Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pengamat: Purbaya Pro Pertumbuhan, Kebijakan Awal Sangat Menentukan
Selasa, 9 September 2025 13:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Chief Economist & Head of Fixed Income Research BRI Danareksa, Helmy Kristanto menyampaikan pandangannya soal reshuffle Kabinet Merah Putih, yang antara lain mengganti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan Purbaya Yudhi Sadewa.
Helmy optimistis, Purbaya yang memiliki latar belakang pasar keuangan, berbagai posisi di pemerintahan, hingga memimpin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dapat mengatasi berbagai tantangan ekonomi dari sudut yang berbeda.
“Terpilihnya Purbaya menunjukkan potensi kesinambungan kebijakan, dengan fokus pro pertumbuhan yang lebih kuat. Pendekatannya dapat menyeimbangkan disiplin fiskal dengan dukungan untuk pertumbuhan,” papar Helmy dalam keterangannya, Selasa (9/9/2025).
Baca juga : Dorong Pengadaan Transparan, Pertamina Hulu Indonesia Gelar Supplier Engagement
“Kebijakan awalnya akan sangat penting dalam menentukan laju penerimaan pasar,” imbuhnya.
Purbaya, kata Helmy, dikenal karena sikap pro pertumbuhan. Menurutnya, sikap tersebut sangat tepat waktu, mengingat moderasi saat ini berada dalam momentum ekonomi.
Dalam forum LPS baru-baru ini, Purbaya menegaskan keyakinannya bahwa target pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2026 sebesar 5,4 persen dapat dicapai. Asalkan, mesin fiskal dan moneter beroperasi secara sinkron.
Baca juga : Dongkrak Pertumbuhan, Pemerintah Lanjutkan Stimulus Ekonomi
“Ini menandakan adanya kemungkinan penekanan kebijakan pada dukungan kontra siklus untuk meningkatkan pertumbuhan,” papar Helmy.
Reaksi Pasar
Pada kesempatan yang sama, Helmy juga menyoroti reaksi pasar setelah pencopotan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Sehingga rupiah melemah, saham jatuh, dan imbal hasil obligasi bergerak lebih tinggi,
Menurut dia, hal itu terjadi karena Sri Mulyani telah lama dilihat sebagai
penjaga kunci kredibilitas fiskal Indonesia. Sri Mulyani sukses menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen dari PDB di sebagian besar tahun, kecuali selama pandemi.
Rupiah Melemah
Baca juga : PNM Apresiasi Usaha Ultra Mikro, Perkuat Layanan, dan Kobarkan Semangat Entrepreneurship
Soal rupiah yang pagi ini masih melemah di angka Rp 16.475, Helmy berpendapat, hal tersebut menunjukkan tekanan bertahan semalaman.
“Dalam pandangan kami, setiap kenaikan imbal hasil obligasi dapat menarik pembeli, terutama bank dan dana pensiun. Volatilitas pasar kemungkinan akan bertahan di sukuk tabungan (ST).
“Dalam kondisi Bl berada pada siklus pelonggaran dan Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga minggu depan, volatilitas pasar baru-baru ini dapat menciptakan peluang,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya