Dark/Light Mode

Gandeng Tulola Dan Desa Taro

BCA Dorong Ekonomi Lokal Via Kolaborasi Seni Budaya

Senin, 15 September 2025 06:35 WIB
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn (kedua kiri) bersama Founder & Creative Conceptor Tulola Happy Salma (tengah), Founder & Creative Designer Tulola Sri Luce Rusna (kedua kanan), Chief of the Village Andaz Bali Marc Walz (kiri) dan perajin perak Desa Wisata Taro Ketut Daging saat memberikan keterangan pers mengenai perayaan Kawan Nusantara “IDENTITAS” dari Tulola di Andaz, Bali, Kamis (11/9/2025). (Foto: Dok. BCA)
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn (kedua kiri) bersama Founder & Creative Conceptor Tulola Happy Salma (tengah), Founder & Creative Designer Tulola Sri Luce Rusna (kedua kanan), Chief of the Village Andaz Bali Marc Walz (kiri) dan perajin perak Desa Wisata Taro Ketut Daging saat memberikan keterangan pers mengenai perayaan Kawan Nusantara “IDENTITAS” dari Tulola di Andaz, Bali, Kamis (11/9/2025). (Foto: Dok. BCA)

 Sebelumnya 
“Kami ingin membentuk circu­lar economy. Setelah berkolaborasi dengan Tulola, penerimaan Desa Taro meningkat 30-40 persen dalam tahun pertama. Ini luar biasa,” ungkapnya.

Happy Salma mengatakan, kolaborasi menjadi tema besar Tulola dalam setiap kekaryaan­nya. Acara ini merupakan ketiga kalinya Tulola laksanakan di An­daz dan kedua kalinya bekerja sama dengan Bakti BCA dan juga Desa Taro.

“Pengennya setiap tahun kita berkolaborasi dengan banyak kawan Nusantara. Sehingga tradisi dan budaya itu bukan hanya sebagai bagian gaya hidup, tetapi juga pegangan roda ekonomi kita,” ujar Happy.

Baca juga : Daya Saing Menguat, Investasi Terdongkrak

Sang aktris juga mengatakan, perhiasan yang diproduksi Tulola dijual dengan harga menengah. “Kisarannya dari Rp 600 ribu hingga Rp 20 juta,” ungkapnya.

Ketut Daging turut berbagi pengalaman. Dia menceritakan bagaimana sebelumnya hanya membuat keris untuk kebutuhan adat. Namun setelah berkolaborasi dengan Tulola, pasar baru terbuka.

“Dulu saya hanya bikin keris untuk orang Bali. Sekarang karya saya bisa sampai Jakarta. Bahkan ada keris yang harganya hampir Rp 100 juta laku terjual,” ujarnya, bangga.

Baca juga : Lansia Dan Disabilitas Kesulitan Masuk Halte

Dia juga menekankan, kolaborasi ini bukan sekadar tran­saksi, melainkan proses belajar bersama.

“Saya banyak dibimbing Bu Sri dan teman-teman Tulola. Kami berusaha mengikuti apa yang mereka mau, sambil tetap menjaga tradisi,” pungkasnya.

Kolaborasi antara Tulola, Bakti BCA dan Desa Taro mem­buktikan bahwa seni, budaya dan tradisi dapat menjadi fon­dasi kuat untuk pemberdayaan ekonomi. Tidak hanya men­jaga identitas bangsa, tetapi juga membuka jalan menuju daya saing global.

Baca juga : Unsur Korupsi Bukan Cuma Memperkaya Diri

Selain menghadirkan koleksi karya dua perajin dari Desa Wisa­ta Taro, Bakti BCA juga meng­hadirkan sejumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bi­naan. Seperti kain tenun wastra warna alam dari Sumba Timur, Timor Tengah Selatan dan Baduy, serta kain batik dari Kampung Batik Gemah Sumilir.

BCA menawarkan diskon hingga 20 persen untuk produk-produk Tulola, hingga tambahan diskon 5 persen untuk pemegang kartu kredit BCA.

Sejumlah tenant yang hadir pada perayaan Kawan Nusantara “IDENTITAS” juga memberi­kan diskon khusus bagi nasabah BCA.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.