Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Laba Bersih Astra Turun 6 Persen Ke Angka Rp 24,7 Triliun Di Kuartal III 2025
Sabtu, 1 November 2025 13:47 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menurunnya harga batu bara yang menekan kinerja divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi, turut berdampak pada kinerja PT Astra International Tbk (Astra).
Astra mencatat penurunan laba bersih sebesar 6 persen menjadi Rp 24,7 triliun pada kuartal III-2025, tidak termasuk penyesuaian nilai wajar atas investasi di GoTo dan Hermina.
Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro mengatakan, jika memperhitungkan penyesuaian nilai wajar tersebut, laba bersih Grup turun 5 persen menjadi Rp 24,5 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
“Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya harga batu bara,” katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (1/11/2025).
Selanjutnya, dalam periode yang sama, pendapatan bersih konsolidasian Grup tercatat sebesar Rp243,6 triliun, turun 1 persen dibandingkan Rp 246,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Baca juga : Laba Bersih Danamon Naik 21 Persen Di 9 Bulan Pertama 2025
Djony mengatakan, kontribusi yang solid dari bisnis-bisnis lainnya turut mendukung resiliensi kinerja Grup, dan pihaknya memperkirakan kinerja tahun 2025 masih akan sejalan dengan tren kinerja Grup saat ini.
“Meskipun bisnis pertambangan melemah, sejumlah lini usaha lain menunjukkan pertumbuhan positif,” ungkapnya. Pada divisi jasa keuangan, laba naik 8 persen menjadi Rp 6,7 triliun, didorong oleh peningkatan pembiayaan konsumen.
Divisi agribisnis mencatat pertumbuhan laba 34 persen menjadi Rp 853 miliar, sementara infrastruktur naik 28 persen menjadi Rp 935 miliar. Selanjutnya dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi yang dijalankan melalui PT United Tractors Tbk, menurun 26 persen menjadi Rp 7 triliun akibat harga batu bara yang lebih rendah.
“Penurunan ini sedikit diimbangi oleh kenaikan penjualan emas sebesar 8 persen, dan lonjakan harga emas hingga 37 persen,” katanya.
Lalu, kinerja divisi otomotif relatif stabil dengan kenaikan laba 1 persen menjadi Rp 8,8 triliun, meski penjualan mobil nasional turun 11 persen menjadi 562.000 unit.
Baca juga : Dorong Keuangan Hijau, Aset BCA Syariah Tumbuh Hingga Rp 18,1 Triliun
Menurut Djony, pangsa pasar mobil Astra turun dari 56 persen menjadi 53 persen, sementara pangsa pasar sepeda motor tetap kuat di level 77 persen. Terutama disebabkan oleh berkurangnya pangsa pasar Daihatsu.
“Per 30 September 2025, nilai aset bersih per saham Astra naik 6 persen menjadi Rp 5.609,” ujarnya.
Kas bersih perusahaan (tidak termasuk anak usaha jasa keuangan) meningkat menjadi Rp 13,4 triliun dari Rp 8 triliun di akhir 2024.
Dia mengatakan, dalam memperkuat nilai bagi pemegang saham, Astra juga mengumumkan program pembelian kembali buyback (share buyback) dengan nilai maksimum Rp 2 triliun yang akan berlangsung dari 3 November 2025 hingga 30 Januari 2026.
Langkah serupa juga diambil oleh United Tractors dengan nilai yang sama. Kontribusi yang solid dari bisnis-bisnis lainnya diharapkan turut mendukung resiliensi kinerja Astra di periode tersebut.
Baca juga : Pendapatan Blue Bird Tumbuh 12,4 Persen Di Kuartal III 2025
Perusahaan tetap fokus untuk menjaga disiplin keuangan dan keunggulan operasional.
“Serta memanfaatkan kekuatan neraca keuangan kami untuk menangkap peluang pertumbuhan dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham,” ucapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya