Dark/Light Mode

Fenomena “Rojali” Marak Lagi

Mall Ramai, Tapi Tenan Ngeluh Minim Transaksi

Kamis, 24 Juli 2025 07:00 WIB
Aktivitas warga di Plaza Blok M, Jakarta. (Foto: Tedy Octariawan Kroen/RM)
Aktivitas warga di Plaza Blok M, Jakarta. (Foto: Tedy Octariawan Kroen/RM)

 Sebelumnya 
Menurutnya, banyak mall yang terlihat ramai tapi tenan menge­luhkan sepinya transaksi.

“Bisa jadi karena faktor tekanan ekonomi, harga kebutuhan pokok naik, cicilan menumpuk dan beban hidup makin be­rat,” kata Rizqi kepada Rakyat Merdeka, Rabu (23/7/2025).

“Yang perlu ditekankan, bukan berarti masyarakat tak ingin be­lanja, tapi mereka sedang dalam mode bertahan,” imbuhnya.

Baca juga : Pangkas Target Pajak, Bang Doel: Kita Realistis...

Rizqi menekankan pentingnya inovasi pengalaman belanja yang lebih emosional dan terjangkau, serta perlunya insentif lang­sung dari Pemerintah kepada masyarakat.

“Kalau fenomena ini ter­us dibiarkan, sektor ritel dan UMKM bisa terganggu. Kita perlu kolaborasi, Pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat saling menopang pemulihan ekonomi ini,” ujar Rizqi.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan, fenomena rojali se­bagai refleksi tekanan terhadap konsumsi rumah tangga.

Baca juga : Maudy Ayunda, Ajak Ke Cafe Pake Kebaya

“Orang hanya akan belanja jika ada diskon. Tapi sayang, yang sering dipromosikan bukanlah barang-barang kebutuhan uta­ma,” kata Esther kepada Rakyat Merdeka, Rabu (23/7/2025).

Menurutnya, konsumsi masyarakat masih tertekan oleh harga barang yang tinggi, gelom­bang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan minimnya diskon un­tuk kebutuhan pokok. Karena itu, target pertumbuhan ekonomi 8 persen dari Pemerintahan Prabo­wo Subianto akan sulit tercapai jika tren ini berlanjut.

“Fenomena ini mencerminkan konsumsi belum pulih, sementara ekspor dan pengeluaran Pemerin­tah juga melemah. Artinya, mesin pertumbuhan utama belum bekerja optimal,” jelas Esther.

Baca juga : Perusahaan Besar Terlibat Oplos Beras

Karena itu, saran Esther, kebijakan fiskal dan moneter harus lebih terarah untuk mem­perkuat daya beli masyarakat. Sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang inklusif dan berkelanjutan. [NOV/DIR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.