Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
PMI Manufaktur RI September 2025 Capai 50,4, Menperin: Industri Kita Tangguh
Kamis, 2 Oktober 2025 09:44 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sektor industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan geliat positif pada akhir triwulan III tahun ini meskipun pertumbuhannya sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2025 tercatat di level 50,4. Angka tersebut berada di atas ambang batas 50,0 yang menandakan aktivitas industri tetap tumbuh atau berada di zona ekspansi, meski lebih moderat dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 51,5.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan capaian tersebut menunjukkan daya tahan industri nasional tetap terjaga di tengah tantangan global.
“PMI Manufaktur Indonesia berhasil bertahan di zona ekspansif selama dua bulan berturut-turut. Hal ini mengindikasikan bahwa permintaan domestik yang kuat masih menjadi motor utama pertumbuhan, termasuk juga permintaan ekspor yang masih cukup baik meskipun mengalami tekanan dari dampak ekonomi global,” kata Agus di Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Data S&P Global menunjukkan permintaan baru meningkat selama dua bulan beruntun, didorong oleh konsumsi dalam negeri. Kondisi ini menjadi momentum positif bagi pelaku industri nasional untuk mengoptimalkan pasar domestik yang besar.
Baca juga : Industri Manufaktur Tetap Ekspansif, IKI September 2025 Capai 53,02
“Apalagi, Kemenperin telah melakukan reformasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk membuka peluang lebih besar dalam penyerapan produk lokal. Dengan kebijakan ini, industri dapat lebih percaya diri meningkatkan produksi sekaligus memperluas basis konsumen di pasar nasional,” ujarnya.
Hasil survei PMI juga mencatat pelaku industri tetap meningkatkan pembelian input dan stok inventaris sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kenaikan produksi di masa mendatang.
“Langkah ini turut mencerminkan optimisme pelaku industri terhadap prospek pertumbuhan beberapa bulan ke depan,” imbuhnya.
Indikator lain yang dinilai menggembirakan adalah tingkat ketenagakerjaan di sektor manufaktur, yang berada di level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kepercayaan bisnis juga meningkat ke posisi tertinggi sejak Mei 2025, seiring dengan ekspektasi membaiknya kondisi permintaan.
“Kemenperin mencermati bahwa peningkatan penyerapan tenaga kerja adalah sinyal positif. Ini menandakan pelaku industri bersiap menghadapi prospek permintaan yang lebih baik sekaligus memperkuat kontribusi sektor industri terhadap penciptaan lapangan kerja,” kata Agus.
Baca juga : Menkeu Guyur Perbankan 200 T, Menperin: Itu Angin Segar Bagi Manufaktur
Ia juga menyambut baik pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan cukai rokok pada tahun depan. Menurut Agus, langkah tersebut dapat dipandang sebagai bentuk insentif bagi pelaku Industri Hasil Tembakau (IHT) yang selama ini berkontribusi besar terhadap penerimaan negara, penyerapan tenaga kerja, dan devisa ekspor.
“Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan usaha sekaligus mendukung stabilitas ekonomi nasional. Tidak menaikkan cukai rokok itu saja sudah merupakan insentif, dan hal itu juga akan meningkatkan permintaan,” jelasnya.
Ke depan, Kemenperin berkomitmen menjaga kinerja industri manufaktur dengan memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk menjaga stabilitas harga bahan baku serta mendorong efisiensi rantai pasok.
“Upaya ini penting agar industri tetap kompetitif sekaligus melindungi konsumen di dalam negeri,” ujarnya.
Selain itu, Kemenperin juga menekankan strategi hilirisasi, pengendalian impor bahan baku, serta diversifikasi pasar ekspor guna mengimbangi tekanan dari menurunnya permintaan global.
Baca juga : Harga Emas Antam 4 September 2025, Naik Jadi Rp 2.044.000 Per Gram
“Kami optimistis prospek sektor manufaktur ke depan masih positif. Dengan dukungan kebijakan industri yang tepat, kepercayaan diri pelaku usaha, serta penguatan pasar domestik, industri Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan dan tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional,” tegas Agus.
Sebagai perbandingan, PMI manufaktur Indonesia pada September 2025 tercatat lebih tinggi dibandingkan Jepang (48,5), Prancis (48,1), Jerman (48,5), Inggris (46,2), Taiwan (46,8), Malaysia (49,8), dan Filipina (49,9).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya