Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
PLN EPI: Gas Jadi Pilar Utama Transisi Energi dan Keandalan Listrik Nasional
Selasa, 16 September 2025 19:53 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan bahwa gas bumi tetap menjadi komponen kunci dalam mendukung transisi energi nasional menuju target Net Zero Emission (NZE).
Gas tidak hanya berperan sebagai energi transisi, tetapi juga sebagai tulang punggung keandalan sistem kelistrikan.
Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan, peran gas sangat krusial untuk memastikan sistem kelistrikan tetap stabil di tengah pengembangan besar-besaran energi baru terbarukan (EBT).
“Gas bukan hanya sumber energi transisi, tetapi juga penyeimbang yang fleksibel sebagai load follower dan peaker di tengah pengembangan besar-besaran energi baru terbarukan (EBT). Perannya sangat krusial untuk memastikan sistem kelistrikan tetap stabil,” ujar Rakhmad dalam keterangan resminya.
Baca juga : Pan Brothers Keluar dari API, Fokus Perkuat Industri Tekstil Nasional
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN memproyeksikan peningkatan kebutuhan listrik nasional dari 306 terawatt-hour (TWh) pada 2024 menjadi 511 TWh pada 2034.
Lonjakan ini dipicu pertumbuhan signifikan dari pusat data, kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV), dan peningkatan penggunaan alat elektronik seperti AC.
Untuk itu, Rakhmad menyatakan PLN EPI harus siap memastikan ketersediaan pasokan energi yang cukup dan andal, terutama dengan adanya lonjakan konsumsi listrik dari berbagai sektor.
Dari sisi energi primer, kebutuhan gas untuk kelistrikan diproyeksikan meningkat dari 1.635 Billion British Thermal Units per Day (BBTUD) pada 2024 menjadi 2.611 BBTUD pada 2034.
Baca juga : Ibas Sebut FKPPI Bisa Jadi Garda Depan Pembangunan Nasional
“Karena itu, kami harus memastikan ketersediaan pasokan gas dalam jangka panjang,” tambah Rakhmad.
PLN saat ini mengandalkan dua sumber utama, yaitu gas pipa dan Liquefied Natural Gas (LNG).
Dengan menurunnya produksi gas pipa domestik, kebutuhan LNG diperkirakan terus meningkat.
Sebagai strategi efisiensi dan dekarbonisasi, PLN menjalankan program konversi pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) menjadi gas di 41 unit pembangkit hingga tahun 2027.
Baca juga : Pertamina Hulu Energi Tegaskan Peran Strategis di Industri Migas Nasional
Program ini diproyeksikan menyerap hingga 29 kargo LNG per tahun. Dengan cadangan gas nasional yang masih besar, tantangan utama terletak pada pengembangan lapangan gas baru dan infrastruktur.
Untuk itu, PLN tengah mengembangkan infrastruktur gas, termasuk koneksi pipa West Natuna–Pulau Pemping dan pembangunan Floating Storage Regasification Unit (FSRU).
Rakhmad menegaskan, keberhasilan transisi energi ini bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan.
“Kami membutuhkan dukungan Pemerintah terkait kepastian alokasi gas jangka panjang, baik dari sumber baru, perpanjangan alokasi yang ada maupun pengalihan kontrak ekspor yang akan berakhir. Dukungan kebijakan dan percepatan perizinan infrastruktur juga sangat kami harapkan,” tutup Rakhmad.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya