Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pangkas Bunga Acuan 150 Bps, BI Jaga Stabilitas Rupiah Dan Kerek Ekonomi
Jumat, 24 Oktober 2025 17:23 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya (BI Rate) di level 4,75 persen per Oktober 2025. Angka ini menjadi yang terendah sejak 2022, setelah BI memangkas suku bunga sebesar 150 basis poin (bps) pascapandemi Covid-19.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya menjelaskan, kebijakan ini merupakan hasil penilaian (assessment) atas kondisi ekonomi global dan domestik. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ekonomi global saat ini masih dalam tren melambat akibat sejumlah faktor risiko, terutama kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang menekan kinerja perdagangan dunia,” ujar Juli dalam diskusi ekonomi di Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat (24/10/2025).
Baca juga : BNI Dukung Ekspansi QRIS Lintas Negara Perkuat Stabilitas Rupiah & Konektivitas
Menurut Juli, perekonomian domestik masih cukup kuat dan perlu terus didorong agar tumbuh sesuai potensinya. Pada triwulan III-2025, ekonomi diperkirakan meningkat didorong oleh ekspor komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan besi baja, khususnya ke pasar India dan China. Belanja pemerintah juga turut memperkuat permintaan domestik.
Sementara pada semester II-2025, kinerja ekonomi diyakini akan lebih baik dibandingkan semester I, seiring realisasi berbagai program prioritas pemerintah di sektor infrastruktur, energi, dan kebijakan ekonomi baru, termasuk tambahan bantuan sosial pada triwulan IV.
“BI terus mendorong pertumbuhan melalui kebijakan suku bunga dan likuiditas yang adaptif,” lanjutnya.
Baca juga : Program B35 dan B40 Ideal untuk Jaga Stabilitas Energi & Kesejahteraan Petani
Secara keseluruhan, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2025 berada sedikit di atas titik tengah kisaran 4,6–5,4 persen, dengan prospek 2026 yang lebih optimistis.
Dari sisi nilai tukar, BI memastikan Rupiah tetap stabil meskipun sempat terjadi arus keluar (capital outflow) dari investor non-residen. “Stabilitas ini tidak lepas dari komitmen BI menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah,” tegas Juli.
Untuk menjaga stabilitas, BI melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas), baik di pasar spot maupun forward, guna meredam volatilitas nilai tukar. Pada 21 Oktober 2025, Rupiah tercatat di level Rp16.585 per dolar AS, menguat 0,45 persen (ptp) dibandingkan akhir September 2025.
Baca juga : Patuhi Arahan Presiden, Mendagri Fokus Jaga Stabilitas Harga Di Daerah
Sebelumnya, Rupiah sempat melemah 1,05 persen (ptp) pada September akibat meningkatnya ketidakpastian global. Namun, respons kebijakan BI melalui intervensi di pasar spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder berhasil menstabilkan pergerakan Rupiah pada Oktober.
Selain itu, BI mencatat peningkatan arus masuk Devisa Hasil Ekspor (DHE) dari sektor sumber daya alam ke instrumen keuangan seperti Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).“Kebijakan ini tidak hanya mendukung stabilitas nilai tukar, tetapi juga memperkuat posisi cadangan devisa nasional,” tutup Juli.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya