Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menambang Nikel, Menyulam Alam: Cerita dari Pulau Obi
Selasa, 12 Agustus 2025 06:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di Pulau Obi, Maluku Utara, laut biru bukan sekadar pemandangan indah—ia adalah janji. Janji untuk menambang tanpa mengorbankan ekosistem, menumbuhkan kembali hutan, dan memulihkan kehidupan bawah laut.
Pagi di Pulau Obi dimulai dengan cahaya keemasan yang memantul di permukaan laut. Angin asin mengibaskan rambut para nelayan yang bersiap melaut, sementara burung melintas di langit. Bagi orang luar, ini hanya pulau kecil di gugusan Maluku Utara. Tapi bagi Harita Nickel, Obi adalah pusat tanggung jawab besar: menambang nikel yang dibutuhkan dunia sambil memastikan laut dan daratnya tetap hidup.
“Lingkungan laut di Obi adalah aset bersama. Kami memastikan setiap kegiatan perusahaan tidak merusaknya, justru ikut menjaganya,” ujar Windy Prayogo, Environment Marine Manager Harita Nickel, saat ditemui di sela Energy & Mining Editor Society (E2S) Retret 2025 di Kinasih Resort, Bogor, Sabtu (9/8/2025).

Tambang Dekat Laut, Risiko Tinggi
Tambang Harita berada tak jauh dari perairan Obi. Kedekatan ini ibarat pisau bermata dua: memudahkan logistik, tapi menuntut pengelolaan ekstra ketat. Air buangan dari penambangan dan pengolahan nikel tak boleh lolos tanpa diolah. Standar baku mutu harus dipenuhi, bukan sekadar angka di atas kertas.
“Pengelolaan limbah cair kegiatan penambangan terkoneksi langsung dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan secara online dengan menggunakan instrumen SPARING,” jelas Windy. SPARING—Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah Industri Secara Terus Menerus dan Dalam Jaringan—memungkinkan data kualitas air terbaca real-time di pusat kendali pemerintah.

Tak berhenti di situ, pengujian air juga dilakukan secara rutin oleh laboratorium independen terakreditasi. Harita membangun lebih dari 52 kolam sedimentasi di area tambang PT Trimegah Bangun Persada (TBP) dan PT Gane Permai Sentosa (GPS).
Baca juga : PGN Gaspol Bentang Pipa, Menyambung Barat dan Timur Indonesia
Kolam ini menjadi “filter raksasa” yang menahan sedimen agar tidak mencemari laut. “Ukuran kolam sedimen lebih dari 500 ukuran kolam renang olimpiade,” kata Windy.
Menyelam Mengukur Kehidupan
Di laut, pekerjaan tak kalah rumit. Tim lingkungan Harita Nickel rutin menyelam membawa CTD-water sampler untuk mengukur pH, oksigen terlarut, salinitas, suhu, hingga kecerahan air.
Sedimen di dasar laut diuji kandungan logamnya dengan Atomic Absorption Spectrophotometer sesuai standar APHA 2012.
“Kami tidak sekadar memantau, tapi juga melaporkan semua hasil ini secara berkala lewat SIMPEL-KLH, agar pemerintah bisa mengaksesnya kapan saja,” tambah Windy.
Pemantauan ini bahkan menyentuh biota—megabentos diamati dengan metode belt transect, memberikan potret detail ekosistem dasar laut.
Rehabilitasi: Dari Karang Buatan hingga Mangrove
Harita Nickel paham, konservasi bukan cuma pencegahan, tapi juga pemulihan. Di dasar laut, 2.269 unit terumbu karang buatan telah dipasang di area seluas 1.522 meter persegi.
Baca juga : Terus Dibantu Dan Dibela, Palestina Ucapkan Terima Kasih Ke RI
Di tepian pantai, ratusan mangrove kembali menghijau. Semua melibatkan warga lokal, agar mereka bukan hanya penerima manfaat, tapi juga penjaga bersama.

Di darat, ribuan bibit pohon kembali menghijaukan lahan bekas tambang. Air olahan dimanfaatkan kembali, misalnya untuk menyiram jalan tambang agar debu tak beterbangan—langkah kecil yang berarti besar bagi kesehatan lingkungan.
Memahami Denyut Kehidupan Nelayan
Tak jauh dari bibir pantai, survei keranjang ikan dilakukan rutin. Hasilnya, desa Soligi didominasi nelayan penuh waktu, sedangkan di Kawasi kebanyakan melaut sambilan. Alat tangkap mayoritas berupa pancing dan jaring. Musim timur menjadi puncak tangkapan tuna dan cakalang.
Data ini bukan sekadar statistik; ia menjadi dasar merancang program sosial yang sesuai kebutuhan komunitas. Laut juga jadi arena edukasi lewat Turnamen Memancing Obi IV bertema “Mari Jaga Torang Pe Laut”.
Nelayan diajak berlomba sambil mempraktikkan aturan ramah lingkungan: hiu, pari, dan lumba-lumba dilarang ditangkap; ikan billfish wajib dilepas kembali hidup-hidup; teknik memancing destruktif seperti RAWE dilarang keras.

"Ini bukan sekadar mancing, tapi momen mempererat hubungan Harita dan masyarakat nelayan. Kompetisinya sehat, suasananya akrab,” kata Tonny H. Gultom, Direktur Health, Safety, and Environment (HSE) Harita Nickel, di sela-sela Obi Fishing Tournament 2025 di Pulau Obi, Minggu (15/6).
Menambang untuk Masa Depan Bersama
Baca juga : Menembus Sekat Primordial Melalui Ajaran Cinta dan Kasih
Harita Nickel menempatkan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Upaya ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-6 tentang air bersih dan sanitasi layak, serta tujuan ke-13 tentang penanganan perubahan iklim.
“Kalau lautnya sehat, ekosistemnya terjaga, masyarakat pun akan ikut merasakan manfaatnya. Itu tujuan akhirnya,” tutup Windy.

Epilog: Janji yang Dijaga Ombak
Sore di Obi menyelimuti laut dengan cahaya jingga yang lembut, memantulkan kilau tenang di permukaan air. Dari kejauhan, kapal pengangkut nikel bergerak perlahan membawa hasil bumi menuju dunia. Hutan yang dulu gersang perlahan kembali menghijau, menjadi saksi bisu dari komitmen yang terus dijaga.
Di bawah langit luas itu, ada harapan kuat bahwa menambang untuk masa depan bisa berjalan beriringan dengan menjaga rumah sendiri—Pulau Obi tetap biru, lestari, dan penuh kehidupan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya