Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Lidah Tanah, Stasiun Warisan Kolonial Di Sumut Kini Layani Penumpang Lagi
Selasa, 22 Juli 2025 16:08 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Stasiun Kereta Api Lidah Tanah di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, resmi aktif melayani penumpang. Stasiun peninggalan zaman kolonial Belanda yang dulu hanya berfungsi sebagai pengatur persilangan, kini dioperasikan untuk naik-turun penumpang oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional I Sumatera Utara.
Kepala Stasiun Lidah Tanah, Hendarji Widodo, mengatakan bahwa stasiun yang telah beroperasi sejak 1902 itu awalnya hanya difungsikan untuk pengaturan lintasan kereta api dari Medan ke Pematangsiantar atau Tanjungbalai, dan sebaliknya. Namun, sejak Februari 2025, statusnya naik kelas. Stasiun tersebut kini ikut melayani penumpang.
“Permintaan dari masyarakat dan potensinya juga cukup tinggi. Sejak Februari 2025 stasiun ini yang awalnya hanya sebagai pengatur persilangan kereta api, juga dijadikan sebagai stasiun yang melayani penumpang. Jadi kalau dulu kereta api hanya melintas, sekarang setiap kereta penumpang juga berhenti di stasiun ini,” ujar Hendarji dalam keterangannya, Selasa (22/7/2025).
Baca juga : Kasus Pemerasan, KPK Telisik Keterlibatan Mantan Menaker
Keputusan untuk membuka layanan penumpang diambil seiring diberlakukannya Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2025, menggantikan Gapeka 2023. Gapeka adalah pedoman pengaturan perjalanan kereta api yang digambarkan secara grafis dan mencakup jadwal, jarak tempuh, kecepatan, serta posisi kereta saat berangkat, berhenti, bersilang, hingga disusul.
“Manfaat yang dapat dirasakan pelanggan pada penerapan Gapeka 2025 salah satunya adalah penambahan pemberhentian di stasiun untuk melayani naik/turun penumpang,” ujarnya.
Saat ini, dua kereta penumpang reguler yang berhenti di Stasiun Lidah Tanah. Yakni Kereta Api Putri Deli dan Siantar Ekspres. Sebagai penunjang, berbagai fasilitas ditambahkan, meskipun tetap mempertimbangkan pelestarian bangunan bersejarah.
Baca juga : Lewat Program Kreasi Kopi Sunyi, Jamkrindo Berdayakan Penyandang Disabilitas
Beberapa fasilitas tambahan yang disiapkan antara lain kursi ruang tunggu, bancik (tangga untuk naik turun penumpang), loket boks, kursi roda, tandu, tempat sampah, alat pengering payung, serta perlengkapan untuk musholla.
Stasiun yang berada di Deli Muda Hilir, Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai, ini berdiri di atas ketinggian 11,47 meter di atas permukaan laut (DPL).
Terdapat lima ruangan di dalam bangunan utama, yang difungsikan sebagai ruang kepala stasiun, ruang tunggu, musholla, ruang "safety first", dan ruang pengatur perjalanan. Jalur keretanya hanya dua, dengan jalur dua berfungsi sebagai sepur lurus.
Baca juga : Legenda Dangdut Hamdan ATT Meninggal Dunia, Disemayamkan Di Kramat Jati
Operasional harian stasiun dijalankan oleh tim kecil berisi tiga hingga empat petugas yang berjaga secara bergiliran, baik siang maupun malam.
Karena berstatus sebagai cagar budaya, perawatan bangunan dilakukan dengan hati-hati. KAI Divre I Sumut tak bisa sembarangan merenovasi, dan segala bentuk pemeliharaan harus mengacu pada prinsip pelestarian.
“Kan tidak bisa sembarangan melakukan perubahan terhadap bangunan yang masuk cagar budaya. Harus sangat hati-hati karena memang ada aturannya. Misalnya kalau ada genteng yang bocor, harus disisip dengan genteng jenis yang sama, demikian juga dengan yang lainnya. Kita hanya bisa memperindah sekitarnya, misalnya dengan menanam bunga-bungaan atau lainnya,” tutup Hendarji.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya