi bagi ­petani karena harga pembelian gabah juga akan lebih tinggi.

“Jadi, konsumen dapat beras bagus, taraf ekonomi petani juga terdongkrak,” imbuhnya.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.